DailyFX.ID — Pelaku industri pariwisata dan pemerintah perlu meningkatkan adaptabilitas terhadap perubahan karakteristik wisatawan Muslim. Hal ini krusial untuk mengoptimalkan potensi pasar wisata halal yang terus berkembang pesat di kancah global.
Pengembangan wisata halal kini tidak lagi memadai jika hanya berfokus pada pemenuhan standar halal semata. Kualitas layanan dan pengalaman wisatawan yang komprehensif menjadi elemen penting yang harus diperhatikan. Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar, menyatakan bahwa wisata halal telah bertransformasi dari pasar khusus (niche market) menjadi salah satu segmen signifikan dalam industri pariwisata dunia.
Transformasi ini membuka peluang luas bagi berbagai destinasi untuk meningkatkan daya saing sekaligus menyajikan layanan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Wisata halal merupakan peluang strategis untuk membangun destinasi yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika industri pariwisata global,” ujar Sapta dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Sapta menambahkan, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan destinasi dalam memahami kebutuhan wisatawan yang dinamis. Oleh karena itu, pengembangan wisata halal melampaui sekadar sertifikasi dan pemenuhan standar, melainkan juga mencakup peningkatan kualitas pelayanan serta pengalaman yang diberikan kepada pengunjung.
Ia menilai, pergeseran tren wisata global menuntut pelaku usaha pariwisata untuk lebih mendalami preferensi wisatawan Muslim modern. “Pendekatan tersebut dinilai penting agar layanan yang ditawarkan mampu menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam,” ucap Sapta.
Sejalan dengan itu, pengembangan wisata halal memerlukan pemahaman mendalam terhadap perubahan karakter wisatawan Muslim, peningkatan kualitas layanan, serta sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku usaha. Kebutuhan ini menjadi salah satu latar belakang penerbitan buku berjudul ‘Pengembangan Wisata Halal: Panduan bagi Pelaku Usaha dan Pemerintah’, yang diluncurkan pada Sabtu (19/9/2026). Buku ini mendapat dukungan dari Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Buku tersebut ditulis oleh Fitry Primadona, S.Si., M.M., Prof. Dr. Hartoyo, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA., dan Dr. Laily Dwi Arsyianti, SE., M.Sc., dengan kata pengantar dari Prof. Dr. Sapta Nirwandar, SE., DESS. Keempat penulis memadukan perspektif akademis dan pengalaman praktis untuk mengupas tren global wisata halal, karakteristik wisatawan Muslim modern, kepuasan dan loyalitas wisatawan, penerapan standar halal, serta inovasi layanan.
Fitry Primadona, selaku Penulis Utama, menekankan pentingnya pemahaman terhadap wisatawan Muslim modern dalam buku tersebut. Pembahasan mengenai consumer journey, kepuasan, dan loyalitas wisatawan menjadi landasan untuk merancang layanan wisata yang lebih relevan dan aplikatif.
“Oleh karena itu, buku ini kami susun tidak hanya sebagai kajian konseptual, tetapi juga menawarkan panduan aplikatif. Harapannya, akan tercipta sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah dan komitmen pelaku usaha dalam menciptakan pengalaman wisata yang berstandar tinggi,” jelas Fitry.
Dengan pendekatan tersebut, buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan komprehensif bagi pelaku usaha pariwisata, pemerintah, pembuat kebijakan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan wisata halal di Indonesia.
Ikuti DailyFX.ID
