— Kabar mengenai potensi merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mengemuka dan menjadi salah satu faktor pendorong pergerakan saham kedua perusahaan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Mirae Asset Sekuritas, pembicaraan terkait merger ini sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 2014 dan kembali mencuat baru-baru ini berkat pemberitaan dari Bloomberg.

Jika rencana merger ini terealisasi, perusahaan gabungan diproyeksikan akan memiliki portofolio menara telekomunikasi yang signifikan, mencapai 65.800 unit, dengan jumlah penyewa (tenant) sebanyak 106 ribu. Hal ini akan mencerminkan rasio tenancy sebesar 1,61 kali. Mirae Asset memperkirakan EBITDA tahunan perusahaan hasil merger dapat mencapai Rp13,7 triliun, dengan potensi peningkatan margin hingga 100 basis poin menjadi 83,9%. Total ekuitas gabungan MTEL dan TBIG diperkirakan mencapai Rp69,6 triliun.

Dalam skenario kepemilikan saham, jika mengacu pada harga saat ini, kepemilikan Telkomsel di MTEL sebesar 71,8% akan setara dengan 37,9% saham di perusahaan gabungan. Sementara itu, kepemilikan Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA) di TBIG sebesar 81,3% akan setara dengan 38,4% di perusahaan gabungan. Ini menunjukkan bahwa BDIA berpotensi menjadi pemegang saham pengendali terbesar.

Namun, Mirae Asset memprediksi bahwa MTEL kemungkinan akan tetap menjadi entitas utama dari perusahaan hasil merger, mengingat statusnya sebagai anak usaha BUMN dan keterkaitannya dengan Danantara. “Telkom kemungkinan memegang 51% saham perusahaan hasil merger,” tulis Mirae dalam risetnya pada Rabu (26/8/2026). Dengan asumsi ini, Mirae memproyeksikan saham MTEL dapat mencapai minimal Rp964, yang berarti ada kenaikan sebesar 119% dari harga saat riset dibuat. Proyeksi ini setara dengan rasio EV/EBITDA 2026 sebesar 12,8 kali, naik dari posisi saat ini 7,2 kali, sementara untuk TBIG diproyeksikan 10,5 kali.

Skenario dan Target Harga Mirae Asset

Mirae Asset memprediksi bahwa MTEL akan menerbitkan saham baru untuk menyerap total ekuitas TBIG yang bernilai Rp32,9 triliun. Dalam skenario ini, Danantara dan TLKM diprediksi akan menyerap 42,3 miliar saham senilai Rp18,6 triliun untuk mencapai kepemilikan 51% di perusahaan hasil merger.

Meskipun demikian, Mirae Asset mempertahankan rekomendasi netral untuk saham menara telekomunikasi secara umum. Hal ini disebabkan oleh tren tingkat sewa (least rate) MTEL dan TOWR yang cenderung tertekan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, Mirae Asset menyematkan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp700, didasari pandangan positif karena tidak adanya risiko integrasi. Adapun rating saham MTEL dan TBIG juga diberikan rekomendasi beli, dengan target harga masing-masing Rp670 dan Rp1.700.