— JAKARTA – Co-founder AirAsia, Tony Fernandes, angkat bicara mengenai kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah tersebut di tengah gejolak harga minyak dunia yang berdampak pada biaya avtur penerbangan internasional. Sebelumnya, AirAsia menjadi sorotan menyusul laporan yang beredar tentang status pengawasan keuangan maskapai oleh pemerintah Malaysia.

Laporan media internasional menyebutkan, pemerintah Malaysia sempat menanyakan kepada Malaysia Airlines dan Batik Air mengenai kemungkinan penyerapan pangsa pasar domestik AirAsia. Menanggapi hal tersebut, Tony Fernandes mengungkapkan bahwa likuiditas maskapai masih cukup kuat untuk menghadapi lonjakan biaya avtur.

“Likuiditas kami kuat,” ujar Tony dalam konferensi pers virtual pada Jumat (19/9/2026). Ia mencatat, AirAsia kini mengelola kas lebih dari 1 miliar ringgit atau sekitar Rp 4,36 triliun. Tony menambahkan, tantangan yang dihadapi AirAsia imbas lonjakan harga bahan bakar pesawat masih ringan dibandingkan dengan kesulitan yang telah dihadapi selama pandemi COVID-19.

Meskipun demikian, Tony mengakui bahwa maskapai menghadapi masa sulit pada kuartal kedua 2026. Namun, kondisi tersebut ia yakini bisa teratasi seiring penyesuaian tarif pada sejumlah rute untuk menutup kenaikan biaya operasional. Pada kuartal kedua, AirAsia telah mengompensasi sekitar 70% dari kenaikan harga bahan bakar melalui penyesuaian tarif dinamis dan pengendalian biaya operasional non-bahan bakar.

Grup juga secara taktis mengurangi kapasitas sebesar 20–25% pada kuartal ketiga, yang secara tradisional merupakan periode perjalanan yang lebih rendah di kawasan ini. Memasuki kuartal keempat, AirAsia tengah mempersiapkan peningkatan kembali kapasitas menuju tingkat sebelum perang, sejalan dengan periode puncak perjalanan akhir tahun di kawasan.