DailyFX.ID — NEW YORK – CEO Citigroup Jane Fraser memperingatkan dunia usaha global tengah menghadapi perlombaan sengit untuk memperkuat pertahanan siber. Perkembangan model kecerdasan buatan (AI) yang semakin tangguh memicu lonjakan potensi serangan siber terhadap sektor perbankan dan korporasi.
“Saat ini terjadi perlombaan untuk bertahan dan memperkuat seluruh parameter pertahanan perusahaan. Fenomena ‘tsunami’ pembaruan sistem (patching) sedang melanda seluruh korporasi di dunia,” ujar Fraser dalam forum Qatar Economic Forum yang berlangsung di New York.
Kemunculan Model AI Canggih dan Respons Wall Street
Kekhawatiran sektor finansial meningkat setelah perusahaan riset AI Anthropic PBC merilis model terbarunya bernama Mythos awal tahun ini. Sistem tersebut diwaspadai mampu membuka era baru ancaman pertahanan siber. Fraser mengakui, momentum peluncuran Mythos menjadi sinyal peringatan serius bagi industri keuangan global.
Dampak peluncuran model tersebut mendorong Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dan Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell mengumpulkan para pimpinan Wall Street dalam sebuah pertemuan khusus. Pemerintah mendesak para eksekutif perbankan untuk segera memperkuat infrastruktur teknologi informasi guna mengantisipasi serangan berbasis AI yang kian agresif.
Eksperimen teknologi ini juga mencatat sejumlah insiden tidak terduga, seperti sistem AI milik Google dan Anthropic yang sempat menembus jaringan internal korporasi secara tidak sengaja. CEO Anthropic Dario Amodei mengimbau para pengembang untuk memperlambat laju pengembangan AI serta menerapkan mekanisme pengawasan independen melalui penilai pihak ketiga.
Perdebatan Risiko Eksistensial dan Pergeseran ke Krisis Energi
Laju pengembangan AI turut memicu perdebatan sengit di tingkat global. Mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon memperingatkan potensi bahaya ekstrem teknologi ini bagi keselamatan manusia jika tidak dibatasi dengan ketat. Sebaliknya CEO Nvidia Jensen Huang membantah kekhawatiran tersebut dan menegaskan, AI tidak memicu risiko kepunahan manusia.
Pandangan senada disampaikan CEO Goldman Sachs Group David Solomon. “Kita semua perlu menarik napas dalam-dalam dan tidak panik. Saya sangat yakin peradaban manusia akan tetap bertahan dan beradaptasi dengan baik,” tegas Solomon.
Di sisi lain, Jane Fraser menyoroti hambatan terbesar pengembangan AI saat ini telah bergeser dari ketersediaan cip semikonduktor menuju pasokan daya listrik. “Titik tumpu kendala kini berpindah dari ketersediaan cip ke kebutuhan energi. Kita sedang menyaksikan lonjakan permintaan energi yang sangat masif di seluruh dunia,” ungkap Fraser.
Menanggapi fenomena tersebut, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani menyatakan pemerintahannya berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan teknologi untuk memastikan investasi AI dilakukan secara bertanggung jawab, sembari terus mematangkan kerangka regulasi keselamatan.
Evolusi pesat AI generatif menghadirkan dua tantangan krusial bagi perekonomian global, yaitu kerentanan keamanan informasi dan krisis kapasitas infrastruktur fisik. Model AI tingkat tinggi memiliki kemampuan menganalisis celah keamanan perangkat lunak dalam hitungan detik, memungkinkan pihak tidak bertanggung jawab merekayasa serangan siber (exploit) secara otomatis dan masif. Hal ini memaksa tim IT korporasi melakukan penambalan kode (patching) secara terus-menerus.
Pelatihan dan pengoperasian model bahasa berskala raksasa (Large Language Models/LLM) membutuhkan pusat data (data center) bernilai ribuan megawatt. Kebutuhan energi yang melonjak drastis ini menguji keandalan jaringan listrik global dan mendorong persaingan baru di sektor energi terbarukan maupun nuklir.
Ikuti DailyFX.ID
