DailyFX.ID — Kenaikan klasifikasi pasar saham Vietnam dari frontier market menjadi emerging market oleh FTSE Russell pada 21 September 2026 menjadi perhatian serius bagi pasar saham Indonesia. Perubahan ini berpotensi meningkatkan persaingan dalam menarik arus dana asing ke negara dengan ideologi komunis tersebut.
Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan bahwa peningkatan status Vietnam dapat menarik aliran dana asing hingga US$6 miliar, atau sekitar Rp107,21 triliun, ke pasar sahamnya. Angka ini menunjukkan potensi besar yang bisa bergeser dari pasar negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia.
Meskipun pada pekan lalu tercatat net buy asing di pasar saham Vietnam sekitar VND2,7 triliun (US$104 juta), secara kumulatif asing masih mencatatkan net sell sebesar VND91 triliun. Kondisi ini berbeda dengan pasar saham Indonesia yang telah mencatat net sell sebesar Rp101,83 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) dan Rp3,08 triliun dalam sepekan terakhir.
Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menekankan pentingnya Indonesia mewaspadai langkah Vietnam. Ia menilai, masuknya Vietnam ke dalam kelompok emerging market akan membuat kompetisi dalam memperebutkan dana investor asing semakin ketat.
“Ketika Vietnam masuk emerging market, sebagian dana yang mengikuti indeks FTSE otomatis mulai mendapatkan eksposur ke Vietnam sehingga secara marginal bisa terjadi rebalancing dari pasar emerging lain termasuk Indonesia,” jelas Budi.
Namun, Budi tidak memprediksi akan terjadi capital outflow dalam nilai jumbo dari Indonesia secara langsung. Hal ini disebabkan oleh proses inklusi Vietnam yang dilakukan secara bertahap dengan bobot yang masih relatif kecil. Dampak jangka panjang yang lebih signifikan adalah bagaimana Vietnam kini menjadi alternatif investasi yang semakin kredibel bagi perusahaan manajer investasi global.
Fenomena ini seharusnya menjadi sebuah ‘wake-up call’ bagi Indonesia untuk terus berupaya memperbaiki likuiditas pasar modal dan kemudahan akses bagi investor asing. Persaingan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas dan ‘investability’ pasar modal.
“Bagi Indonesia, ancaman utamanya bukan capital outflow sesaat, melainkan kompetisi jangka panjang dalam memperebutkan alokasi dana emerging market global,” tegas Budi.
Tantangan Utama
Sejalan dengan kenaikan status Vietnam, perusahaan manajer investasi asal Amerika Serikat, Vanguard, dikabarkan berencana menambah investasinya di Vietnam hingga sekitar US$2,5 miliar dalam beberapa tahun mendatang.
BRI Danareksa Sekuritas dalam catatannya menyebutkan tantangan utama yang masih dihadapi Vietnam meliputi ‘foreign ownership limit’, ‘free float’, serta kesiapan lembaga kliring (CCP clearing). Faktor-faktor ini juga krusial bagi peluang upgrade indeks MSCI di masa depan.
Bloomberg melaporkan bahwa FTSE akan menaikkan status pasar saham Vietnam dalam empat tahap selama 12 bulan ke depan. Tahap pertama, saham-saham Vietnam akan dimasukkan dalam indeks global dengan bobot investabilitas 10% mulai Senin. Tahap berikutnya akan meningkat menjadi 30% pada Maret 2027, kemudian 65% pada Juni 2027, dan mencapai 100% pada September 2027.
Ikuti DailyFX.ID
