DailyFX.ID — Pendiri Microsoft, Bill Gates, mendorong penguatan kebijakan global guna mengantisipasi berbagai risiko yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI). Potensi penyalahgunaan teknologi ini untuk serangan siber dan serangan biologis menjadi perhatian utama.
Gates berencana membahas gagasan-gagasan kebijakan tersebut dengan Presiden China, Xi Jinping, dalam kunjungan yang dijadwalkan pada November 2026. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Gates menekankan pentingnya negara-negara mulai menyusun batasan terhadap pengembangan dan peluncuran model AI yang berpotensi menimbulkan risiko besar.
Menurut pandangannya, China kemungkinan akan mengikuti pembatasan terhadap model AI berbahaya apabila Amerika Serikat lebih dahulu menerapkan kebijakan serupa. “Seluruh dunia kemungkinan akan mengikuti langkah itu,” ujarnya.
Kunjungan Gates ke China ini menjadi sorotan karena terakhir kali ia bertemu Xi Jinping sekitar tiga tahun lalu. Staf Gates saat ini tengah berupaya menyiapkan pertemuan berikutnya dengan pemimpin China tersebut. Salah satu isu krusial yang ingin diangkat Gates adalah kemampuan AI dalam membantu penciptaan molekul dan potensi penggunaannya dalam serangan biologis. Ia berpendapat bahwa kemampuan ini perlu dipantau secara ketat tanpa menghentikan inovasi teknologi secara keseluruhan.
Kekhawatiran Terhadap Kemampuan AI Meningkat
Sebelumnya, Bill Gates dikenal sebagai tokoh yang cukup optimistis terhadap manfaat AI. Namun, kekhawatirannya meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan kemampuan teknologi tersebut. AI kini menunjukkan kemampuannya dalam melakukan serangan siber, menggantikan sejumlah pekerjaan manusia, serta menciptakan ketergantungan psikologis bagi para penggunanya.
Teknologi AI yang dikembangkan oleh berbagai perusahaan terkemuka seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta Platforms, juga telah menunjukkan kapabilitasnya dalam melakukan peretasan terhadap situs web nyata dalam pengujian keamanan siber. Gates menilai perkembangan ini menunjukkan bahwa AI berkembang lebih cepat dan luas dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya.
Ia berpendapat bahwa AI dapat menjadi perubahan besar dalam perkembangan masyarakat, sehingga pengelolaannya tidak bisa hanya diserahkan kepada perusahaan teknologi semata. Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan di blog pribadinya, Gates mengusulkan pembentukan sebuah organisasi internasional yang bertugas mengawasi perkembangan AI. Lembaga ini diharapkan dapat mengadopsi pendekatan dari sistem inspeksi nuklir, aturan penerbangan internasional, hingga kerja sama global dalam perlindungan lapisan ozon.
Gates juga menilai Amerika Serikat perlu mengambil peran aktif dalam penyusunan kerangka pengawasan AI. Namun, pemerintah AS terlebih dahulu perlu menentukan kriteria yang jelas mengenai kemampuan atau risiko AI yang membutuhkan intervensi.
AI dan Potensi Dampaknya Terhadap Lapangan Kerja
Selain persoalan keamanan, Bill Gates juga menyoroti dampak AI terhadap dunia kerja dan potensi ketimpangan ekonomi. Ia menekankan pentingnya upaya memastikan perkembangan AI tidak memperlebar kesenjangan sosial atau merugikan kelompok rentan sebagai salah satu prioritas utama dalam kebijakan global.
Salah satu gagasan yang dikemukakan Gates adalah penerapan pajak terhadap pendapatan perusahaan yang menggunakan AI untuk menggantikan pekerjaan manusia. Pendapatan dari pajak ini dapat dialokasikan untuk membiayai program perlindungan sosial. Gates juga mengusulkan agar sebagian pekerjaan tetap dipertahankan untuk dilakukan oleh manusia.
Ia memperkirakan sekitar 40% pekerjaan yang ada saat ini dapat dipertimbangkan untuk tetap mengandalkan tenaga manusia, terutama pekerjaan yang membutuhkan interaksi dan kepedulian langsung. Pekerjaan di sektor perawatan, menurutnya, merupakan salah satu contoh bidang yang memiliki dimensi kemanusiaan kuat dan tidak mudah digantikan sepenuhnya oleh teknologi.
Gates menilai kekhawatiran masyarakat terhadap pembangunan pusat data AI perlu dilihat bersamaan dengan persoalan yang lebih luas. Dampak AI terhadap pasar tenaga kerja, menurut dia, berpotensi menjadi tantangan yang lebih besar apabila perkembangannya tidak diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
Di sisi lain, Gates tetap melihat potensi AI dalam memberikan manfaat di berbagai sektor. Contohnya, yayasan yang didirikannya bekerja sama dengan Anthropic untuk mengembangkan pemeriksaan kesehatan kehamilan berbasis AI, serta dengan OpenAI untuk mendukung tenaga kesehatan di Rwanda. Yayasan tersebut menargetkan pengeluaran hingga US$200 miliar sampai tahun 2045, dengan pemanfaatan AI menjadi salah satu area yang semakin mendapat perhatian khusus.
Ikuti DailyFX.ID
