DailyFX.ID — Harga emas dunia masih menghadapi tekanan setelah reli pascarapat The Fed pekan lalu mulai memudar. Kenaikan ekspektasi suku bunga, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) menjadi beban bagi logam mulia.
Harga emas pada Jumat (25/9/2026) pagi, terlihat melemah tipis 0,03% ke level US$ 4.272,44 per ons troi saat berita ditulis.
Market Analyst StoneX Fawad Razaqzada menilai, tekanan terhadap emas masih dapat berlanjut apabila kondisi makroekonomi tidak mengalami perubahan mendasar. Menurut dia, kenaikan harga minyak dan lonjakan yield obligasi membuat prospek emas tetap berada dalam tekanan.
“Emas dan perak sama-sama tertekan dan logam mulia berpotensi melanjutkan penurunan,” kata Razaqzada dalam analisisnya.
Razaqzada memaparkan, kenaikan yield membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang emas meningkat karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Kondisi ini biasanya membuat emas kurang menarik dibandingkan aset berbasis yield.
Yield obligasi AS 10 tahun bahkan melonjak menembus 5%, sementara yield tenor 30 tahun kembali menguji level tertinggi sejak 2007. Pergerakan tersebut diikuti penurunan harga emas sekitar 1,5% dalam sehari.
Selain yield obligasi, lanjut Razaqzada, dolar AS juga terus menguat. Penguatan dolar AS mendapat dukungan dari data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan serta pernyataan pejabat The Fed yang masih hawkish.
Indeks S&P Global US Composite PMI meningkat menjadi 58,4 pada September 2026 dari 56,0 pada Agustus, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juli 2021. Penguatan terutama ditopang sektor jasa dan peningkatan perekrutan tenaga kerja.
Namun, dunia usaha juga melaporkan kenaikan biaya input. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan memberikan alasan bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Razaqzada menilai cerita The Fed masih menjadi faktor dominan bagi dolar AS. Pejabat bank sentral AS yang hawkish dinilai masih mampu menjaga permintaan terhadap dolar, sementara data ekonomi yang solid turut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan.
Emas Intip US$ 4.000
Dari sisi teknikal, Razaqzada melihat tekanan terhadap emas semakin kuat. Reli yang terbentuk setelah harga menembus pola falling wedge belum mendapatkan konfirmasi lanjutan karena emas gagal melanjutkan penguatan secara signifikan.
Kondisi tersebut membuat sebagian trader yang masuk saat harga menembus pola tersebut berpotensi terjebak. Sejumlah stop-loss diperkirakan berada di bawah level terendah terbaru, sekitar US$ 4.235 per ons troi. “US$ 4.235 per ons troi menjadi level yang saya perkirakan akan dituju emas berikutnya,” jelas Razaqzada.
Razaqzada menambahkan, jika support tersebut ditembus, emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$ 4.100 per ons troi dan kemudian US$ 4.000 per ons troi.
Secara lebih besar, Razaqzada mengatakan, emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish sejak mencapai rekor tertinggi pada Januari. Pola lower highs dan lower lows juga belum berubah menjadi sinyal pembalikan tren bullish.
Di sisi atas, area US$ 4.300 – 4.325 per ons troi menjadi resistance terdekat, disusul US$ 4.400 per ons troi. Razaqzada menilai emas setidaknya perlu menembus US$ 4.400 per ons troi pada basis penutupan sebelum tekanan bearish dapat mereda.
Ikuti DailyFX.ID
