— Harga Bitcoin (BTC) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin (24/8/2026) pagi, mencatatkan lonjakan lebih dari 23% dalam sepekan terakhir. Reli ini didorong oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat, aliran dana masuk ke ETF kripto, serta meningkatnya ekspektasi harga Bitcoin menuju US$ 126.000.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.40 WIB, harga Bitcoin tercatat menguat 0,3% menjadi US$ 77.494 per koin, setara dengan Rp 1,36 miliar menggunakan kurs Rp 17.661 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar kripto global juga menunjukkan peningkatan sebesar 0,76% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,63 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, turut terangkat 0,65%. Ethereum (ETH) naik 1,22% menjadi US$ 2.456, sementara Binance Coin (BNB) menguat 0,42% ke level US$ 701.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin tercatat melonjak sekitar 23,5%. Harga sempat menembus US$ 79.000 pada Jumat (21/8/2026), menandai pemulihan signifikan bagi pasar kripto secara keseluruhan.

Penguatan Bitcoin semakin mendapat sorotan setelah harganya berhasil menembus moving average (MA) 200 hari untuk pertama kalinya sejak November 2025. MA200 merupakan indikator penting yang sering digunakan untuk mengamati tren jangka panjang. Pergerakan harga di atas indikator ini umumnya dianggap sebagai sinyal momentum bullish.

Salah satu faktor utama yang mendorong reli aset kripto adalah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat. Utang pemerintah AS telah melampaui US$ 40 triliun, dengan biaya pembayaran bunga utang yang terus membengkak. Situasi ini mendorong sebagian investor untuk mencari aset alternatif di luar instrumen berbasis dolar AS, seperti Bitcoin dan emas.

Kebijakan Departemen Keuangan AS untuk setidaknya menggandakan ukuran operasi tertentu dalam program debt buyback menjadi US$ 4 miliar juga turut memperkuat sentimen tersebut.

Target Bitcoin Meningkat

Para analis melihat kombinasi antara inflasi, defisit fiskal, dan kebijakan obligasi AS sebagai faktor yang mendorong kenaikan harga aset kripto dan logam mulia secara simultan.

Momentum Bitcoin juga diperkuat oleh peningkatan arus dana ke produk investasi berbasis kripto. ETF Bitcoin dan Ether mencatat total arus masuk lebih dari US$ 2,61 miliar sepanjang pekan lalu. Bersamaan dengan itu, posisi investasi Strategy yang dipimpin oleh Michael Saylor kembali berada di atas titik impas, yaitu sekitar US$ 75.385 per Bitcoin.

Pelaku pasar juga mulai meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan harga Bitcoin lebih lanjut. Berdasarkan pasar prediksi, probabilitas Bitcoin mencapai US$ 90.000 sebelum tahun 2027 berada di kisaran 48%.

Optimisme terhadap prospek Bitcoin juga datang dari Standard Chartered. Bank tersebut menilai Bitcoin berpeluang untuk kembali menguji rekor tertingginya di sekitar US$ 126.000 sebelum akhir tahun ini. Geoff Kendrick, Global Head of Digital Asset Research Standard Chartered, bahkan mengisyaratkan bahwa target akhir tahun sebelumnya sebesar US$ 100.000 mungkin terlalu konservatif.

Menurut Kendrick, reli terbaru ini terutama didorong oleh likuidasi posisi short. Selain itu, arus dana ke ETF Bitcoin juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. “Jika harga terus menguat, rendahnya open interest saat ini masih memberikan ruang bagi investor baru untuk kembali masuk ke pasar,” ujarnya.