— PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) terus memperkuat lini bisnis energi terbarukan dengan menambahkan tiga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru. Proyek-proyek ini memiliki total kapasitas 34 MWp dan untuk pertama kalinya akan diintegrasikan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berkapasitas 28,3 MWh.

Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha ARKO, PT Endorshine Energi Matahari (EEM). Penambahan portofolio ini terwujud setelah perseroan menandatangani perjanjian sewa operasional dengan tiga entitas berbeda, yaitu PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC), PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE), dan PT Bintan Resort Cakrawala (BRC).

Ketiga proyek PLTS ini akan menjadi yang ketiga, keempat, dan kelima dalam portofolio ARKO. Berbeda dengan dua proyek PLTS sebelumnya yang diperoleh melalui akuisisi aset yang sudah siap pakai, kali ini ARKO akan terlibat langsung dalam pembangunan proyek dari tahap awal. Langkah ini menandai era baru bagi ARKO dalam bisnis energi surya, di mana perusahaan mengintegrasikan teknologi BESS untuk pertama kalinya dalam proyek PLTS.

Teknologi BESS memiliki peran krusial dalam menyimpan energi listrik yang dihasilkan panel surya pada siang hari. Energi yang tersimpan ini kemudian dapat digunakan saat kebutuhan listrik meningkat, baik pada malam hari maupun ketika produksi listrik surya menurun akibat faktor cuaca. Integrasi BESS berpotensi meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pasokan listrik dari pembangkit energi surya, yang secara inheren bergantung pada kondisi matahari.

Direktur ARKO, Ricky Hartono, menyatakan bahwa pembangunan ketiga proyek ini sejalan dengan strategi perseroan untuk terus mengembangkan solusi energi bersih. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi para pemegang saham dan mitra usaha.

“Kalau proyek PLTS pertama dan kedua yang baru saja kami akuisisi merupakan aset yang sudah siap beroperasi, kali ini kami akan membangun dari awal. Serta, untuk pertama kalinya kami akan mengintegrasikan BESS ke proyek PLTS tersebut,” ujar Ricky dalam keterangan resmi pada Selasa (15/9/2026). Ricky menambahkan bahwa ekspansi ini mencerminkan komitmen ARKO untuk tumbuh melalui ekspansi organik dan anorganik, serta memperluas kontribusi dalam penyediaan energi bersih di Indonesia.

Dengan penambahan tiga proyek baru ini, total kapasitas terkontrak ARKO kini mencapai 118,1 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari enam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan total kapasitas 62,8 MW dan lima proyek PLTS dengan kapasitas 55,3 MWp. Dari kelima proyek PLTS tersebut, tiga proyek baru ARKO kini dilengkapi dengan BESS berkapasitas total penyimpanan 28,3 MWh.

Ekspansi ini masih menyisakan potensi pertumbuhan yang signifikan, dengan total kapasitas proyek dalam pipeline perseroan yang telah mencapai lebih dari 300 MW. Pipeline ini menjadi modal penting bagi ARKO untuk terus memperbesar portofolio pembangkit energi terbarukan dan memanfaatkan peluang pertumbuhan kebutuhan energi bersih di Indonesia.

Integrasi teknologi BESS menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang ARKO. Tantangan utama pembangkit surya adalah sifat produksinya yang bergantung pada ketersediaan sinar matahari. Sistem penyimpanan memungkinkan energi yang dihasilkan saat radiasi matahari tinggi tidak langsung terpakai semua, melainkan dapat disimpan dan dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan.

Pengembangan proyek yang mengombinasikan PLTS dan BESS membuka peluang bagi ARKO untuk menawarkan solusi energi terbarukan yang lebih fleksibel kepada pelanggan. Solusi ini sangat relevan bagi kawasan industri dan area dengan kebutuhan listrik yang besar dan stabil.

Sebelumnya, ARKO telah memperluas bisnis energi surya melalui akuisisi proyek PLTS milik PT Endorshine Energy Solutions. Dengan tambahan tiga proyek baru ini, perseroan semakin mempertegas diversifikasi bisnisnya dari pembangkit listrik tenaga air menuju portofolio energi terbarukan yang lebih beragam.

Diversifikasi ini memastikan pertumbuhan ARKO ke depan tidak hanya bergantung pada pengembangan pembangkit hidro. PLTS dan teknologi penyimpanan energi kini menjadi komponen strategis dalam upaya perseroan memperbesar kapasitas pembangkit dan menangkap peluang transisi energi.

Bagi investor, perkembangan ini menekankan pentingnya eksekusi proyek. Berbeda dengan proyek PLTS yang sudah beroperasi, ketiga proyek baru ini masih memerlukan proses pembangunan, integrasi BESS, hingga mencapai tahap operasi komersial. Keberhasilan ARKO dalam menyelesaikan pembangunan sesuai jadwal dan anggaran yang ditetapkan akan menentukan kecepatan kontribusi tambahan kapasitas ini terhadap pendapatan dan kinerja perseroan.

Di sisi lain, semakin besarnya pipeline memberikan ruang bagi ARKO untuk meningkatkan kapasitas terpasang secara bertahap. Dengan kapasitas terkontrak 118,1 MW dan pipeline lebih dari 300 MW, perseroan memiliki basis pengembangan yang kokoh untuk menopang ekspansi bisnis energi terbarukan dalam beberapa tahun mendatang.

Ricky menegaskan kembali komitmen ARKO untuk terus mengintegrasikan pertumbuhan bisnis, penerapan teknologi, dan aspek keberlanjutan dalam pengembangan proyek energi terbarukan. “Hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus bertumbuh, baik secara organik maupun anorganik, sekaligus memperluas kontribusi perseroan dalam penyediaan energi bersih, sejalan dengan visi kami untuk menerangi Indonesia dengan energi terbarukan dan mendukung percepatan transisi energi nasional,” pungkas Ricky.