— Pemerintah Indonesia mendorong industri otomotif nasional untuk segera mengadopsi perkembangan terkini dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi semikonduktor. Langkah ini dinilai krusial untuk menopang pertumbuhan industri otomotif di masa depan, dengan penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan ekosistem rantai pasok yang kokoh sebagai faktor penentu utama.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa daya saing industri manufaktur, termasuk otomotif, dibangun dari perpaduan ketiga elemen tersebut. Hal ini terungkap dalam diskusi bisnis bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya.

“Dari rangkaian kunjungan dan pertemuan bisnis di Nagoya ini memperlihatkan satu benang merah yang jelas bahwa daya saing industri dibangun dari perpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok yang kokoh,” ujar Susiwijono dalam Business Discussion Lunch di Nagoya, Minggu (20/9/2026).

Penguatan fondasi ini merupakan bagian dari upaya Indonesia menghadapi pesatnya perkembangan teknologi. Sektor otomotif semakin bergantung pada komponen semikonduktor dan teknologi cerdas, sehingga penting bagi Indonesia untuk memperkuat keterhubungannya dengan ekosistem teknologi global.

Indonesia telah mengambil langkah strategis dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi ARM sejak awal 2026 dan menjadi anggota World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Pemerintah juga sedang menjajaki komunikasi lebih lanjut dengan PAX Silica untuk memperluas kolaborasi di bidang teknologi.

Keikutsertaan dalam berbagai kerja sama dan forum global ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia, khususnya dalam mendukung perkembangan industri otomotif yang semakin membutuhkan teknologi berbasis AI dan semikonduktor. Selain penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok dan kapasitas SDM juga dinilai esensial agar industri nasional mampu menangkap peluang dari perubahan teknologi ini.

Pemerintah juga telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Rencananya, Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan segera memasuki tahap implementasi setelah proses ratifikasi yang dijadwalkan mulai November 2026, dengan target implementasi Januari 2027. Perluasan akses pasar ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing industri nasional sekaligus membuka peluang ekspor.

Belajar dari Pengalaman Toyota

Dalam kunjungan ke Jepang, pemerintah turut mempelajari pengalaman Toyota dalam membangun kapabilitas industri. Pengalaman ini menjadi masukan berharga untuk memperkuat daya saing industri otomotif nasional, terutama melalui pengembangan teknologi, SDM, dan rantai pasok.

Susiwijono melihat Toyota sebagai contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. “Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” katanya.

Perjalanan Toyota dalam mengembangkan kapabilitas industrinya sangat relevan dengan upaya Indonesia saat ini. Hubungan Toyota dengan Indonesia telah terjalin selama lebih dari lima dekade dan berkontribusi signifikan pada perkembangan industri otomotif nasional. Toyota Indonesia telah memproduksi 10 juta unit kendaraan, dengan lebih dari 3 juta unit diekspor ke lebih dari 100 negara. Investasi Toyota Group di Indonesia mencapai sekitar Rp 100 triliun, melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja.

Tingkat kandungan lokal dalam ekosistem produksi Toyota di Indonesia telah mencapai lebih dari 80%, didukung oleh lebih dari 240 pemasok Tier-1 dan sekitar 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3. Capaian ini menunjukkan transformasi Indonesia dari pasar otomotif menjadi basis produksi dan ekspor global Toyota.

Transformasi Menuju Kendaraan Elektrifikasi

Ke depan, penguatan ekosistem industri menjadi semakin penting seiring dengan transformasi industri otomotif menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan kendaraan elektrifikasi membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas rantai nilai industri, termasuk dalam pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan SDM.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” ujar Susiwijono.

Sebagai langkah konkret, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada April 2026 mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia senilai Rp 1,3 triliun. Produksi ini mencakup pengembangan sel dan modul baterai, dengan Indonesia diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai semester II 2026.

Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kemampuan industri dalam menghadapi perubahan teknologi. Kunjungan Susiwijono ke Toyota Chemical & Material Inspection Technology (TCMIT) juga menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog terkait pengembangan industri manufaktur, inovasi teknologi, rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan perluasan ekspor.