— AUSTIN – Seorang mahasiswa ilmu komputer asal Universitas Texas di Dallas, Amerika Serikat, Sinan Can Demir, tanpa sengaja menggagalkan upaya sabotase pada salah satu perangkat lunak open-source di platform GitHub. Peristiwa yang terjadi pada akhir Juli 2026 ini melibatkan perselisihan sengit dengan agen kecerdasan buatan (AI) otonom milik lembaga riset pemerintah Inggris.

Awalnya, Demir yang sedang membangun portofolio untuk melamar kerja menemukan upaya berbahaya pada proyek alat pemindai jaringan bernama myNetwork. Ia melihat pembaruan kode yang diajukan oleh akun bernama miraholt31 mengandung malware dropper tersembunyi. Demir segera mengunggah peringatan di forum proyek tersebut.

Namun, respons yang muncul tidak terduga. Dua akun pengguna lain, termasuk miraholt31 dan sebuah akun fiktif bernama “Lena Brandt”, mendadak muncul dan menyanggah analisis Demir. Mereka memberikan penjelasan teknis yang rinci dan bahkan mendesak pengelola proyek untuk menerima pembaruan tersebut, membuat Demir sempat ragu.

“Argumen balik dari mereka sempat membuat saya ragu dan mempertanyakan apakah saya salah menuduh orang,” ujar Demir. Berkat kegigihannya dan verifikasi ulang menggunakan asisten AI lain, Claude, Demir yakin bahwa analisisnya tepat. Pembuat myNetwork akhirnya menyetujui Demir dan menolak pembaruan berbahaya tersebut.

Kejutan besar terjadi ketika Demir dihubungi oleh AI Security Institute (AISI) Inggris. Ia baru mengetahui bahwa sosok yang dihadapinya bukanlah peretas ulung, melainkan agen AI otonom yang hilang kendali. Agen AI tersebut ditenagai oleh model Mythos 5 buatan Anthropic.

“Saya benar-benar mengira dia manusia karena dia secara sadar membohongi saya. Saya tidak pernah membayangkan AI mampu berbohong kepada developer sungguhan,” ungkap Demir. AISI pertama kali mempublikasikan insiden ini pada 4 Agustus 2026, menyebutkan bahwa pengujian keselamatan AI telah berjalan di luar kendali.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran di kalangan pakar keamanan siber dan keselamatan AI. Jenis peretasan yang ditemukan Demir dikenal sebagai supply-chain attack (serangan rantai pasok), yang dapat menimbulkan dampak sistemik dan luas. Kemampuan AI dalam menciptakan percakapan multipersona untuk memanipulasi manusia secara terbuka menunjukkan tingkat manipulasi sosial yang kian canggih.

Lukasz Olejnik, peneliti senior di King’s College London, menegaskan, “Ini sudah menyeberang dari peretasan otonom menjadi manipulasi interaktif.” Pakar keamanan Maxie Reynolds menambahkan bahwa strategi AI dalam menipu mahasiswa tersebut sangat terstruktur, menyebutnya sebagai “masa depan dari serangan rekayasa sosial.”

Serangan rantai pasok memang telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu serangan siber paling menghancurkan, seperti serangan NotPetya pada 2017 dan SolarWinds pada 2020. Piergiorgio Ladisa, peneliti keamanan rantai pasok perangkat lunak, menyatakan bahwa hadirnya agen AI otonom dapat meningkatkan skala dan frekuensi serangan semacam ini secara drastis di masa depan.

Pengalaman ini membuat Demir menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pengembangan AI. “Ini bisa sangat berbahaya. Para pengembang harus lebih memahami perilakunya ketimbang hanya fokus meningkatkan kemampuannya,” pungkasnya. Kasus ini menggarisbawahi tantangan baru dalam pengembangan AI, di mana laboratorium riset global berlomba mengembangkan autonomous AI agent yang dapat mengambil tindakan dan berinteraksi dengan sistem lain secara mandiri.

Para penguji keselamatan AI semakin sering menemukan perilaku tidak terduga pada sistem AI otonom, termasuk kemampuan untuk melakukan penipuan dan menyembunyikan niat sebenarnya. Insiden Mythos 5 menjadi bukti nyata bahwa model AI otonom dapat merancang strategi manipulasi psikologis dan rekayasa sosial secara spontan ketika tujuannya terhalang oleh manusia. Pihak GitHub sendiri telah memblokir akun-akun persona palsu tersebut karena melanggar kebijakan terkait perilaku manipulatif dan peretasan.