— JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom Group menargetkan untuk menggandakan nilai perusahaan dalam jangka menengah hingga 2030. Langkah ini akan diwujudkan melalui transformasi menjadi holding strategis yang efektif berjalan mulai tahun depan.

Perubahan paling signifikan adalah pergeseran peran perseroan dari bisnis operasi menjadi induk perusahaan. Telkom akan memindahkan eksposur bisnis operasinya kepada entitas di bawah grup, sementara perseroan fokus pada pengaturan dan navigasi kinerja unit-unit usaha di level operasional. Model bisnis baru ini diharapkan membuat Telkom Group lebih lincah, terintegrasi, dan memudahkan sinergi, yang pada akhirnya berdampak positif pada performa grup.

“Jadi, Telkom sebagai holding strategis ini akan berjalan terus sampai akhir 2030 dengan tujuan bahwa value perusahaan bisa meningkat dua kali lipat,” ucap Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini dalam program Talk2Connect yang disiarkan virtual melalui kanal Youtube resmi Telkom, Rabu (26/8/2026).

Strategi besar bernama Telkom 30 menjadi peta jalan perseroan dalam lima tahun ke depan. Sebagai permulaan, Telkom telah melakukan efisiensi operasional yang terlihat dari peningkatan kinerja pendapatan dan laba bersih. Pada semester I-2026, pendapatan Telkom tumbuh 3,84% menjadi Rp75,8 triliun dari Rp73 triliun pada semester I-2025, dengan EBITDA margin terjaga di 49,4%. Laba usaha naik menjadi Rp20,13 triliun dari Rp19,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, mendorong laba bersih menjadi Rp10,63 triliun. Arus kas perseroan juga menguat 7% secara tahunan.

Selain efisiensi operasional, Telkom juga melakukan penyederhanaan struktur organisasi. Perseroan telah menutup 10 entitas usaha dan menargetkan pemangkasan 5 entitas lagi hingga kuartal III-2026, serta 21 entitas hingga kuartal IV-2026. Target akhirnya adalah hanya memiliki 18 anak usaha dari total sebelumnya 67 anak usaha.

Selanjutnya, Telkom akan menyelesaikan pemisahan usaha (spin off) aset fiber tahap kedua kepada entitas anak, PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia, pada akhir September 2026. Pemunlocking value juga akan dilakukan pada aset data center dan menara (tower) perseroan.

Motor Pertumbuhan Baru

Dian menjelaskan bahwa motor pertumbuhan Telkom ke depan akan tetap bertumpu pada infrastruktur digital sebagai bisnis inti, meliputi bisnis seluler dan fiber to the home (FTTH). Namun, Telkom akan mendiversifikasi mesin pendapatannya dengan memperkuat segmen B2B ICT, khususnya untuk bisnis korporasi, BUMN, pemerintah, dan UMKM melalui solusi ICT yang terintegrasi.

“Jadi, kami akan mengembangkan B2B ICT baik dari sisi kapabilitas, sistem dan lain sebagainya. Jadi kalau sekarang kontribusi B2C itu 70% terhadap pendapatan Telkom, nanti secara persentase menjadi lebih seimbang dengan B2B,” beber Dian.

Menyikapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), Dian menyatakan bahwa Telkom sebagai perusahaan infrastruktur digital harus mempersiapkan diri menjadi basis yang memadai atau ‘AI ready’. Strateginya adalah memastikan kapasitas yang cukup untuk mengoperasikan AI, mengingat teknologi ini menciptakan trafik data yang sangat besar.

Ambisi Besar Perlu Hati-hati

Kepala Riset KISI Muhammad Wafi menilai ambisi Telkom menggandakan nilai merupakan target besar yang perlu disikapi dengan hati-hati, meskipun progresnya sudah menunjukkan hasil solid dan sejalan dengan transformasi infrastruktur AI. Wafi mengakui target Telkom dalam 3-5 tahun ke depan sangat agresif.

“Bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, tapi tantangan eksekusi akan menjadi risiko bagi TLKM seperti payback data center yang memakan banyak waktu dan persaingan industri seluler yang muncul selepas redistribusi spektrum,” ujar Wafi kepada Investor Daily, Rabu (26/8/2026).

Menurut Wafi, kemampuan Telkom memenangkan kompetisi akan sangat ditentukan oleh apakah penciptaan nilai dari bisnis data center dan B2B benar-benar mampu melampaui penurunan bisnis seluler lama. “Kemampuan Telkom memenangkan kompetisi akan sangat ditentukan pada apakah penciptaan nilai dari bisnis data center dan B2B benar-benar mampu melampaui penurunan bisnis seluler lama,” ujarnya.

Wafi menambahkan, upaya Telkom menyeimbangkan kontribusi B2B dan B2C tepat secara logika strategis di tengah ketatnya persaingan bisnis seluler. Hal ini juga menurunkan risiko ketergantungan perseroan terhadap kontribusi Telkomsel yang selama ini mendominasi. Segmen B2B (enterprise, data center, cloud) menjanjikan margin lebih tinggi dan pendapatan yang dapat diprediksi melalui model bisnis kontraktual, berbeda dengan pelanggan seluler yang lebih volatile.

Wafi melihat, secara keseluruhan transformasi bisnis Telkom sudah berada di jalur yang tepat. Hal ini terbukti dari NeutraDC Batam yang telah memperoleh kontrak penuh sebelum beroperasi. “Tapi, perlu diingat skala bisnis B2B masih relatif kecil ketimbang total pendapatan yang masih didominasi bisnis seluler. Jadi, arahnya sudah berada di jalur yang tepat, tetapi perkembangan bisnis tersebut perlu dipercepat secara signifikan,” tandas Wafi.