DailyFX.ID — Upaya industrialisasi atau hilirisasi di sektor peternakan unggas dapat menjadi solusi jangka menengah hingga panjang untuk mengatasi anjloknya harga telur dan daging ayam di tingkat peternak. Ketika produksi melimpah hingga harga jatuh, industri hilir dapat menyerap komoditas tersebut untuk diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi.
Untuk jangka pendek, peningkatan harga telur dan daging ayam di peternak dapat dioptimalkan melalui penyerapan oleh Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), serta distribusi produk dari wilayah surplus ke defisit.
Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Abra Talattov, menyatakan bahwa Indonesia telah swasembada delapan komoditas, termasuk telur dan daging ayam. Namun, salah satu ekses dari swasembada ini adalah anjloknya harga pembelian di tingkat peternak. Hal ini perlu segera dibenahi oleh pemerintah agar tidak memicu demotivasi para peternak unggas.
“Betul, telur dan daging ayam itu, seperti diklaim oleh Presiden Prabowo Subianto, telah swasembada, dalam artian memang produksinya melimpah. Dari sisi konsumen, untung, tapi di sisi peternak harganya anjlok,” kata Abra. Ia menambahkan bahwa redistribusi suplai dari daerah surplus ke defisit dan manajemen stok, termasuk downstreaming atau industrialisasi, menjadi kunci penanganan masalah ini.
Dalam diskusi publik Indef bertajuk Tanggapan Atas Pidato Presiden dan Pembacaan Nota Keuangan RAPBN 2027, Abra menjelaskan bahwa industrialisasi tidak hanya berlaku bagi sektor peternakan unggas, tetapi juga pertanian umum. Contohnya komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang yang memiliki periode segar terbatas dan mudah rusak.
“Di peran industri ini, pemerintah bisa melakukan pengolahan komoditas-komoditas pertanian dan peternakan, ketika terjadi fase panen sehingga surplusnya berlebihan, hasilnya bisa disimpan dan diolah sehingga nantinya bisa digunakan saat kita memang sedang terjadi defisit (kurang/paceklik),” jelasnya.
Untuk sektor telur, lanjut Abra, fokus di hulu tetap pada peningkatan produksi dan produktivitas. Sementara itu, pemerintah bertugas menciptakan insentif bagi peternak, termasuk melalui penyerapan optimal, terutama lewat industrialisasi. “Selain memaksimalkan peran SPPG, KDKMP, dan redistribusi suplai ke wilayah defisit,” imbuhnya.
Kantor Staf Presiden (KSP) juga menyoroti harga telur ayam yang anjlok di bawah harga acuan. Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Popy Rufaidah menyatakan bahwa rerata harga telur ayam ras terkini Rp26.215 per kilogram (kg), turun dari minggu lalu yang Rp26.353 per kg. “Harga telur ayam ras di bawah HAP (harga acuan di peternak), kembali turun dari minggu lalu, menekan peternak, disparitas tinggi 27,39%, sehingga masuk zona tidak aman,” ungkapnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah pada 24 Agustus 2026.
Popy menambahkan bahwa pengendalian harga pangan harus berbasis komoditas dan wilayah. Ketika harga terlalu rendah, perhatian perlu diarahkan pada penyerapan produksi dan perlindungan keberlanjutan usaha petani/peternak. Khusus telur, pemerintah perlu memperkuat penyerapan saat harga di produsen tertekan. Rekomendasi KSP untuk mengangkat harga telur antara lain mendorong kerja sama antardaerah (KAD) guna menggeser suplai dari wilayah harga rendah ke tinggi, serta penguatan sinergi dengan SPPG (BGN).
Harga Beras
Dalam rakor inflasi yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hampir semua komoditas pangan masuk ke level rendah. Namun, beberapa komoditas perlu perhatian karena level harganya sudah relatif sedang hingga tinggi. Direktur Statistik Harga BPS Sarpono memaparkan, komoditas yang perlu diwaspadai adalah beras dan minyak goreng (migor).
“Komoditas yang perlu diwaspadai itu beras dan migor. Kenaikan harga beras di lebih dari 132 daerah (kabupaten/kota di minggu ketiga Agustus 2026 dari minggu kedua 120 daerah), perlu jadi perhatian serius karena dampaknya ke inflasi dan daya beli masyarakat jauh lebih besar dari komoditas lainnya,” jelas Sarpono. Secara umum, harga beras medium dan premium naik sangat tipis. Hingga minggu ketiga Agustus 2026, harga beras medium naik 0,27% (rerata Rp14.520 per kg) dan premium naik 0,23% (rerata Rp16.368 per kg) dari Juli 2026.
Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Perum Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, menyatakan bahwa Bulog telah menindaklanjuti kabupaten/kota yang mengalami perbaikan IPH di minggu ketiga Agustus 2026, antara lain melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Per 23 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP mencapai 687.951 ton atau 83,09% dari target, dengan rata-rata distribusi sekitar 7.000-8.000 ton per hari.
Penyaluran yang telah mencapai target di sejumlah wilayah terus diperkuat. Sementara itu, wilayah dengan realisasi rendah dan kenaikan harga menjadi prioritas monitoring dan intervensi Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok. “Dapat kami sampaikan bahwa untuk rata-rata penyaluran beras SPHP sendiri di Agustus ini telah mencapai 7.000-8.000 ton per hari dibandingkan sebelum-sebelumnya yang hanya 3.000-4.000 ton per hari. Kami terus mensuplai beras ke pasar-pasar rakyat,” tandasnya.
Ikuti DailyFX.ID
