— JAKARTA – LINK Group kini resmi menyandang status sebagai agensi eksklusif untuk seluruh solusi periklanan di jaringan bioskop Cinema XXI. Perjanjian ini mencakup iklan on-screen dan off-screen, aktivasi brand, hingga produksi konten khusus. Kemitraan strategis ini menandai pencapaian penting bagi independent marketing and media agency network tersebut, seiring perayaan ulang tahunnya yang ke-12.

Pendiri sekaligus Group Chief Executive Officer (CEO) LINK Group International, Irsan Yapto, menyatakan bahwa kolaborasi dengan Cinema XXI membuka berbagai peluang aktivasi brand yang bervariasi di pasar domestik. “Kemitraan eksklusif dengan Cinema XXI membuka ruang aktivasi brand melalui format yang bervariasi, mulai dari iklan on-screen, aktivasi off-screen hingga audio branding, seperti yang dijalankan Beng Beng, Teh Pucuk Harum, BYD, dan brand lainnya di seluruh jaringan bioskop,” ujar Irsan.

Sebelumnya, LINK Group telah dikenal sebagai pelopor inovasi built-in marketing melalui format Video Chat Message (VCM). Inovasi ini memungkinkan brand untuk hadir secara natural dalam alur cerita program televisi, termasuk sinetron, melalui adegan panggilan video bersama artis ternama. Beberapa artis yang pernah terlibat dalam kampanye ini antara lain Chicco Jerikho, Titi Kamal, Ririn Dwi Ariyanti, Irwansyah dan Zaskia Sungkar, hingga Aqeela Calista dari Sinetron Asmara Gen Z.

Irsan Yapto dan Nadya Yapto, pendiri LINK Group, menekankan bahwa ketangguhan dan keberanian berinovasi menjadi kunci utama kesuksesan mereka selama 12 tahun. “Berbekal keberanian yang kami pegang sejak awal, kami terus berusaha untuk tidak sekadar bertahan, tapi juga berkembang, bahkan ketika itu berarti kami harus berani mentransformasi strategi bisnis kami sendiri,” kata Irsan.

Sejak awal merintis bisnis melalui Adlink Sinemedia pada 2014, LINK Group telah menjadi pionir dalam integrasi brand atau built-in placement ke dalam alur cerita program televisi Indonesia, khususnya sinetron. “Dari titik itu, kami terus berani melangkah lebih jauh, dari media planning and buying, kreatif, storytelling, komunitas, media internasional, hingga strategi pengembangan bisnis ke berbagai pasar lainnya,” tambah Irsan.

Nadya Yapto, Group Chief Marketing Officer (CMO) LINK Group International, mengakui bahwa perjalanan tersebut tidak selalu mulus. “Kami selalu kembali ke DNA LINK Group, yaitu berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain. Dulu, di era placement tradisional, kami menyisipkan brand campaign langsung ke dalam alur cerita entertainment, banyak yang bilang tidak akan berhasil, dan ternyata berhasil. Itulah yang memperkuat filosofi built-in yang kami yakini sejak awal,” jelas Nadya.

Nadya menambahkan bahwa pembelajaran paling berharga adalah ketika LINK Group kurang berani mendorong brand-led storytelling secara maksimal dan memilih jalan yang lebih aman. “Sebab menurut kami, kampanye yang berani keluar dari zona nyaman dan berani mengambil risiko itulah yang justru membangun dampak besar dan berkelanjutan, sekaligus menjaga brand equity sebuah produk dalam jangka panjang,” sorotnya.

Konsistensi LINK Group dalam menembus pasar konten premium terlihat dari portofolionya yang menyertakan brand-brand dalam serial drama Korea blockbuster, seperti Taxi Driver 3, Surely Tomorrow, Phantom Lawyer, hingga Agent Kim Reactivated.

Di tengah disrupsi digital, medium TV dan bioskop terbukti menjadi peluang besar untuk membangun hubungan autentik antara brand dan konsumen. LINK Group juga berkontribusi pada industri kreatif melalui Intellectual Property (IP) komunitas Siaran Pagi DVET, yang dinaungi oleh Rumah Intellectual Property Indonesia (RIPIN) di bawah Tellink. Saat ini, DVET telah menghimpun lebih dari 75.000 anggota komunitas dari berbagai kota besar di Indonesia.

Ketangguhan LINK Group juga tercermin dari perluasan kapasitas di setiap agency network. Netlink memperkuat lini media planning and buying di bawah Apink Widyasmoko. Paul Sidharta, veteran kreatif JWT dan TBWA, memimpin Sparklink. Iwet Ramadhan mengelola storytelling, komunitas, dan IP melalui Tellink, sementara Partha Kabi ditunjuk sebagai Managing Director LINK Group International, membawa pengalaman multinasional dari WPP Group.

“Fokus kami adalah memastikan eksistensi LINK Group terjaga melalui setiap agency network yang kami miliki, dengan menghadirkan leaders yang kredibel dan powerful di industri. Setiap penunjukan adalah keputusan untuk memperkuat kapabilitas yang dibutuhkan grup,” ujar Irsan.

Sikap berani berinovasi juga mendorong ekspansi LINK Group ke pasar regional. Peluncuran SilkLink bersama Andy Sun sebagai Partner dan COO memperkuat kehadiran di Tiongkok, sementara Vietnam menjadi fokus ekspansi di Asia Tenggara.

Saat ini, LINK Group telah mendukung kampanye periklanan berbagai brand terkemuka, termasuk Mayora, GarudaFood, Nutrifood, Charoen Pokphand, dan lainnya. Kemitraan juga terjalin dengan nama-nama besar industri hiburan global seperti SBS, Studio Dragon, iQIYI, YG Entertainment, dan HYBE.

Langkah ekspansi ini sejalan dengan tema besar ulang tahun ke-12, yaitu LINK to the World. “Bagi kami, LINK to the World bukan hanya soal memperluas jangkauan ke pasar internasional, tapi juga bagaimana ide kreatif bisa memajukan industri kreatif secara luas, memberikan dampak nyata bagi setiap brand yang kami dampingi, hingga menciptakan pergerakan ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” jelas Nadya Yapto.

Optimisme ini didukung oleh proyeksi pasar periklanan Indonesia yang diperkirakan tumbuh dari US$12,8 miliar pada 2025 menjadi US$18,9 miliar pada 2030, menurut laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026-2030. Dalam profil Campaign Brief Asia Juli 2025, LINK Group tercatat sebagai pemain terbesar kedua di Indonesia dari sisi belanja media televisi, dengan pangsa mayoritas untuk built-in advertising di televisi nasional free-to-air.

Menutup penjelasannya, Irsan Yapto menegaskan prinsip LINK Group. “Dua belas tahun sejak memulai dari built-in advertising, kami kini beroperasi di lebih banyak kapabilitas dan pasar. Prinsip kami tetap sama: membangun dan berinovasi terlebih dahulu, baru membicarakannya dengan dampaknya,” tutupnya.