— Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham yang dinilai masih relevan untuk investasi hingga akhir tahun 2026. Rekomendasi ini dikeluarkan di tengah kondisi tekanan suku bunga yang tinggi dan volatilitas pasar yang berlanjut. Keenam saham tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa keenam saham ini dipilih karena menawarkan kombinasi strategi lindung nilai komoditas, kinerja yang bersifat defensif, eksposur terhadap bank-bank besar, serta potensi arus kas berulang atau recurring cash flow.

Kiwoom Sekuritas telah menetapkan target harga untuk masing-masing saham. Target harga untuk ANTM dipatok Rp 4.800, KLBF Rp 970, BBNI Rp 4.100, BBRI Rp 3.600, JSMR Rp 3.850, dan BRIS Rp 2.700.

Liza menekankan bahwa di era suku bunga tinggi seperti saat ini, investor perlu lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Perhatian sebaiknya diarahkan pada perusahaan yang memiliki neraca keuangan yang sehat, mampu mencatatkan laba yang nyata, memiliki valuasi yang masuk akal, dan didukung oleh likuiditas yang baik.

“Di era suku bunga tinggi, kami lebih pilih quality first, yakni balance sheet sehat, earnings nyata, valuasi masuk akal, dan likuiditas baik,” ujar Liza dalam catatan risetnya.

Lebih lanjut, Liza menyarankan investor untuk menghindari emiten yang memiliki tingkat utang tinggi, free float rendah, serta narasi pertumbuhan yang belum didukung oleh perolehan laba yang solid. Strategi investasi yang lebih tepat adalah melakukannya secara bertahap, terutama ketika valuasi dan perbandingan antara risiko dengan potensi imbal hasil sudah menunjukkan daya tarik.

Dari sisi pasar secara umum, kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) dan potensi kenaikan lanjutan masih menjadi bayang-bayang bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tekanan ini terutama berasal dari imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury 10-Year (US10Y) yang menembus level 5%, pergerakan nilai tukar rupiah, serta pola arus dana asing yang masuk ke pasar domestik.

Pandangan Terhadap IHSG dan Sektor Unggulan

Kiwoom Sekuritas untuk sementara waktu mempertahankan target IHSG di level 7.250–7.700 untuk tahun 2026. Namun, pandangan saat ini cenderung lebih konservatif, dengan harapan IHSG setidaknya dapat ditutup pada level psikologis 7.000 hingga 7.200, asalkan nilai tukar rupiah dan risiko sovereign (kedaulatan negara) tetap terkendali.

Menurut Liza, kondisi suku bunga yang tinggi cenderung memberikan tekanan pada sektor properti, barang konsumsi non-primer, serta emiten dengan beban utang tinggi karena biaya pendanaan yang meningkat. Sebaliknya, sektor-sektor seperti perbankan besar, telekomunikasi, barang konsumsi primer, energi dan komoditas, serta perusahaan dengan arus kas yang kuat dinilai relatif lebih defensif.

Liza menambahkan bahwa rotasi pasar ke depan akan lebih mengarah pada kualitas dan visibilitas laba, bukan sekadar mengejar narasi pertumbuhan semata. Oleh karena itu, Kiwoom Sekuritas tetap mengutamakan sektor perbankan, telekomunikasi, konsumer, energi, dan infrastruktur sebagai sektor yang potensial untuk dipertimbangkan investor.