— Hubungan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada dilaporkan berada di titik terendah. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kini saatnya bagi AS untuk “memberikan pelajaran” kepada Kanada setelah negosiasi perdagangan antara kedua negara tersebut menemui jalan buntu.

“Saya memiliki kesepakatan yang cukup bagus sebelumnya. Mereka tidak memiliki apa pun yang wajib kita miliki, kita bisa bertahan tanpanya. Sudah saatnya mengajari Kanada bahwa mereka tidak bisa berbuat seperti ini lagi,” ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters.

Ketegangan ekonomi ini tereskalasi dengan cepat melalui aksi saling balas tarif impor antar kedua negara. Trump memberlakukan tarif baru sebesar 50% terhadap barang impor Kanada senilai US$ 20 miliar (sekitar Rp 355,1 triliun) setelah pembicaraan batal. AS juga mengumumkan tarif 50% untuk otomotif dan suku cadang asal Kanada yang berlaku mulai 1 Januari 2027.

Kanada merespons keras pada Selasa lalu dengan menerapkan tarif balasan untuk barang impor AS senilai US$ 20 miliar, yang akan berlaku efektif pada 8 September 2026. Kanada menyebut penolakan AS untuk memberikan kelonggaran tarif pada kendaraan menengah dan berat menjadi salah satu alasan gagalnya kesepakatan.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan saat ini tidak ada jalur komunikasi terbuka dengan pihak Kanada. Ia menegaskan jika Kanada terus membalas, AS tidak akan tinggal diam dan tetap memprioritaskan kepentingan nasionalnya.

Penasihat Gedung Putih, Peter Navarro, memperkirakan penolakan Kanada terhadap kesepakatan awal adalah keputusan keliru. Menurutnya, penawaran yang ditolak Kanada minggu lalu jauh lebih menguntungkan daripada penawaran apa pun yang akan diberikan AS di masa depan.

AS dan Kanada secara historis merupakan mitra dagang terbesar yang terikat dalam kawasan perdagangan bebas kawasan Amerika Utara. Kedua negara saling bergantung dalam rantai pasok manufaktur otomotif, pasokan energi, hingga produk pertanian.

Namun, pendekatan proteksionisme perdagangan yang diusung pemerintahan Donald Trump kerap memicu gesekan melalui penjatuhan tarif sepihak untuk menekan defisit perdagangan AS.

Kebijakan tarif balasan dari Kanada mencerminkan ketegangan politis dan ekonomi yang makin tinggi, di mana kedua pihak berusaha melindungi industri domestik masing-masing meski berisiko mengganggu stabilitas pasar global dan memicu inflasi di kawasan Amerika Utara.