— JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) terpantau melesat pada perdagangan Selasa (25/8/2026) pagi, melanjutkan penguatan dalam sepekan terakhir. Namun, sejumlah analis memberikan peringatan mengenai potensi koreksi yang dapat menguji kekuatan tren kenaikan aset kripto utama ini.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.35 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat naik 1,78% menjadi US$ 78.749 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,39 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.727 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar kripto global juga menunjukkan tren positif, menanjak 1,13% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,66 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, turut terkerek 1,25%. Sementara itu, Ethereum (ETH) menguat 0,91% menjadi US$ 2.478, dan Binance Coin (BNB) naik 0,78% menjadi US$ 706.

Dikutip dari CoinDesk, lonjakan ini membawa Bitcoin mendekati level psikologis US$ 80.000 dalam sehari terakhir, setelah mencatatkan pemulihan tajam sepanjang pekan. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, harga Bitcoin dilaporkan telah melonjak sekitar 27%.

Chris Sullivan dari Hyperion Decimus mengemukakan bahwa penembusan sejumlah rata-rata pergerakan penting, peningkatan volume perdagangan, serta membaiknya market breadth mengindikasikan adanya kemungkinan perubahan tren. Namun, reli yang terjadi juga membuat Bitcoin berada dalam kondisi overbought.

Menurut Sullivan, koreksi dinilai diperlukan untuk menguji seberapa kuat tren kenaikan yang sedang berlangsung. Ia memantau area US$ 67.000 – 70.000 sebagai level support jika koreksi terjadi lebih dalam. Sullivan juga mengingatkan bahwa reli short covering pada pasar kripto sebelumnya dapat berujung pada penurunan tajam.

Di sisi lain, Chief Analyst Bitget Research, Ryan Lee, memperkirakan pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek akan berada di kisaran US$ 74.000 – 81.000. Ia menilai penurunan menuju US$ 75.000 – 76.000 masih dalam batas wajar sebagai aksi ambil untung pasca kenaikan yang signifikan.

Level Kunci Bitcoin

Chief Investment Officer Hashdex, Samir Kerbage, turut memperkirakan Bitcoin masih memiliki peluang untuk mengalami konsolidasi sebelum melanjutkan kenaikan. Ia melihat konsolidasi di kisaran US$ 75.000 – 83.000 justru dapat membantu pasar membangun basis yang lebih kuat.

Kerbage menjelaskan bahwa area antara US$ 80.000 dan US$ 90.000 memiliki volume historis yang relatif tipis. Kondisi ini berpotensi membuat pergerakan harga menjadi lebih cepat setelah memasuki zona tersebut. Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas US$ 83.000, peluang menuju level US$ 100.000 kembali terbuka.

Ryan Lee juga memperkirakan bahwa penembusan berkelanjutan di atas US$ 80.000 dapat membuka ruang kenaikan lebih lanjut menuju US$ 82.000 – 87.000.

Pertanyaan mendasar saat ini adalah siapa yang akan menjadi pembeli Bitcoin setelah reli terbaru ini. Penutupan posisi rugi oleh short seller turut menjadi salah satu pendorong kenaikan Bitcoin. Namun, menurut Lee, pasar kini membutuhkan permintaan spot untuk menggantikan dorongan tersebut, termasuk pembelian dari investor institusional.

Arus dana yang berkelanjutan ke spot Bitcoin ETF dipandang akan memperkuat peluang Bitcoin untuk melanjutkan kenaikannya.

Market Strategist LMAX Group, Joel Kruger, juga melihat prospek yang lebih tinggi. Menurutnya, keberhasilan Bitcoin menembus level US$ 67.300 dan US$ 70.000 menunjukkan kemungkinan titik terendah siklus telah terbentuk.

Kruger menempatkan US$ 83.000 sebagai level kenaikan berikutnya. Ia menyebut reli Bitcoin didorong oleh kombinasi penurunan imbal hasil Treasury jangka panjang, pelemahan dolar AS, kembalinya peningkatan permintaan ETF, serta likuidasi posisi short.

Lebih dari US$ 2,7 miliar posisi bearish kripto dilaporkan telah terlikuidasi selama lonjakan awal Bitcoin.

Dengan demikian, US$ 80.000 menjadi ujian terdekat bagi Bitcoin. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, perhatian pasar akan bergeser ke US$ 83.000 dan selanjutnya US$ 100.000. Namun, jika gagal, area US$ 75.000 – 76.000 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati.