— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Pada perdagangan Senin sore, rupiah ditutup melemah 58 poin atau 0,33% ke level Rp 17.669 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan fluktuatif namun diprediksi berada di rentang Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.660 – Rp 17.710 per dolar AS,” ungkap Ibrahim.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini merupakan antisipasi pasar terhadap pelantikan Suahasil Nazara yang menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam perombakan Kabinet Merah Putih pada Senin, 14 September 2026. “Reshuffle yang terjadi secara mendadak ini akan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), jika sekarang ditutup sedikit lebih bagus ada kemungkinan pada pembukaan perdagangan besok pagi mengalami pelemahan, bersamaan dengan mata uang rupiah,” katanya.

Ibrahim menyebutkan, salah satu faktor pemicu pelemahan rupiah buntut pergantian Menteri Keuangan adalah isu ketidakpastian fiskal. “Kita melihat bahwa pergantian Menteri Keuangan secara mendadak dari Purbaya memicu kekhawatiran pelaku pasar, termasuk investor asing mengenai kesinambungan kebijakan anggaran pemerintah ke depan, salah satunya terkait defisit anggaran dan minyak mentah,” imbuhnya.

Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi risiko dari dampak geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada harga minyak dunia serta prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed). “Pasar kini memperhitungkan adanya kemungkinan sekitar 88% bagi kenaikan suku bunga di bulan September. Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu, melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut,” beber Ibrahim.