DailyFX.ID — Pemanfaatan teknologi dashcam berbasis kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya berfungsi untuk merekam kejadian di jalan, tetapi juga mulai diarahkan untuk mendeteksi perilaku berkendara yang berisiko. Pendekatan ini bertujuan mencegah kecelakaan sebelum terjadi.
Salah satu inovasi yang menerapkan teknologi ini adalah AI Dash Pro dari Cartrack, yang telah diluncurkan di Indonesia. Perangkat ini dirancang untuk mengidentifikasi berbagai potensi bahaya saat kendaraan beroperasi. Beberapa risiko yang dapat dideteksi meliputi kelelahan pengemudi, distraksi, penggunaan telepon seluler saat berkendara, serta menjaga jarak aman dengan kendaraan lain.
Ketika sistem mendeteksi adanya potensi bahaya, pengemudi akan menerima peringatan melalui suara dan getaran pada kursi. Bersamaan dengan itu, manajer armada juga akan menerima notifikasi. Pemberitahuan ini memungkinkan mereka untuk segera mengambil tindakan, seperti meminta pengemudi untuk beristirahat jika terindikasi mengalami kelelahan.
Teknologi semacam ini menjadi semakin relevan bagi operator armada, mengingat faktor manusia masih menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Data Kepolisian Negara Republik Indonesia menunjukkan bahwa faktor manusia berkontribusi pada sekitar 95% dari 148.798 kecelakaan lalu lintas yang tercatat sepanjang 2023. Kecelakaan tersebut mengakibatkan lebih dari 22.000 orang meninggal dunia.
Bagi perusahaan logistik dan operator angkutan, risiko kecelakaan tidak hanya menimbulkan kerugian finansial dari biaya perbaikan kendaraan, tetapi juga berdampak pada kelancaran operasional. Kerugian ini mencakup waktu henti operasional (downtime), kerusakan muatan, keterlambatan pengiriman, hingga peningkatan biaya asuransi.
Oleh karena itu, pemantauan perilaku pengemudi menjadi salah satu aspek krusial dalam pengelolaan armada modern.
Deteksi Risiko Secara Real Time
Berbeda dengan dashcam konvensional yang umumnya hanya merekam kejadian, teknologi berbasis AI memungkinkan analisis perilaku pengemudi secara waktu nyata (real time). Selain memberikan peringatan langsung kepada pengemudi, rekaman kejadian yang dinilai berisiko dapat disimpan secara otomatis. Data ini kemudian dihubungkan dengan lokasi kendaraan dan riwayat perjalanan.
Data tersebut sangat berharga bagi pengelola armada untuk meninjau kejadian secara objektif. Informasi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi dan pelatihan bagi para pengemudi. Sistem ini bahkan dapat menyusun driver scorecard berdasarkan pola berkendara.
Informasi ini membantu perusahaan mengidentifikasi pengemudi yang memerlukan pelatihan tambahan serta jenis perilaku berkendara yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, pembinaan pengemudi tidak hanya didasarkan pada laporan setelah kejadian, melainkan juga pada data dan rekaman selama perjalanan.
Chief Strategy & Marketing Officer Cartrack, Carmen Calisto, menyatakan bahwa keselamatan pengemudi memiliki kaitan langsung dengan keberlangsungan operasi armada. Di pasar yang kompetitif dan sensitif terhadap harga seperti Indonesia, keselamatan bukan lagi sekadar isu kepatuhan. Keselamatan secara langsung memengaruhi biaya perusahaan, reputasi, dan kemampuan mempertahankan pelanggan.
Menurut Carmen, kemampuan mendeteksi kelelahan dan distraksi saat kendaraan masih berjalan memberikan kesempatan bagi pengemudi dan pengelola armada untuk mengambil tindakan pencegahan sebelum kecelakaan terjadi. “Di balik setiap statistik kecelakaan terdapat pengemudi atau pengguna jalan yang tidak sampai kembali ke rumah, dan begitu banyak kecelakaan tersebut sebenarnya dapat dicegah. Operator armada dan penyedia teknologi memiliki tanggung jawab bersama untuk mengambil tindakan. AI Dash Pro mengidentifikasi risiko seperti kelelahan dan distraksi saat risiko tersebut terjadi, sehingga pengemudi dapat bertindak sebelum risiko berkembang menjadi kecelakaan, sementara manajer akhirnya memiliki bukti yang jelas untuk membina tim mereka. AI Dash Pro membantu fleet beralih dari sekadar merekam apa yang salah menjadi mencegahnya,” jelas Carmen.
Pemantauan Armada dan Muatan
Teknologi dashcam ini juga dapat diintegrasikan dengan hingga tiga kamera tambahan. Integrasi ini memungkinkan pemantauan berbagai sisi kendaraan, tidak hanya kamera yang menghadap pengemudi dan jalan, tetapi juga kamera untuk mengawasi area muatan, pintu kargo, atau tangki bahan bakar.
Fitur ini memperluas fungsi pemantauan dari aspek keselamatan pengemudi menjadi pengawasan terhadap kendaraan dan muatan selama perjalanan. Hal ini sangat relevan bagi sektor logistik yang menghadapi biaya operasional relatif tinggi. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia memperkirakan bahan bakar dapat menyumbang sekitar 40% hingga 60% terhadap biaya logistik.
Oleh karena itu, pemantauan kendaraan secara terintegrasi dapat digunakan tidak hanya untuk mengevaluasi aspek keselamatan, tetapi juga membantu perusahaan mengawasi potensi kehilangan atau penyalahgunaan aset selama operasional.
Cartrack melaporkan bahwa penerapan teknologi pemantauan berbasis AI yang dikombinasikan dengan program pembinaan pengemudi telah diadopsi oleh sejumlah operator. Salah satu operator logistik di Indonesia yang menggunakan teknologi AI Vision bersama program pembinaan pengemudi mencatat penurunan insiden terkait keselamatan sebesar 31%.
Sementara itu, Lintas Shuttle dilaporkan mencatat penurunan kecelakaan hingga 60% setelah menggunakan pendekatan pembinaan pengemudi berbasis data. Angka-angka tersebut merupakan hasil yang disampaikan oleh perusahaan terkait dan dapat bervariasi tergantung pada kondisi operasional, karakter armada, serta penerapan sistem di masing-masing perusahaan.
Seiring meningkatnya aktivitas logistik dan mobilitas kendaraan komersial, penggunaan teknologi pemantauan berbasis AI berpotensi menjadi instrumen tambahan yang signifikan untuk memperkuat keselamatan berkendara.
Ikuti DailyFX.ID
