DailyFX.ID — Pertumbuhan kredit perbankan menunjukkan akselerasi memasuki paruh kedua 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit per Juli tumbuh 13,58% secara year on year (yoy). Meskipun demikian, terdapat fasilitas kredit yang belum tersalurkan senilai Rp2.548 triliun.
Pertumbuhan kredit pada Juli melanjutkan tren penguatan dari bulan sebelumnya yang tumbuh 12,67% (yoy). Apabila dirinci berdasarkan penggunaannya, kredit investasi masih menjadi motor dengan pertumbuhan tertinggi 25,13% (yoy) per Juli. Diikuti oleh kredit modal kerja yang tumbuh 11,04% (yoy), dan kredit konsumsi naik 5,38% (yoy) per Juli 2026.
Meski pertumbuhan kredit telah jauh melampaui kisaran target BI sebesar 8-12% (yoy) untuk di akhir 2026, masih ada tantangan untuk memastikan akselerasi tersebut benar-benar terserap oleh sektor riil. Sebab, fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) masih mencapai Rp2.548 triliun atau sekitar 21,81% dari plafon kredit yang tersedia.
Besarnya undisbursed loan menunjukkan masih ada ruang pembiayaan yang dapat direalisasikan perbankan. Selain itu, masih tingginya faktor ketidakpastian ekonomi yang dirasakan pengusaha sehingga mereka belum menarik fasilitas kreditnya di bank.
Pejabat Gubernur Sementara (PGS) BI Destry Damayanti mengatakan, perkembangan positif kredit didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas. “Hingga minggu pertama Agustus 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp446,5 triliun dengan alokasi pada financing channel sebesar Rp368,4 triliun, interest rate channel sebesar Rp73,2 triliun, serta financing to funding channel sebesar Rp4,9 triliun,” beber Destry dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).
Pertumbuhan kredit tersebut menjadi yang tertinggi setidaknya dalam periode Januari-Juli 2026. Pada Januari, kredit perbankan hanya tumbuh 9,96%, kemudian sempat melambat menjadi 9,37% pada Februari sebelum kembali meningkat hingga mencapai dua digit sejak Mei. Pada Mei 2026, kredit tumbuh 11,51%, kemudian naik menjadi 12,67% pada Juni dan kembali menguat menjadi 13,58% pada Juli.
Akselerasi kredit tersebut juga terjadi bersamaan dengan menyusutnya ruang likuiditas perbankan. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) turun dari 27,54% pada Januari menjadi 23,10% pada Juli 2026. Rasio tersebut sempat berada di 27,85% pada Maret, sebelum terus menurun menjadi 25,39% pada April, 24,74% pada Mei dan 23,08% pada Juni. Pada Juli, AL/DPK sedikit meningkat menjadi 23,10%.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) Josua Pardede menjelaskan, kredit korporasi masih akan tumbuh tinggi pada semester II dan menjadi motor pertumbuhan kredit. Dari sisi sektor, manufaktur menjadi salah satu pilihan paling menarik untuk paruh kedua 2026, disusul transportasi dan pergudangan, perdagangan, kesehatan, pendidikan, serta konstruksi yang memiliki proyek dan sumber pembayaran yang jelas.
Pada triwulan II, penyaluran kredit baru tertinggi terdapat pada transportasi, pergudangan dan komunikasi, jasa pendidikan, industri pengolahan, konstruksi serta kesehatan dan kegiatan sosial. Untuk triwulan III, bank memperkirakan penyaluran terbesar bergeser terutama ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta jasa keuangan.
“Kondisi perusahaan juga masih cukup mendukung, survei dunia usaha menunjukkan likuiditas dan kemampuan menghasilkan laba masih berada pada kondisi baik serta akses terhadap kredit tetap relatif mudah, walaupun indikator likuiditas dan laba sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya,” kata Josua.
Untuk manufaktur, Josua menyukai industri makanan dan minuman, mesin dan perlengkapan, logam dasar, alat angkutan, industri yang terkait hilirisasi, serta pemasok yang masuk ke rantai produksi perusahaan besar. Konstruksi juga masih menarik sepanjang proyek memiliki kepastian pembayaran, terutama proyek pemerintah, BUMN, kawasan industri, logistik dan utilitas.
Sebaliknya, Josua tidak menyarankan perbankan membuat larangan sektoral secara luas. Namun, perbankan perlu lebih berhati-hati pada perusahaan yang sangat bergantung pada bahan baku impor, memiliki pendapatan rupiah tetapi kewajiban dolar, perusahaan yang marginnya tipis dan tidak mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. “Sektor komoditas dengan utang tinggi yang hanya mengandalkan harga komoditas tetap tinggi, serta proyek properti spekulatif tanpa penjualan awal yang kuat,” sambung Josua.
Konsumer Melambat
Josua menilai, kredit konsumsi pada semester II masih akan tumbuh, tetapi tetap menjadi bagian yang lebih lemah dibandingkan kredit korporasi. Menurut dia, permintaan sebenarnya belum hilang. Survei Perbankan BI memperkirakan pada triwulan III kredit multiguna menjadi prioritas utama perbankan, disusul KPR dan kredit kendaraan bermotor, dan standar penyaluran untuk kredit konsumsi diperkirakan sedikit lebih longgar.
Namun data aktual menunjukkan kredit konsumsi baru tumbuh 5,75% (yoy) per Juni 2026 dan kembali melambat dengan pertumbuhan 5,38% (yoy) per Juli 2026, jauh di bawah kredit investasi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya tumbuh sekitar 5,16% pada triwulan III dan 5,13% pada triwulan IV, sehingga tidak terlihat adanya lonjakan permintaan rumah tangga yang akan menghasilkan akselerasi kredit konsumsi sangat tinggi.
Josua mengungkapkan, yang perlu dicermati adalah beban cicilan mulai meningkat. Survei Konsumen pada Juli menunjukkan keyakinan konsumen masih optimistis pada 116,8, tetapi lebih rendah daripada 117,8 pada Juni. Pada saat yang sama, proporsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan naik dari 10,0% menjadi 10,5%, sementara porsi tabungan relatif stagnan. Bahkan porsi pembayaran cicilan meningkat pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Karena transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya masih berlangsung, konsumen akan semakin menghitung besarnya cicilan bulanan sebelum mengambil KPR, kendaraan atau pinjaman tanpa agunan. “Bunga kredit perbankan pada Juni sudah berada sekitar 8,81%. Karena itu, perkiraan saya kredit konsumsi sampai akhir tahun tetap tumbuh pada kisaran menengah satu digit, kurang lebih 5-7%, bukan kembali ke pertumbuhan dua digit,” jelas Josua.
Ikuti DailyFX.ID
