— PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank) menjajaki kolaborasi dengan JAFF untuk memperkuat kesiapan finansial para pekerja di industri kreatif, khususnya sektor perfilman. Langkah ini dilakukan melalui integrasi tata kelola berbasis teknologi, dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia yang berkelanjutan.

Meskipun industri film memiliki nilai ekonomi yang besar, tidak semua pekerja di dalamnya memiliki profil keuangan yang layak mendapat layanan perbankan. Kendala utama bukan pada ketersediaan produk finansial, melainkan pada karakter kerja yang sulit diukur secara presisi untuk menilai risiko dan kelayakan kredit.

Persoalan ini menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan Amar Bank bersama JAFF Market dan sejumlah asosiasi profesi film, termasuk Indonesian Film Director Club (IFDC), Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR), Indonesian Film Editor (INAFEd), Indonesian Cinematographers Society (ICS), dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI). Diskusi ini mengupas tantangan finansial di tingkat profesi yang belum terhubung dengan layanan keuangan, sebuah aspek yang kerap terabaikan dalam gambaran pertumbuhan industri film secara keseluruhan.

Diskusi lintas industri ini merespons potensi besar ekonomi kreatif Indonesia yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional. Sektor ini diproyeksikan menyerap 27,4 juta pekerja pada 2025, melampaui target 25,55 juta orang. Industri film menjadi salah satu subsektor dengan efek berganda yang luas.

Pertumbuhan sektor perfilman nasional tidak hanya membuka peluang bagi sineas dan aktor, tetapi juga bagi penulis, editor, kameramen, kru produksi, vendor, serta berbagai sektor pendukung lainnya.

Melalui diskusi tersebut, Amar Bank menyimpulkan bahwa pendekatan finansial untuk industri film perlu disesuaikan dengan karakteristik usahanya. Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menekankan pentingnya langkah ini agar pertumbuhan industri film dapat berjalan selaras dengan penguatan finansial para pelakunya.

“Industri film memiliki siklus yang berbeda dari sektor konvensional. Mulai dari fase pengembangan, kebutuhan investasi di awal, hingga distribusi dan monetisasi. Karena itu, pola pertumbuhan dan arus kasnya tidak bisa disamakan dengan sektor konvensional. Bagi kami, memahami cara industri ini bekerja menjadi penting agar potensi ekonominya dapat dilihat secara lebih utuh,” ujar Josua dalam keterangan resmi, Selasa (22/9/2026).

Direktur Bisnis JAFF Market, Sekarini Seruni, menambahkan apresiasinya terhadap komitmen Amar Bank. “Kami mengapresiasi komitmen Amar Bank untuk memahami karakter kerja industri film secara lebih utuh. Bagi JAFF Market, kolaborasi ini penting karena industri film tidak hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang bagaimana orang dan usaha di baliknya dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Karya yang kuat juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat,” tuturnya.

Selanjutnya, Amar Bank dan JAFF Market berencana melanjutkan kolaborasi untuk memperkuat kapasitas profesi di industri film serta membuka diskusi mengenai kekayaan intelektual sebagai aset ekonomi yang dapat memperluas peluang pendanaan produktif di industri kreatif.