— PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan penjelasan mengenai progres program pembelian kembali saham atau buyback perseroan. Dalam agenda Public Expose Live yang digelar pada 9 September 2026, manajemen BCA mengungkapkan bahwa hingga kini, perseroan telah merealisasikan buyback saham dengan total nilai sekitar Rp 3,5 triliun sejak tahun lalu.

Manajemen BCA menyatakan bahwa perseroan masih berada dalam periode pelaksanaan buyback saham. Program ini memiliki target hingga Rp 5 triliun dan berlaku selama satu tahun, terhitung sejak RUPS tahunan pada 12 Maret 2026 hingga RUPS tahunan 2027. “Saat ini, BCA juga masih dalam periode buyback saham dengan target hingga Rp 5 triliun yang berlaku selama satu tahun sejak RUPS tahunan pada 12 Maret 2026 hingga RUPS tahunan 2027,” ungkap manajemen BCA mengutip laporan hasil paparan publik perseroan.

Lebih lanjut, manajemen BCA menjelaskan bahwa dalam melaksanakan buyback, perseroan senantiasa memantau kondisi pasar. BCA mempertimbangkan waktu pelaksanaan buyback pada saat pasar sedang bergejolak atau market volatile sebagai bentuk keyakinan atau confidence terhadap fundamental perseroan.

Dalam laporan perkembangan pengalihan kembali saham hasil pembelian kembali Bank Central Asia periode 1 Januari 2026 hingga 30 Juni 2026, disebutkan bahwa terdapat jumlah saham yang wajib dialihkan kembali sebanyak 370.491.900 saham. Periode pengalihan ini berlangsung sejak 20 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026, dengan harga rata-rata pembelian kembali saham sebesar Rp 8.115,36. Nilai keseluruhan dari pembelian kembali saham pada periode tersebut mencapai sekitar Rp 3 triliun.

Hingga tanggal 30 Juni 2026, seluruh saham tersebut belum dialihkan kembali. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026), saham Bank Central Asia menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 2,77% ke level Rp 6.500, meskipun tercatat adanya net sell oleh investor asing. Kenaikan ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 9-11 September 2026, saham BBCA cenderung ditutup melemah.

Pergerakan saham BCA sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga mengalami pembalikan arah tajam. Perubahan ini terjadi setelah pelantikan Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026). Lonjakan yang terjadi dinilai sebagai respons awal pasar yang cenderung positif terhadap perubahan tersebut.