— PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat laba bersih secara bank only pada Juli 2026 sebesar Rp 4,50 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan 13,32% secara month-on-month (mom) dan 4,85% secara year-on-year (yoy). Meskipun demikian, laba bersih tahun berjalan untuk tujuh bulan pertama tahun 2027 (7M26) mencapai Rp 33,01 triliun, yang berarti ada peningkatan sebesar 19,91% yoy.

Memasuki paruh kedua tahun ini, Bank Mandiri berhasil menjaga biaya kredit tetap rendah dan mencatat pertumbuhan pendapatan komisi yang baik, yang turut menopang profitabilitas. Namun, sejumlah tantangan mulai mengemuka, terutama tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan pengetatan likuiditas, meskipun penyaluran kredit tetap berjalan tinggi.

Berdasarkan laporan keuangan Bank Mandiri per Juli 2026, penyaluran kredit secara individu masih tumbuh kencang sebesar 0,26% mom dan 19,45% yoy. Namun, laju pertumbuhan kredit ini terindikasi melambat dalam dua bulan terakhir, dibandingkan pertumbuhan 20,64% yoy pada Mei 2026. Jika dibandingkan dengan target kredit konsolidasi tahun ini yang dipatok manajemen sebesar 7-9% yoy, perkembangan kredit BMRI kemungkinan akan terus melambat hingga akhir tahun.

Kondisi likuiditas bank saat ini juga dilaporkan semakin mengetat. Hal ini tercermin dari margin bunga bersih (NIM) yang terus menurun menjadi 3,66% pada Juli 2026 dan 3,89% selama 7M26, angka terendah sepanjang tahun berjalan. Tren NIM yang tertekan ini mendorong manajemen Bank Mandiri untuk merevisi turun target NIM konsolidasi menjadi 4,3-4,5% pada paparan kuartal II-2026. Keputusan ini merupakan respons terhadap lonjakan biaya dana, pengetatan likuiditas, serta tekanan imbal hasil kredit akibat persaingan industri.

Pengetatan likuiditas terlihat pada loan to deposit ratio (LDR) yang merangkak naik ke level 94,76% per Juli 2026, meningkat dari 93,08% pada bulan sebelumnya. Kenaikan LDR ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 18,48% yoy, yang lebih lambat dibandingkan realisasi penyaluran kredit.

Nilai DPK Bank Mandiri secara individu mencapai Rp 1.684,07 triliun. Meskipun total DPK tumbuh tinggi, penghimpunan dana murah atau current account saving account (CASA) hanya tumbuh 6,62% yoy menjadi Rp 1.185,17 triliun. Komposisi dana murah ini terdiri dari giro Rp 617,72 triliun (tumbuh 2,59% yoy) dan tabungan Rp 567,44 triliun (naik 11,37% yoy). Di sisi lain, deposito melesat 61,06% yoy menjadi Rp 498,90 triliun.

Akibatnya, rasio dana murah atau CASA Bank Mandiri menyusut dari 78,21% pada Juli 2025 menjadi 70,38% per Juli 2026. Hal ini turut mendorong beban bunga meningkat 1,59% yoy menjadi Rp 26,68 triliun selama 7M26, menandai dimulainya lonjakan dalam dua bulan terakhir.

Biaya Kredit Tetap Rendah

Hingga Juli 2026, Bank Mandiri membukukan pendapatan bunga senilai Rp 74,99 triliun, naik 6,83% yoy. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat sebesar Rp 48,31 triliun, meningkat 9,97% yoy.

Meskipun beberapa indikator keuangan menunjukkan adanya penyesuaian, BMRI berhasil menjaga indikator lainnya. Biaya provisi turun 0,06% mom dan 4,33% yoy menjadi Rp 4,79 triliun pada Juli 2026, dengan cost of credit (CoC) yang terjaga rendah di angka 0,53%.

Pendapatan komisi terus melaju dengan pertumbuhan 22,37% yoy menjadi Rp 13,49 triliun, menjadikannya salah satu yang tercepat dan terbesar di antara bank-bank kasta tertinggi. Dari sisi profitabilitas, return on asset (ROA) tercatat sebesar 2,49% dan return on equity mencapai 21,85% per Juli 2026, sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya yang masing-masing berada di level 2,68% dan 24,91%.

Pada perdagangan Selasa (18/8/2026), saham BMRI terkoreksi tipis 0,48% ke posisi 4.150. Dengan pergerakan tersebut, saham BMRI telah terkoreksi 18,63% sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD).