DailyFX.ID — JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Keputusan ini menjadi momen penting karena merupakan RDG pertama yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI, Destry Damayanti, setelah pengunduran diri Perry Warjiyo bulan lalu.
Para pelaku pasar dan investor global menantikan sinyal kebijakan dari Destry, terutama dalam upaya menyeimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dengan dorongan pertumbuhan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan konsensus terhadap 35 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, mayoritas memproyeksikan Bank Indonesia akan menahan suku bunga BI Rate di level 5,75% untuk dua bulan berturut-turut. Langkah ini dinilai sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang mulai stabil setelah mengalami penguatan dalam beberapa pekan terakhir.
Ekonom DBS Bank Ltd., Radhika Rao, menilai stabilitas rupiah saat ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan suku bunga. “Tinjauan kebijakan bulan ini akan memberikan gambaran perdana mengenai prioritas serta gaya komunikasi dari pimpinan baru,” ujar Rao, Rabu (19/8/2026).
Antara Stabilitas Rupiah dan Dorongan Pertumbuhan Ekonomi
Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI pengganti Perry Warjiyo, yang dikombinasikan dengan usulan rancangan anggaran pemerintah yang terukur, berhasil meredam ketidakpastian pasar dan mendorong pemulihan aset-aset di Indonesia. Nilai tukar rupiah tercatat menguat sekitar 0,8% terhadap dolar AS sepanjang bulan ini.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, memperkirakan BI akan mengombinasikan keputusan penahanan suku bunga dengan pemanfaatan instrumen moneter lainnya untuk menopang mata uang sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi.
Selain suku bunga, perhatian pasar juga tertuju pada penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kepala Ekonom PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan bahwa instrumen SRBI terbukti ampuh menarik aliran modal masuk (inflow). Namun, penggunaan instrumen ini secara intensif perlu dicermati agar tidak menyedot likuiditas pasar yang dibutuhkan untuk penyaluran kredit.
“Fase pertama adalah merebut kembali kepercayaan investor global. Fase berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut dapat ditranslasikan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” jelas Fakhrul.
Dinamika Kepemimpinan BI
Dinamika di tubuh Bank Indonesia menjadi fokus utama para pelaku pasar menyusul mundurnya Perry Warjiyo secara mendadak dari kursi Gubernur BI. Presiden Prabowo Subianto kemudian mengajukan nama Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, sebagai calon tunggal untuk memimpin bank sentral secara permanen.
Transisi kepemimpinan ini terjadi di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang dinamis:
- Respon Terhadap Kebijakan Moneter Global: Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan kenaikan suku bunga secara kumulatif untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor di tengah tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
- Target Pertumbuhan Nasional: Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menargetkan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini membutuhkan sinergi yang erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter yang kondusif dari Bank Indonesia, khususnya dalam menjaga ketersediaan likuiditas perbankan serta mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.
- Instrumen Stabilitas Moneter: Di bawah kepemimpinan sebelumnya, BI memperkenalkan berbagai instrumen pemikat modal asing seperti SRBI. Pimpinan baru BI dihadapkan pada tantangan untuk merumuskan ulang peta jalan (roadmap) kebijakan moneter yang dapat menjaga nilai tukar sekaligus mengakselerasi roda perekonomian domestik.
Ikuti DailyFX.ID
