— JAKARTA – Transformasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) menjadi platform mobilitas terintegrasi telah membuka babak baru bagi pertumbuhan perseroan. Diversifikasi bisnis yang dilakukan diproyeksikan tidak hanya menopang laba, tetapi juga memperkuat prospek sahamnya di masa depan.

Perubahan model bisnis ini secara bertahap mengurangi ketergantungan BIRD pada bisnis taksi sebagai satu-satunya sumber pertumbuhan. Kontribusi bisnis non-taksi terus menunjukkan peningkatan, dari 22% dari total pendapatan pada tahun 2022, menjadi 30% pada tahun 2025, dan diproyeksikan mencapai sekitar 33% pada tahun 2028.

Transformasi ini juga memberikan peluang bagi BIRD untuk meningkatkan kualitas pendapatan dan efisiensi aset. Selain layanan rental, shuttle, bus, logistik, dan lelang kendaraan, perseroan juga memperoleh keuntungan dari penjualan armada. Penjualan armada ini dinilai menjadi sumber laba berulang yang belum sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.

Jika pertumbuhan berbagai lini bisnis tersebut berjalan sesuai proyeksi, profil BIRD berpotensi bergeser dari sekadar emiten taksi menjadi perusahaan mobilitas dengan sumber pertumbuhan yang lebih beragam.

“BIRD terus berkembang melampaui bisnis taksi tradisional menuju platform mobilitas yang terintegrasi. Transformasi ini didukung oleh kekuatan merek, armada dan infrastruktur pemeliharaan yang luas, manajemen risiko aset yang disiplin, serta ekosistem bisnis non-taksi yang terus berkembang,” kata Analis KB Valbury Sekuritas Adolf R B Setiadi dalam risetnya, Rabu (26/8/2026).

Adolf menambahkan, ekosistem mobilitas tersebut ditopang oleh infrastruktur operasional yang mencakup armada kendaraan yang besar, fasilitas perawatan bersertifikasi ISO, manajemen pengemudi yang terpusat, layanan call center, serta aplikasi MyBlueBird.

“Ekosistem terintegrasi ini memungkinkan BIRD menjaga kualitas layanan, mengoptimalkan utilisasi armada, dan memperkuat hubungan dengan pelanggan di wilayah Jabodetabek serta sejumlah pusat regional dan pariwisata, seperti Bali, Bandung, Medan, Surabaya, Makassar, dan Lombok,” tutur dia.

Adolf juga menyoroti dukungan manajemen risiko pada model bisnis BIRD yang padat aset. Perusahaan mengasuransikan armada operasionalnya terhadap berbagai risiko utama, termasuk bencana alam, kerusuhan, sabotase, dan kejadian lain yang ditanggung asuransi.

“Langkah ini melindungi basis aset sekaligus mengurangi potensi gangguan operasional dan keuangan akibat kejadian yang tidak terduga,” tegas dia.

Inovasi BlueBird Prime

Pada bisnis taksi, ekspansi armada dan pemanfaatan teknologi menjadi pendorong utama. Inovasi terbaru hadir melalui BlueBird Prime yang diluncurkan pada Juli 2026. Layanan taksi premium tersebut menggunakan Toyota Innova Zenix Hybrid dan BYD E6 dengan tarif yang bersaing dengan layanan premium dari perusahaan ride-hailing.

Tingkat utilisasi awal BlueBird Prime mencapai sekitar 93%, lebih tinggi dibandingkan sekitar 80% pada armada reguler. Rata-rata Pendapatan Per Armada (ARPV) juga mencapai sekitar Rp1,1 juta, dibandingkan sekitar Rp700 ribu pada armada reguler.

Adolf menilai, kinerja awal tersebut menunjukkan potensi BlueBird Prime untuk meningkatkan produktivitas armada. Namun, kontribusinya terhadap kinerja jangka pendek masih terbatas karena target armada hanya 625 unit pada tahun 2026.

KB Valbury memproyeksikan pendapatan segmen taksi mencapai Rp4,53 triliun pada tahun 2026 atau tumbuh 13,5%. Pada tahun 2027, pendapatan segmen tersebut diperkirakan meningkat 9,9% menjadi Rp4,97 triliun.

Diversifikasi Bisnis Non-Taksi

Sementara itu, bisnis non-taksi menjadi sumber pertumbuhan yang semakin penting. Kontribusinya terhadap pendapatan meningkat dari 22% pada tahun 2022 menjadi 30% pada tahun 2025, dan diperkirakan mencapai sekitar 33% pada tahun 2028.

Goldenbird masih menjadi kontributor terbesar dalam segmen non-taksi. Bisnis rental kendaraan tersebut memiliki lebih dari 7.000 unit kendaraan di 20 kota dan menyumbang sekitar 40% pendapatan non-taksi. Pendapatan Goldenbird diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 13,4% sepanjang periode 2026-2031.

Pada tahun 2026, pendapatan Goldenbird diperkirakan mencapai Rp840,3 miliar atau tumbuh 5,8%. Pertumbuhan kemudian diproyeksikan mencapai 12,1% pada tahun 2027 dengan pendapatan Rp942,2 miliar.

Cititrans juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan utama. Bisnis shuttle tersebut mencatat CAGR pendapatan 35,1% sepanjang periode 2022-2025 dan diproyeksikan membukukan pendapatan Rp457,1 miliar pada tahun 2026, tumbuh 28,7%. Pada tahun 2027, pendapatan diperkirakan naik 16,4% menjadi Rp532,3 miliar.

Bisnis rental bus dan BRT melalui BigBird diperkirakan menyumbang Rp433,8 miliar pada tahun 2026 atau tumbuh 4,9%. Pada tahun 2027, pendapatan diproyeksikan melonjak 37,4% menjadi Rp596,1 miliar.

Secara keseluruhan, KB Valbury memperkirakan, pendapatan BIRD mencapai Rp6,42 triliun pada tahun 2026 dan Rp7,21 triliun pada tahun 2027. Pertumbuhan masing-masing sebesar 12,7% dan 12,3% tersebut sejalan dengan panduan manajemen yang menargetkan pertumbuhan pendapatan 10-14% secara tahunan.

Keuntungan Penjualan Armada

Di luar pendapatan operasional, keuntungan penjualan armada menjadi sumber laba yang dinilai masih kurang diperhatikan pasar. BIRD menerapkan siklus penggantian kendaraan sekitar lima tahun. Kendaraan yang telah digunakan kemudian dijual, sehingga menghasilkan keuntungan tambahan bagi perseroan.

Standar pemeliharaan armada yang didukung fasilitas bersertifikasi ISO turut membantu menjaga nilai jual kembali kendaraan. Dengan siklus penggantian yang rutin, keuntungan penjualan armada berpotensi menjadi sumber laba berulang, seiring ekspansi jumlah kendaraan.

Pada tahun 2025, keuntungan penjualan armada mencapai Rp137,1 miliar atau sekitar 16,6% dari laba sebelum pajak. KB Valbury memperkirakan, angka tersebut meningkat menjadi Rp161,1 miliar pada tahun 2026 dan Rp187,1 miliar pada tahun 2027.

Secara total, BIRD diperkirakan dapat mengantongi laba bersih Rp687,5 miliar pada tahun 2026, tumbuh 8,1%. Laba diproyeksikan naik 11,1% pada tahun 2027 menjadi Rp763,8 miliar. Proyeksi tersebut menghasilkan EPS masing-masing Rp274,8 dan Rp305,2 per saham.

Rekomendasi Saham

Mempertimbangkan berbagai hal tersebut, KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham Bluebird. “Kami memulai cakupan terhadap BIRD dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp2.050,” ujar Adolf.

Target harga tersebut mengimplikasikan potensi kenaikan 26,54% dari harga saham BIRD sebesar Rp1.620. Target diperoleh dengan menggunakan pendekatan P/E 7,4 kali, sejalan dengan rata-rata historis BIRD selama tiga tahun, terhadap proyeksi EPS tahun 2026 sebesar Rp274,8.

Dari sisi valuasi, BIRD dinilai masih diperdagangkan pada level rendah. P/E tahun 2026 sebesar 5,9 kali berada jauh di bawah rata-rata sektor yang mencapai 18,9 kali. Perseroan juga menawarkan profil dividen menarik dengan DPR tahun 2025 sebesar 65,3% dan dividend yield 10,6%.