— Badan Layanan Umum (BLU) Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda menggelar pelatihan penanggulangan keadaan darurat melalui simulasi Full Scale Airport Emergency Exercise (AEE) dan Airport Contingency Exercise (ACE). Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (18/9) di Bandar Udara APT Pranoto.

Kepala BLU Kantor UPBU Kelas I APT Pranoto, I Kadek Yuli Sastrawan, menjelaskan bahwa latihan ini krusial untuk memastikan kesiapan personel dan efektivitas prosedur dalam menangani situasi darurat di bandara. “Latihan ini tidak hanya untuk menguji kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga memastikan seluruh prosedur penanggulangan keadaan darurat dapat dilaksanakan secara cepat, tepat, terkoordinasi, dan sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan,” ujar I Kadek dalam keterangan rilisnya.

Simulasi dibagi menjadi dua agenda utama. Sesi pertama, Airport Emergency Exercise (AEE), difokuskan pada peran Unit Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) bersama seluruh Komite Penanggulangan Keadaan Darurat Bandar Udara. Sesi kedua, Airport Contingency Exercise (ACE), diinstruksikan oleh Unit Aviation Security (Avsec) bersama seluruh Komite Keamanan Bandar Udara.

Melalui kedua simulasi ini, setiap unsur yang terlibat menguji kemampuan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, termasuk mekanisme komunikasi, koordinasi, pengambilan keputusan, serta mobilisasi sumber daya dalam menghadapi kondisi darurat.

I Kadek menambahkan bahwa keterlibatan berbagai instansi merupakan kunci utama dalam penanganan keadaan darurat yang membutuhkan respons terpadu. “Penanganan keadaan darurat di bandar udara membutuhkan kerja sama dan koordinasi lintas instansi. Karena itu, melalui latihan bersama ini kami ingin memastikan setiap pihak memahami peran, tugas, dan tanggung jawabnya sehingga ketika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya, respons dapat dilakukan secara terpadu dan efektif,” jelasnya.

Latihan ini melibatkan partisipasi dari direktorat teknis di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda, TNI/Polri (Lanud Dhomber Balikpapan, Polresta Samarinda, Kodim 0901/Samarinda), Badan Intelijen Negara (BIN), Imigrasi, Bea dan Cukai, Kekarantinaan, BMKG, AirNav Indonesia, serta perwakilan maskapai yang beroperasi di Bandar Udara APT Pranoto.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan evaluasi oleh observer eksternal untuk mengukur efektivitas respons darurat dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk perbaikan prosedur dan penguatan koordinasi. “Kami berharap melalui evaluasi ini dapat diketahui aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Hasil latihan ini akan menjadi bahan untuk melakukan penyempurnaan prosedur dan memperkuat koordinasi, sehingga kesiapsiagaan bandar udara dalam menghadapi berbagai kondisi darurat dapat terus ditingkatkan,” pungkas I Kadek.

Penyelenggaraan simulasi ini menunjukkan sinergi dan koordinasi lintas instansi dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat bandar udara, demi menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan seluruh pengguna jasa angkutan udara di Bandar Udara APT Pranoto.