DailyFX.ID — Analis dan pengamat pasar di Wall Street kembali mengeluarkan pandangan optimis terhadap pergerakan harga emas untuk pekan depan. Pandangan ini muncul meskipun kinerja emas pada pekan ini tergolong lemah.
Survei mingguan yang disusun Kitco News menunjukkan bahwa analis Wall Street memiliki pandangan beragam mengenai arah pergerakan emas dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar ritel atau Main Street tetap mempertahankan sinyal bullish atau optimisme harga akan naik.
“Saya memandang positif prospek emas untuk minggu depan dengan asumsi bahwa pendulum ekspektasi terhadap kebijakan The Fed telah mencapai titik terjauh dari pergerakannya, dan rangkaian data penting AS berikutnya akan memperkuat pandangan tersebut,” ujar Marc Chandler, Direktur Pelaksana di Bannockburn Global Forex. Menurutnya, data deflator PCE bulan Agustus yang akan dirilis pekan depan, yang mencakup penyesuaian metodologis untuk menurunkan angka inflasi, serta pertumbuhan lapangan kerja bulan September yang diperkirakan lebih lemah, akan mendukung pandangan ini.
Chandler menambahkan, “Meski demikian, harga emas harus melampaui level US$ 4.400 agar pergerakannya dianggap signifikan.”
Pandangan serupa disampaikan oleh analis pasar senior di Barchart.com, Darin Newsom. Ia melihat adanya peluang kenaikan harga emas pekan depan. “Naik,” kata Newsom.
Newsom menjelaskan, secara teknikal, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember berada dalam kondisi oversold atau jenuh jual pada grafik harian jangka pendeknya. “Ini akan menjadi minggu ketiga berturut-turut saya memprediksi kenaikan (harga emas),” ucapnya.
Lebih lanjut, Newsom menambahkan bahwa tidak ada perubahan pada optimisme harga emas secara fundamental. Hal ini didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) yang terus meningkat akibat inflasi, sementara bank-bank sentral terus melakukan pembelian emas.
Harga emas pekan ini menghadapi tekanan yang signifikan. Upaya awal untuk stabil di atas level US$ 4.350 terhambat oleh kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, ekspektasi kebijakan hawkish Federal Reserve, serta kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut akibat lonjakan harga energi dan konflik AS-Iran.
Aksi jual emas meningkat tajam pada hari Rabu dan Kamis seiring terus naiknya imbal hasil obligasi Treasury. Kenaikan ini meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. Harga emas spot sempat turun hingga di bawah US$ 4.300 dan akhirnya mencatatkan level terendah mingguan di angka US$ 4.244,63 per troy ounce pada hari Kamis.
Ikuti DailyFX.ID
