— Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pagi. Namun, di balik pergerakan harga tersebut, sejumlah indikator pasar justru mulai menunjukkan sinyal positif atau bullish. Hal ini mengindikasikan bahwa Bitcoin berpotensi memasuki tahap awal dari siklus kenaikan baru.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat melemah sebesar 0,2% menjadi US$ 78.713 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,39 miliar, dengan asumsi kurs saat ini berada di Rp 17.702 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar kripto global juga mengalami penurunan tipis, yakni 0,37% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,65 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang merefleksikan kinerja 20 aset kripto terbesar, terkoreksi 0,48%. Sementara itu, Ethereum (ETH) anjlok 1,34% menjadi US$ 2.449, dan Binance Coin (BNB) jatuh 0,98% ke angka US$ 695.

Firma analitik kripto CryptoQuant, seperti dikutip dari CoinTelegraph, menilai bahwa Bitcoin mulai memasuki fase awal dari sebuah bull market. Penilaian ini didasarkan pada reli harga sebesar 24% yang telah mendorong sejumlah indikator on-chain dan permintaan ke zona bullish.

CryptoQuant mencatat bahwa Bull Score Bitcoin melonjak signifikan dari 30 menjadi 80 dalam kurun waktu sepekan. Angka ini merupakan level tertinggi yang tercatat sejak Oktober 2025. Saat ini, delapan dari sepuluh indikator yang menjadi komponen indeks tersebut telah menunjukkan sinyal bullish.

Sebelumnya, reli harga sempat membawa Bitcoin menembus level US$ 80.000. Namun, CryptoQuant menekankan bahwa Bitcoin perlu mencatatkan penutupan mingguan di atas rata-rata pergerakan 365 hari, yang saat ini berada di kisaran US$ 83.000, untuk dapat mengonfirmasi peralihan menuju siklus bull market yang baru.

Perubahan positif ini juga didukung oleh percepatan permintaan di pasar spot. Permintaan di pasar spot dan futures Bitcoin kini menunjukkan peningkatan bersamaan untuk pertama kalinya sejak awal Oktober 2025.

Strategis pasar LMAX Group, Joel Kruger, juga menyoroti level US$ 82.820, yang merupakan titik tertinggi Bitcoin pada Mei 2026, sebagai area kunci berikutnya. “Penembusan yang jelas di atas level tersebut akan memperkuat pandangan bahwa titik terendah siklus telah terbentuk dan mengalihkan perhatian ke pergerakan berikutnya menuju US$ 100.000 dan pada akhirnya rekor tertinggi 2025,” ujar Kruger.

Waspada Turbulensi Jangka Pendek

Meskipun indikator-indikator bullish semakin menguat, CryptoQuant memberikan peringatan bahwa reli Bitcoin berpotensi mengalami turbulensi dalam jangka pendek. Salah satu indikasi yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya aksi ambil untung atau profit taking oleh investor besar atau yang dikenal sebagai whale.

Margin keuntungan yang belum direalisasikan atau unrealized profit margin para trader telah meningkat hingga 20,5%, mencapai level tertinggi sejak Juni 2025. CryptoQuant mencatat bahwa Bitcoin pernah mengalami koreksi sekitar 30% setelah metrik ini mencapai 19% pada awal Mei, ketika harga Bitcoin berada di kisaran US$ 82.000.

Aksi ambil untung oleh para whale juga terlihat jelas pada periode 20-22 Agustus. Pemegang Bitcoin jangka pendek dilaporkan merealisasikan keuntungan sekitar US$ 1,2 miliar. Pada 20 Agustus saja, nilai keuntungan yang direalisasikan mencapai rekor US$ 614 juta, saat Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 78.000 hingga US$ 79.000.

Potensi tekanan jual juga diperkirakan meningkat seiring dengan semakin banyaknya Bitcoin yang masuk ke bursa kripto. Data dari CryptoQuant menunjukkan bahwa arus masuk Bitcoin ke bursa atau exchange inflows meningkat menjadi sekitar 53.000 BTC, level tertinggi sejak Juni. Kenaikan arus masuk ke bursa ini biasanya menjadi perhatian pasar karena aset yang dipindahkan ke platform perdagangan berpotensi untuk dijual.