DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Pelemahan ini melanjutkan sentimen negatif yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Pada Senin, 14 September 2026, IHSG tercatat ditutup melemah tipis 6,68 poin atau 0,1% ke level 6.534. Sektor keuangan menjadi penopang utama dengan kenaikan 0,55%, sementara sektor kesehatan mengalami koreksi terdalam sebesar 2,95%.
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya pada Selasa (15/9/2026) memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support di 6.440 dan resistance di 6.600.
Analis Pilarmas menjelaskan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan pekan ini terus merangkak naik. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun untuk pertama kalinya sejak 2023 menyentuh level 5%, tertinggi dalam 15 tahun terakhir, meskipun sempat terkoreksi ke 4,9% di penutupan perdagangan.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed akibat inflasi Amerika Serikat yang tinggi dan kekhawatiran atas membengkaknya pinjaman pemerintah Amerika. Level 5% dianggap sebagai level psikologis penting bagi pelaku pasar dan investor, yang jika terlampaui dapat menandai era baru imbal hasil obligasi tinggi yang menekan bunga pinjaman, terutama jangka panjang.
Imbal hasil obligasi US Treasury yang terlalu tinggi juga berpotensi memberikan tekanan pada pasar saham yang memang memiliki volatilitas tinggi, terutama di tengah kerapuhan tren saham-saham teknologi (AI).
Pilarmas menambahkan bahwa pasar obligasi Pemerintah Amerika telah membesar secara signifikan dari US$ 4,5 triliun pada tahun 2007 menjadi sekitar US$ 32 triliun saat ini. Angka ini mendorong utang pemerintah hingga lebih dari 100% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika.
Kondisi ini membuat Fitch Ratings memperingatkan bahwa Amerika Serikat rentan terhadap guncangan ekonomi di masa depan seiring dengan peningkatan tingkat utang.
Untuk meredam kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury, Menteri Keuangan Bessent mengumumkan perubahan rencana pembelian dari US$ 2 miliar menjadi US$ 6 miliar untuk obligasi jangka panjang pada bulan September ini. Namun, langkah ini dinilai belum efektif karena imbal hasil obligasi US Treasury terus mengalami kenaikan.
Pelaku pasar kini menantikan pertemuan The Fed yang akan digelar esok hari, di mana probabilitas kenaikan suku bunga acuan sudah mencapai hampir 90%. Hal ini semakin memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi untuk terus naik. Zach Griffiths dari CreditSights bahkan memprediksi imbal hasil obligasi US Treasury bisa mendekati 5,5%.
Pilarmas memproyeksikan, dalam jangka pendek, imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun berpeluang mencapai 5,08% dengan probabilitas 77%. Sementara itu, dalam jangka panjang, imbal hasil tersebut dapat mencapai 5,47% dengan probabilitas 72%.
Mengingat The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga satu hingga dua kali lagi pada kuartal IV 2026, kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut berpeluang mencapai target yang diproyeksikan.
Selain imbal hasil obligasi US Treasury, imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun yang telah mencapai 3% juga menarik perhatian. Hal ini memberikan tekanan pada pasar obligasi domestik. Meskipun kepemilikan domestik dalam obligasi Surat Utang Negara (SUN) sangat besar (lebih dari 80%), penahanan imbal hasil SUN 10 tahun berisiko menyebabkan capital outflow yang lebih besar.
Dengan potensi kenaikan suku bunga Bank Indonesia apabila The Fed menaikkan suku bunganya, Pilarmas memperkirakan imbal hasil SUN akan bergerak di rentang 7,1% – 7,3%. Akumulasi pembelian obligasi disarankan dilakukan secara bertahap.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kebijakan Kementerian Keuangan yang telah berjalan setelah menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada 14 September 2026. Arahan Presiden Prabowo Subianto adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, khususnya agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap mampu mendukung program prioritas pemerintah.
Suahasil menekankan pentingnya APBN menjalankan dua fungsi utama: mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas. Ia juga menyoroti efisiensi anggaran yang tidak hanya berarti pemangkasan belanja, tetapi memastikan setiap belanja menghasilkan output maksimal dan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Suahasil, pergantian menteri keuangan bukan berarti perubahan arah kebijakan fiskal secara drastis, melainkan kelanjutan dari kebijakan yang sudah ada. Ia akan memastikan transisi berjalan lancar dan APBN tetap mendukung program prioritas nasional.
Pergantian Menteri Keuangan ini dinilai belum menunjukkan perubahan arah kebijakan fiskal yang signifikan. Fokus utama pemerintah tetap pada menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN, serta memastikan anggaran mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas.
“Kami memperkirakan kesinambungan kebijakan ini dapat menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap pengelolaan fiskal, meski efektivitasnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah meningkatkan efisiensi belanja dan mengoptimalkan penerimaan negara,” tulis Pilarmas.
Menariknya, di tengah pelemahan IHSG, pergantian Menteri Keuangan justru memberikan harapan baru bagi pelaku pasar. Suahasil Nazara yang merupakan wakil dari Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani, sejak 2019, dinilai memiliki kelebihan tersendiri. Harapan ini didasarkan pada kehati-hatian Sri Mulyani dalam pengelolaan kebijakan fiskal yang diharapkan juga dapat diterapkan oleh Suahasil.
Hal ini penting untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap pengelolaan kebijakan fiskal yang prudent namun ekspansif. Kembalinya kepercayaan pasar dapat memberikan kekuatan bagi pasar keuangan untuk bangkit kembali. Fokus Suahasil ke depan adalah mengembalikan kepercayaan pelaku pasar dan investor yang mungkin sempat terluka.
Menyikapi kondisi tersebut, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham MEDC, TLKM, dan ITMG untuk perdagangan Selasa, 15 September 2026.
Ikuti DailyFX.ID
