— Harga Bitcoin (BTC) terpantau melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai ekspektasi pasar, yang seharusnya meningkatkan peluang Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada September.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.25 WIB, harga Bitcoin tercatat turun 0,29% menjadi US$ 63.333 per koin. Kapitalisasi pasar kripto global juga mengalami penurunan 0,3% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,17 triliun. Aset kripto besar lainnya seperti Ethereum (ETH) terkoreksi 0,23% menjadi US$ 1.874, dan Binance Coin (BNB) jatuh 0,64% menjadi US$ 609. Namun, Indeks CoinDesk 20 yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar justru mencatat kenaikan 0,57%.

Menurut CoinTelegraph, Bitcoin gagal mempertahankan penguatan setelah data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli dirilis sesuai dengan prediksi pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan kenaikan CPI sebesar 0,1% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan.

Data CPI yang sesuai ekspektasi ini sebenarnya memberikan ruang bagi The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga, yang secara teori seharusnya menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto. Fabian Dori, Chief Investment Officer Sygnum Bank, menyatakan bahwa kombinasi inflasi yang lebih rendah dan data tenaga kerja yang melemah dapat memperkuat argumen The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga.

Dori menambahkan bahwa data CPI yang sesuai ekspektasi, ditambah laporan pekerjaan yang lemah, mengindikasikan perlambatan ekonomi yang bertahap tanpa menimbulkan kekhawatiran resesi atau membuat kebijakan The Fed menjadi lebih agresif (hawkish). Data CME Group FedWatch Tool menunjukkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan September mencapai sekitar 60%, meningkat signifikan dari sekitar 30% sebulan sebelumnya.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih menantikan data ekonomi berikutnya, yaitu Producer Price Index (PPI) Juli yang dijadwalkan rilis pada Kamis (13/8), yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter AS.

Bitcoin Rawan Koreksi

Managing Partner DWF Labs, Andrei Grachev, menilai data CPI yang sesuai ekspektasi belum memberikan perubahan signifikan terhadap prospek pasar, terutama setelah laporan ketenagakerjaan pekan lalu.

Grachev menyoroti bahwa pasar opsi Bitcoin masih menunjukkan premi yang cukup besar untuk perlindungan dari penurunan harga. Pada kontrak yang jatuh tempo akhir Agustus, strike harga di sekitar US$ 60.000 tercatat lebih mahal dibandingkan strike sisi atas di kisaran US$ 70.000. Data PPI yang akan dirilis menjadi ujian berikutnya untuk melihat apakah premi perlindungan terhadap penurunan harga ini akan berkurang.

Dari sisi teknikal, Bitcoin menghadapi tekanan di sekitar level US$ 63.000. Trader dan analis Rekt Capital memperingatkan bahwa setiap kali Bitcoin memantul dari level tersebut, kekuatan kenaikannya cenderung melemah. Rekt Capital mencatat bahwa penguatan dari support US$ 63.000 terus menurun, dari 6,27% menjadi hanya sekitar 1,15% pada pantulan terbaru. Hal ini meningkatkan risiko level US$ 63.000 akhirnya ditembus.

Rekt Capital sebelumnya juga mengingatkan bahwa pola pasar bearish Bitcoin kembali terlihat. Rata-rata pergerakan eksponensial 50 bulan (EMA 50) saat ini berada di sekitar US$ 65.827 dan telah berubah menjadi area resistance yang kuat.

Riset Bitfinex Alpha juga menyoroti kuatnya resistance Bitcoin di kisaran US$ 65.000-65.500. Meskipun indeks saham AS mencetak level tertinggi baru dalam dua pekan terakhir, Bitcoin berulang kali gagal menembus zona resistance tersebut. Dalam periode 5-10 Agustus, Bitcoin mencatat enam kali level tertinggi harian di atas US$65.000, namun tidak mampu mencatatkan penutupan harian di atas level tersebut. Kondisi ini menunjukkan Bitcoin masih menghadapi tekanan jual yang signifikan. Jika support US$63.000 ditembus, risiko koreksi lebih dalam akan semakin terbuka.