DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) mengalami pelemahan lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (11/8/2026) pagi. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan tekanan yang dirasakan pasar aset berisiko.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.50 WIB, harga Bitcoin tercatat US$63.903 per koin, sebuah penurunan sebesar 1,5%. Nilai ini setara dengan sekitar Rp1,13 miliar, dengan asumsi kurs Rp17.795 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar aset kripto global pun ikut tergerus, turun 1,19% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,18 triliun. Aset kripto unggulan lainnya seperti Ethereum (ETH) ambles 2% menjadi US$1.871, sementara Binance Coin (BNB) melemah 0,56% ke angka US$598. Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, juga turun 1,5%.
Mengutip CoinTelegraph, pergerakan Bitcoin di bawah US$64.500 terjadi setelah sesi perdagangan Wall Street dibuka pada Senin (10/8/2026). Data dari TradingView menunjukkan pasangan BTC/USD sempat menyentuh level terendah sejak Jumat di angka US$64.447 di bursa Bitstamp.
Pergerakan Bitcoin ini dinilai mengikuti tren pasar saham Amerika Serikat yang juga mengalami tekanan. Hal ini dipicu oleh memudarnya harapan mengenai pembukaan kembali jalur minyak di Selat Hormuz.
Ketidakpastian ini diperkuat oleh pernyataan Deputy Speaker Parlemen Iran, Ali Nikzad, yang menyebutkan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak memiliki solusi militer. Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi yang masih belum pasti terkait kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.
Kondisi ini turut berdampak pada harga minyak mentah. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat naik hampir 5% menjadi sekitar US$80,90 per barel. Kenaikan harga minyak ini berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi pasar global secara umum.
Arus ETF Tetap Kuat
Meskipun harga Bitcoin menunjukkan pelemahan, sejumlah indikator justru menandakan bahwa dukungan dari investor institusional masih tetap kuat.
Glassnode dalam laporannya menyebutkan bahwa pemulihan Bitcoin masih bersifat tentatif. Hal ini disebabkan oleh momentum pasar spot yang belum cukup kuat untuk menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan.
“Momentum telah kembali menuju netral dan pembelian spot taker meningkat tajam, tetapi aktivitas perdagangan secara keseluruhan di bursa terpusat masih terbatas,” ujar Glassnode dalam laporan Market Pulse. Kondisi ini mengindikasikan bahwa permintaan mulai membaik, namun masih dalam fase konsolidasi dan belum menunjukkan peningkatan aktivitas spekulatif yang meluas.
Salah satu katalis positif yang terlihat berasal dari arus dana institusional. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat berhasil mencatat arus masuk bersih sebesar US$865,3 juta sepanjang pekan lalu, berdasarkan data Farside Investors.
Data dari CryptoQuant juga menunjukkan bahwa hedge fund telah berbalik menjadi net long pada kontrak berjangka Bitcoin di CME. CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menilai kondisi ini sebagai fenomena yang jarang terjadi.
Pergerakan Bitcoin selanjutnya diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak, serta kekuatan arus dana institusional yang mengalir ke aset kripto.
Ikuti DailyFX.ID
