— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama berbagai pemangku kepentingan terus berupaya keras untuk memastikan kelancaran distribusi bantuan logistik bagi para korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan potensi korban akibat kekurangan pasokan logistik di lokasi pengungsian.

Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan komitmen penuh dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. “Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan,” ungkap Suharyanto dalam keterangannya pada Jumat (21/8/2026).

Distribusi logistik bagi warga terdampak terus digencarkan. Hingga 19 Agustus 2026, BNPB mencatat total 72,77 ton bantuan logistik telah didistribusikan melalui jalur udara. Prioritas pengiriman pada hari yang sama meliputi 5.000 paket sembako untuk Posko Maumere dan 2.900 paket sembako untuk Posko Labuan Bajo.

Untuk memperluas jangkauan distribusi, sejumlah armada laut turut dikerahkan. Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta telah diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai. Kapal ini membawa paket bantuan dari Presiden, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi dari masyarakat yang akan disalurkan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Selain itu, TNI Angkatan Laut juga mengerahkan KRI dr. Soeharso, yang berfungsi sebagai kapal bantu rumah sakit, untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi para korban.

Suharyanto merinci bahwa dukungan logistik yang diberikan mencakup berbagai kebutuhan vital seperti beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, perlengkapan kebersihan (hygiene kit), bahan bakar minyak (BBM), generator set (genset), dan kebutuhan esensial lainnya. Hingga kini, sebanyak 882 unit tenda dan dua unit rumah sakit lapangan juga telah disiapkan.

Meskipun upaya maksimal terus dilakukan, tim BNPB di lapangan menemukan beberapa kendala dalam penyaluran distribusi logistik. Salah satu kendala utama adalah tersebarnya titik-titik pengungsian secara mandiri oleh warga, yang menyulitkan proses pendataan dan distribusi bantuan secara merata.

“Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi,” tegas Suharyanto, menegaskan komitmen BNPB untuk menjangkau semua korban.