— Fenomena El Nino, yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik, diprediksi akan menguat pada Oktober 2026. Bank Indonesia (BI) menyoroti potensi dampaknya terhadap pasokan pangan nasional dan inflasi, serta terus berupaya meredam risiko tersebut.

Pada Juli 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88% secara tahunan (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,34% (yoy). Angka ini didukung oleh inflasi inti yang stabil di 2,76% (yoy), konsistensi kebijakan BI, dan perlambatan inflasi kelompok volatile food (VF) menjadi 2,52% (yoy) berkat panen hortikultura.

Namun, inflasi kelompok administered prices (AP) tercatat 3,58% (yoy) akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Ke depan, BI berkomitmen memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Upaya stabilisasi nilai tukar rupiah juga dilakukan untuk memitigasi imported inflation.

BI juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Tujuannya adalah mengendalikan inflasi pangan, termasuk antisipasi risiko cuaca ekstrem seperti El Nino.

Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyatakan kewaspadaan terhadap risiko El Nino yang diperkirakan lebih kuat hingga Oktober 2026 di kawasan Indonesia Timur, serta tekanan biaya produksi. “Kita harus waspada di ke depan, ini terutama perlu mewaspadai risiko dari El Nino,” kata Ricky dalam konferensi pers virtual, Rabu (19/8/2026).

Ricky mengungkapkan, BI akan fokus pada komoditas beras, cabai, dan bawang merah yang rentan terhadap El Nino. Langkah pengendalian inflasi di daerah dilakukan secara terukur dan berorientasi ke depan, dengan perhatian pada rantai pasok.

BI memperkuat koordinasi antara TPIP dan TPID untuk meredam dampak El Nino. Strategi pengendalian inflasi berfokus pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. “Kami akan melakukan digital farming, terus pertanian yang presisi, penguatan pasca panen dan hilirisasi pangan,” terang Ricky.

Selain itu, BI akan memperkuat kerja sama antardaerah (KAD) melalui skema business-to-business (B2B), subsidi ongkos angkut, hingga gerakan pasar murah. Langkah-langkah ini diterapkan dengan prinsip tepat komoditas, tepat lokasi, dan tepat waktu.

Tekanan Inflasi Akibat El Nino

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memprediksi El Nino dan musim kemarau akan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2026. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan inflasi akibat berkurangnya pasokan hortikultura di daerah produsen.

“Walaupun inflasi cenderung turun di Juli 2026, tekanan inflasi dapat meningkat di beberapa bulan mendatang seiring dengan makin intensifnya dampak fenomena El Nino,” ungkap Riefky, Selasa (18/8/2026).

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengingatkan pentingnya mitigasi dampak El Nino terhadap sektor pangan nasional pada paruh kedua 2026. Ia merujuk pada prakiraan BMKG mengenai potensi El Nino yang kuat pada Agustus hingga Oktober.

“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas (pangan),” kata Andreas dalam diskusi daring Center of Reform on Economics (Core) Indonesia di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia telah swasembada delapan komoditas pangan, Andreas menekankan kewaspadaan terhadap beras dan jagung yang berpotensi terdampak El Nino. Ia membandingkan situasi saat ini dengan fenomena La Nina di tahun sebelumnya yang menguntungkan pertanian.

“Kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan, yaitu fenomena El Nino, sedangkan tahun 2025, kita memang diberkahi fenomena iklim yang menguntungkan untuk pertanian yang kita sebut sebagai La Nina, sehingga kita bisa menanam sepanjang tahun,” jelas dia.

Andreas memprediksi penurunan produksi padi sekitar 3-5% dan jagung juga akan menurun karena membutuhkan air yang cukup. “Menurut saya terjadi penurunan produksi kira-kira sekitar 3-5% untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan akan menurun, karena jagung juga perlu air,” kata Andreas.

Ia menambahkan, petani biasanya menanam jagung pada musim kedua setelah padi. Namun, jika pasokan air tidak mencukupi, petani mungkin akan beralih ke tanaman lain yang berumur lebih pendek dan tidak membutuhkan banyak air.