DailyFX.ID — Wall Street mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, dengan saham-saham di sektor teknologi menjadi motor penggerak utama. Kinerja positif ini berhasil mengantarkan indeks-indeks saham utama Amerika Serikat meraih kenaikan dalam sepekan, meskipun pasar masih dibayangi oleh lonjakan tajam pada yield obligasi AS.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat melonjak 478,64 poin atau 0,93% mencapai 51.828,62. Indeks S&P 500 juga mengikuti tren positif dengan kenaikan 0,51% ke level 7.743,41, sementara Nasdaq Composite menguat 0,5% ditutup pada 27.068,72.
Kenaikan ini mengukuhkan pekan yang positif bagi pasar saham AS. Sepanjang pekan, Dow Jones berhasil naik 0,3%, S&P 500 menguat 1,2%, dan Nasdaq mencatat penguatan terbesar dengan 2%.
Saham-saham teknologi menjadi salah satu pilar utama penguatan Wall Street. Sektor teknologi informasi dalam indeks S&P 500 melonjak 3,1% sepanjang pekan, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Perhatian khusus tertuju pada Meta Platforms yang membukukan kenaikan hampir 13% dalam sepekan, didorong oleh antusiasme investor terhadap pengembangan agen kecerdasan buatan (AI) bernama Muse.
Performa positif juga ditunjukkan oleh Akamai Technologies yang menguat 3% pada perdagangan Jumat, setelah perusahaan mengumumkan kemitraan strategis jangka panjang dengan Anthropic.
Di sisi lain pasar, sektor obligasi AS justru menunjukkan tekanan yang meningkat. Yield obligasi AS tenor 10 tahun dilaporkan naik ke level tertinggi sejak tahun 2007, sementara yield tenor 30 tahun mencapai titik tertinggi sejak 2004.
Saat ini, yield obligasi AS 10 tahun berada di angka 5,163%, dan yield 30 tahun mencapai 5,488%.
Kenaikan yield obligasi sepanjang pekan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk pernyataan hawkish dari Gubernur The Fed Michael Barr, lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik Iran, serta data purchasing managers’ index (PMI) yang mengindikasikan aktivitas ekonomi masih menunjukkan kekuatan.
Pasar juga kembali meningkatkan ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool yang melacak perdagangan futures suku bunga, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mendatang mencapai sekitar 64%.
Minyak Meredakan Tekanan
Presiden The Wealth Alliance, Eric Diton, menyatakan bahwa sentimen investor mulai menunjukkan pelemahan seiring dengan tren kenaikan yield obligasi AS. Meskipun demikian, ia menilai bahwa pasar saham masih memiliki ketahanan untuk menghadapi tekanan ini, dengan S&P 500 dan Nasdaq yang masih berada sekitar 1% di bawah level tertinggi yang pernah dicapai.
“Jika suku bunga terus naik, dampaknya terhadap kinerja pasar pada suatu titik akan menjadi lebih besar,” ujar Diton.
Sentimen positif bagi Wall Street juga turut didorong oleh penurunan harga minyak mentah. Optimisme mengenai potensi pembukaan kembali Selat Hormuz telah meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,33% menjadi US$92,41 per barel. Sementara itu, minyak Brent, yang menjadi patokan global, melemah 2,14% menjadi US$104,32 per barel.
Pelaku pasar juga memberikan perhatian pada perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengumumkan bahwa detail lebih lanjut mengenai negosiasi kedua negara akan dirilis pada hari Senin.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan China telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dagang selama dua bulan.
Ikuti DailyFX.ID
