DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) secara mengejutkan melampaui level US$ 80.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar, menandai rekor tertinggi baru sejak Mei 2026. Lonjakan ini turut mendongkrak kapitalisasi pasar kripto global hingga US$ 500 miliar (sekitar Rp 8.846,2 triliun), di tengah meningkatnya kekhawatiran global akan inflasi dan beban utang Amerika Serikat (AS).
Aktivitas pasar kripto yang kembali bergejolak ini dipicu oleh keputusan agresif Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang berencana menggandakan program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah AS. Langkah ini bertujuan untuk menekan imbal hasil (yield) obligasi jangka panjang.
Investor melihat langkah tersebut sebagai indikasi awal kembalinya kebijakan pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE). Kementerian Keuangan AS dilaporkan siap menggunakan Treasury General Account (TGA) yang memiliki saldo hampir US$ 1 triliun untuk mendanai aksi buyback tersebut.
“Niat Kementerian Keuangan untuk mengendalikan imbal hasil obligasi telah menghidupkan kembali strategi debasement trade. Terkikisnya kepercayaan terhadap obligasi dan mata uang fiat memicu peralihan modal besar-besaran ke aset terdesentralisasi seperti emas dan Bitcoin,” ungkap Analis Pasar Utama FxPro, Alex Kuptsikevich.
Kritik Investor Kawakan Bertentangan dengan Antusiasme Pasar Kripto
Meskipun disambut positif oleh pelaku pasar kripto, intervensi Kementerian Keuangan AS menuai kritik tajam dari investor kawakan Stanley Druckenmiller. Ia memperingatkan bahwa upaya menekan imbal hasil obligasi secara paksa tidak akan berkelanjutan.
Druckenmiller berpendapat bahwa pemerintah tidak akan pernah bisa melawan hukum fundamental pasar. Menurutnya, satu-satunya cara menurunkan imbal hasil obligasi secara permanen adalah dengan memangkas defisit anggaran AS sebesar US$ 1,8 triliun dan melakukan reformasi belanja negara secara mendasar.
Di sisi lain, para analis dan trader kripto melihat intervensi pemerintah AS ini sebagai pendorong baru bagi tren penguatan pasar (bull market). Pendiri lembaga riset 10x Research, Markus Thielen, menyatakan bahwa reli kali ini secara resmi membangkitkan kembali gairah pasar (animal spirits).
Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, menyampaikan sentimen serupa dan mengingatkan investor untuk memanfaatkan momen ini dengan bijak tanpa penggunaan leverage berlebih, mengingat volatilitas tinggi diprediksi masih akan membayangi pergerakan harga.
Apa Itu Debasement Trade?
Debasement trade adalah strategi investasi yang berfokus pada pengalihan modal dari mata uang fiat dan obligasi pemerintah ke aset lindung nilai (safe haven) seperti emas dan Bitcoin. Strategi ini umum digunakan ketika pemerintah atau bank sentral dinilai meningkatkan pencetakan uang dan penambahan utang nasional, yang berisiko menurunkan nilai tukar riil mata uang serta memicu inflasi.
Di tengah lonjakan utang nasional AS yang telah menembus US$ 40 triliun, instrumen kripto terdesentralisasi seperti Bitcoin semakin banyak dilirik sebagai alternatif ‘digital gold’ untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Ikuti DailyFX.ID
