— JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR) sedang merambah babak baru dalam sejarah bisnisnya. Dikenal luas sebagai raksasa alat berat, kontraktor pertambangan, dan pemain utama di sektor batu bara selama puluhan tahun, perseroan kini mengarahkan pandangan pada energi baru terbarukan (EBT) sebagai mesin pertumbuhan di masa depan.

Langkah diversifikasi ini bukan berarti UNTR meninggalkan bisnis batu bara. Sebaliknya, perusahaan berupaya membangun portofolio bisnis yang lebih beragam untuk mengurangi ketergantungan pada siklus komoditas dan aktivitas pertambangan semata. Dengan begitu, pertumbuhan perusahaan diharapkan lebih stabil.

Melalui anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara (EPN), serta investasi pada PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), UNTR tengah mengembangkan berbagai lini energi bersih. Ini mencakup pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), panas bumi, hingga proyek *waste-to-energy* (WtE).

Dalam laporan tahunan 2025, UNTR secara eksplisit menyebut energi bersih sebagai salah satu pilar pertumbuhan baru. EPN dipersiapkan untuk memperluas portofolio energi bersih melalui pengembangan proyek baru maupun penjajakan peluang akuisisi. Strategi ini dijalankan dengan mempertimbangkan tantangan regulasi, kebutuhan modal, serta tuntutan adaptasi model bisnis.

Arah transformasi ini semakin nyata sepanjang 2026. Salah satu perkembangan paling konkret datang dari ARKO, perusahaan pembangkit EBT yang menjadi bagian dari ekosistem United Tractors. Setelah menambah sejumlah proyek PLTS, pada Agustus 2026 ARKO memiliki total kapasitas terkontrak sebesar 118,1 MW.

Kapasitas tersebut terdiri atas enam proyek PLTA dengan total 62,8 MW dan lima proyek PLTS dengan kapasitas 55,3 MWp. Menariknya, tiga dari lima proyek PLTS tersebut telah dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai (*battery energy storage system* – BESS) berkapasitas 28,3 MWh.

Lebih lanjut, ARKO masih memiliki daftar proyek potensial (*pipeline*) lebih dari 300 MW. Angka ini mengindikasikan bahwa ruang ekspansi bisnis EBT yang sedang dibangun UNTR masih sangat luas, jauh melampaui kapasitas yang telah terkontrak saat ini.

Transformasi ini tidak didorong oleh keinginan untuk meninggalkan batu bara secara mendadak. Manajemen UNTR secara terbuka mengakui bahwa batu bara masih memegang peranan penting dalam sistem energi nasional. Namun, perusahaan juga menyadari perlunya membangun sumber pendapatan baru.

Direktur Human Capital & Sustainability United Tractors, Ari Sutrisno, menyatakan, “Kalau batu bara tiba-tiba tidak ada, padam listrik Indonesia. Tapi kami pun juga bergerak bagaimana membangun bisnis-bisnis lain yang ke arah yang lain.” Pernyataan ini menggambarkan strategi UNTR yang lebih komprehensif.

Batu bara tetap menjadi bagian dari bisnis perusahaan, namun ketergantungan pada komoditas tersebut mulai diimbangi dengan pengembangan sektor mineral strategis dan energi terbarukan. EBT menawarkan karakteristik bisnis yang berbeda dari pertambangan batu bara.

Jika bisnis batu bara sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas, volume produksi, dan kondisi pasar global, pembangkit listrik EBT berpotensi menghasilkan arus kas berulang (*recurring cash flow*) melalui kontrak penjualan listrik jangka panjang setelah proyek beroperasi komersial. Bagi UNTR, EBT bukan sekadar upaya menurunkan emisi, melainkan peluang menciptakan mesin pendapatan baru.

Pengembangan EBT oleh UNTR terutama dilakukan melalui EPN. Sejak memulai diversifikasi, EPN telah mengembangkan PLTS atap, PLTA, sistem hibrida surya, hingga proyek *waste-to-energy* (WtE). Skala bisnis ini kemudian diperbesar melalui investasi strategis di ARKO, menunjukkan UNTR tidak hanya menggunakan EBT untuk kebutuhan internal, tetapi juga membangun bisnis pembangkitan yang menghasilkan pendapatan dari penjualan listrik.

Pada 2025, ARKO mencatat pendapatan sebesar Rp343,3 miliar, tumbuh 43,7% secara tahunan, dengan laba bersih meningkat 52,9% menjadi Rp63,9 miliar. Kinerja ini membuktikan bahwa bisnis pembangkit EBT telah memberikan hasil keuangan yang nyata.

Perkembangan signifikan lainnya datang dari PLTM Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang mulai beroperasi komersial pada Februari 2026. Pembangkit ini memiliki kontrak penjualan listrik jangka panjang dengan PLN, yang mulai memberikan kontribusi positif terhadap arus kas ARKO melalui pendapatan rutin.

Hal ini menjadi aspek penting bagi UNTR, karena proyek EBT mulai bertransformasi dari sekadar investasi dan pembangunan aset menjadi bisnis yang menghasilkan *recurring cash flow*. Semakin banyak pembangkit yang mencapai tahap *Commercial Operation Date* (COD), semakin besar pula potensi kontribusi pendapatan dan arus kas dari segmen ini.

Solar dan Baterai

Transformasi EBT UNTR juga terlihat dari ekspansi ARKO di sektor PLTS. Pada 2026, ARKO mengakuisisi 99,9% PT Endorshine Energy Solutions, yang membawa dua proyek PLTS di Batam dan Bintan dengan total kapasitas 21,3 MWp ke dalam portofolionya. Selanjutnya, ARKO menambah tiga proyek PLTS di lokasi yang sama melalui skema *operational lease* dengan kapasitas gabungan 34 MWp.

Yang membuat ekspansi ini strategis adalah penggunaan BESS sebesar 28,3 MWh. Langkah ini menunjukkan UNTR tidak hanya menambah kapasitas pembangkit surya, tetapi mulai mengintegrasikan teknologi penyimpanan energi. Menurut Direktur ARKO, Ricky Hartono, proyek-proyek ini adalah langkah baru karena untuk pertama kalinya perseroan membangun proyek PLTS dari awal sekaligus mengintegrasikan BESS.

Tujuannya adalah memperluas kapasitas sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dan mitra. Bagi UNTR, model ini berpotensi membuka pasar yang lebih luas, di mana PLTS tidak hanya menjadi proyek pemasangan panel surya di atap gedung, tetapi solusi energi terintegrasi bagi kawasan industri dan pelanggan besar.

Pipeline Potensial

Angka *pipeline* lebih dari 300 MW menjadi salah satu indikator paling menarik dari prospek EBT UNTR. Saat ini, ARKO telah memiliki kapasitas terkontrak 118,1 MW, dengan *pipeline* yang masih tersedia lebih dari 300 MW. Namun, *pipeline* ini memerlukan tahapan panjang sebelum menjadi pendapatan, mulai dari pengembangan proyek, perizinan, kontrak penjualan listrik, pembiayaan, konstruksi, hingga COD.

Perjalanan dari *pipeline* menuju proyek yang beroperasi akan menjadi tolok ukur penting bagi investor untuk menilai seberapa cepat bisnis EBT dapat memberikan kontribusi finansial kepada UNTR. Jika sebagian besar *pipeline* berhasil dieksekusi, skala bisnis pembangkit EBT dalam ekosistem United Tractors akan meningkat signifikan.

Diversifikasi sumber energi ini memberikan peluang sekaligus menyebarkan risiko bisnis. ARKO memiliki kombinasi hidro dan solar, sementara EPN juga mengembangkan proyek geothermal dan *waste-to-energy*.

Potensi Besar Geothermal

Selain hidro dan surya, UNTR memiliki eksposur terhadap panas bumi melalui Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) dengan kapasitas sekitar 91,2 MW. Panas bumi memiliki keunggulan menghasilkan listrik secara kontinu, namun membutuhkan modal besar dan memiliki risiko pengembangan tinggi.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi UNTR. Bisnis EBT menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang, namun tetap memerlukan disiplin investasi dan pengelolaan risiko. Pada semester I-2026, UNTR mencatat *non-recurring items* sekitar Rp3,3 triliun yang antara lain berkaitan dengan *impairment* pada Supreme Geothermal Energy, menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam transformasi energi bersih.

Waste-to-Energy

UNTR juga memperluas portofolio melalui proyek *waste-to-energy* Legok Nangka di Jawa Barat. EPN menjadi bagian dari konsorsium PT Jabar Environmental Solutions bersama Sumitomo Corporation dan Kanadevia Corporation. Proyek ini memiliki kapasitas sekitar 40 MW dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2029.

UNTR memberikan dukungan pembiayaan berupa pinjaman US$10 juta kepada PT Jabar Environmental Solutions. Langkah ini menunjukkan UNTR mengambil posisi dalam rantai bisnis energi yang lebih luas, di mana WtE tidak hanya menghasilkan listrik tetapi juga solusi pengelolaan sampah, yang kian dibutuhkan kota-kota besar.

Mengapa Penting?

Kebutuhan diversifikasi semakin terasa ketika melihat kinerja UNTR pada semester I-2026. Perseroan mencatat pendapatan bersih sekitar Rp58,3 triliun, turun sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bisnis alat berat dan aktivitas pertambangan menghadapi tekanan, termasuk dampak alokasi RKAB batu bara.

Kontraktor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan UNTR, disusul oleh penambangan batu bara dan alat berat. Skala bisnis berbasis pertambangan UNTR masih sangat besar, sehingga EBT belum mungkin menggantikan bisnis inti tersebut dalam waktu dekat. Namun, justru di situlah letak pentingnya strategi diversifikasi.

UNTR memiliki kesempatan memanfaatkan kekuatan finansial, pengalaman proyek, kemampuan *engineering*, serta jaringan Grup Astra untuk membangun bisnis baru sebelum transisi energi semakin masif. Transformasi ini memiliki sasaran lebih besar dari sekadar membangun pembangkit.

Dalam *Sustainability Report* 2025, UNTR menargetkan 50% pendapatan berasal dari bisnis non-batu bara pada 2030. Target ini mencakup berbagai bisnis di luar batu bara, termasuk emas, nikel, mineral strategis, konstruksi, dan energi terbarukan. Posisi EBT semakin penting karena manajemen menyebutnya sebagai salah satu pilar pertumbuhan baru.

Transformasi UNTR dapat dipahami sebagai perubahan struktur portofolio dari perusahaan yang sangat lekat dengan alat berat dan batu bara, menjadi perusahaan dengan portofolio yang mencakup alat berat, jasa pertambangan, mineral, konstruksi, dan energi. Kesamaan dari berbagai proyek EBT UNTR adalah upaya membangun bisnis yang memiliki pendapatan lebih berulang.

PLTA menghasilkan pendapatan dari PPA jangka panjang, PLTS menjadi solusi energi bagi kawasan industri, BESS membuka peluang layanan penyimpanan energi, dan WtE menggabungkan pengolahan sampah serta pembangkitan listrik. Karakteristik ini berbeda dengan bisnis komoditas yang sangat bergantung pada harga pasar, di sinilah letak potensi “mesin cuan” baru UNTR.

EBT mungkin tidak langsung menghasilkan laba sebesar bisnis batu bara. Namun, semakin banyak pembangkit yang beroperasi dan semakin besar kontrak jangka panjang yang dimiliki, semakin besar peluang EBT memberikan kontribusi pendapatan dan arus kas yang relatif lebih stabil.

Pada 2025, pendapatan ARKO tumbuh 43,7% dan laba bersih meningkat 52,9%. Pada 2026, Kukusan 2 mulai berkontribusi pada arus kas dari pendapatan listrik kepada PLN. Kapasitas terkontrak diperbesar menjadi 118,1 MW dan *pipeline* dipertahankan di atas 300 MW, menunjukkan bahwa EBT perlahan mulai memiliki ukuran bisnis yang terukur.