— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong industri dalam negeri untuk memperkuat kemampuan produksi teknologi dan peralatan kebencanaan. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan membangun kemandirian industri kebencanaan di Indonesia melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pameran Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa pengembangan industri kebencanaan membutuhkan proses bertahap.

Menurut Raditya, industri nasional dapat memulai dengan memproduksi komponen teknologi yang sudah mampu dibuat di dalam negeri. “Kalau belum bisa membuat alatnya, apa yang bisa dibuat dari bagian alat itu. Misalnya kalau kita sebut dengan TKDN, persyaratan untuk setiap teknologi industri itu harus ada produk dalam negeri yang bisa kita perkuat,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).

Beberapa komponen teknologi kebencanaan, seperti baterai, energi solar cell, dan sirene, dinilai berpotensi untuk dikembangkan di dalam negeri. Pengembangan komponen ini dapat menjadi langkah awal bagi industri Indonesia untuk meningkatkan kapabilitas teknologi sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk asing. Raditya mencontohkan teknologi sirene yang saat ini masih mengandalkan produk luar negeri.

Perkembangan industri kebencanaan mulai menunjukkan hasil positif, terbukti dengan masuknya investasi yang sebelumnya menargetkan produk impor. Sebagai contoh, investasi pabrik filterisasi air di Batam yang kini memproduksi barang yang sebelumnya diimpor. “Contoh yang sudah bisa langsung ber-impact itu sudah mulai ada investasi yang membuka pabrik, misalnya filterisasi air. Yang dulunya produk luar, sekarang buka pabrik di Batam,” jelas Raditya.

Perkembangan ini mengindikasikan bahwa sektor kebencanaan memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ekosistem industri yang lebih luas. Kebutuhan produk kebencanaan tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga mencakup kebutuhan mitigasi sebelum bencana dan pemulihan setelahnya. Kebutuhan tersebut meliputi teknologi deteksi dini, sensor, sirene, tenda darurat, sistem penyediaan air bersih, logistik, hingga hunian sementara dan tetap.

Oleh karena itu, ADEXCO diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan pemerintah dan masyarakat dengan para pelaku industri, investor, dan pengembang teknologi. “Jadi ini bukan hanya sekadar pameran. Ini adalah bagaimana kita menjembatani antara investasi, kebutuhan, dan bagaimana kemandirian industrialisasi ke depan untuk menghadapi bencana,” ujar Raditya.

Dorong Business Matching

BNPB juga berupaya memperkuat hubungan antara lembaga riset, dunia usaha, manufaktur, dan pasar untuk memastikan inovasi teknologi kebencanaan tidak berhenti pada tahap prototipe. Keberadaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dinilai dapat menjadi penghubung antara hasil riset dan kebutuhan industri.

Raditya menekankan pentingnya penguatan proses hilirisasi melalui business matching dan business meeting. “Kita sekarang BRIN punya kebijakan bagaimana menjembatani antara teknologi inovasi yang diprototypekan menjadi industri. Ini harus sering dilakukan. Business match, business meet,” tuturnya.

Inovasi teknologi perlu dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar agar hasil riset dapat diproduksi secara massal dan memiliki nilai ekonomi. Potensi pasar industri kebencanaan di Indonesia sangat besar mengingat tingginya risiko bencana, termasuk 127 gunung api aktif dan ratusan garis sesar aktif. Potensi risiko ini sekaligus menciptakan kebutuhan akan teknologi mitigasi dan penanganan bencana.

Jika industri nasional mampu memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia berpeluang menjadi pusat produk kebencanaan di kawasan dan merambah pasar internasional. Produk sederhana seperti tenda darurat yang mudah dipasang dan segera digunakan memiliki potensi ekspor. Pengembangan industri kebencanaan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan oleh pemerintah, industri, lembaga riset, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem yang menghasilkan produk kebencanaan dengan kandungan lokal yang tinggi. “Kita butuh endurance. Kita enggak bisa hanya sekali, dua kali, tapi harus terus,” pungkas Raditya.