DailyFX.ID — JAKARTA – Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC), dilaporkan melakukan pembelian emas dalam jumlah yang jauh lebih besar dari angka resmi yang dipublikasikan. Estimasi terbaru dari Goldman Sachs menunjukkan bahwa transaksi melalui pasar luar bursa (over-the-counter/OTC) di London jauh melampaui pelaporan resmi.
PBoC secara resmi melaporkan penambahan 15 ton emas pada Juni 2026. Namun, data transaksi OTC di pasar London mengindikasikan jumlah pembelian sebenarnya mencapai 40 ton pada bulan yang sama. Kesenjangan serupa juga terjadi pada Mei 2026, di mana laporan resmi mencatat pembelian 10 ton, sementara data OTC menunjukkan angka 48 ton.
Jika digabungkan, total pembelian emas China melalui saluran OTC selama Mei dan Juni 2026 diperkirakan mencapai 88 ton. Angka ini melebihi seluruh total pembelian yang dilaporkan China secara resmi sepanjang tahun ini. Akun analisis pasar populer The Kobeissi Letter menyoroti temuan ini sebagai bukti kuat bahwa China sedang menimbun emas secara agresif di balik layar.
Meskipun terdapat perbedaan angka, laporan resmi PBoC tetap menunjukkan tren akumulasi yang konsisten. Pada Juli 2026, PBoC secara resmi menambahkan 20 ton emas ke dalam cadangannya, menandai penambahan bulanan terbesar sejak Oktober 2023. Dengan penambahan ini, total cadangan emas resmi China mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 2.366 ton, sekaligus memperpanjang rekor pembelian berturut-turut selama 21 bulan.
Kepemilikan Surat Utang AS Anjlok
Langkah China menggenjot cadangan emas ini berjalan seiring dengan upaya mereka untuk melepaskan ketergantungan pada utang pemerintah Amerika Serikat (AS). Kepemilikan China atas surat utang negara AS (US Treasury) merosot menjadi US$ 633,4 miliar pada Juni 2026.
Angka tersebut merupakan level terendah sejak tahun 2008, mengindikasikan pergeseran strategi besar-besaran dalam diversifikasi cadangan devisa negara tersebut. Di saat yang sama, minat masyarakat domestik China terhadap komoditas emas juga meningkat tajam.
Jumlah posisi terbuka (open interest) di Shanghai Futures Exchange melonjak mendekati 400.000 lot pada pekan ini, mencatatkan angka tertinggi sejak September 2025. Platform analisis Global Markets Investor di X menggambarkan lonjakan tersebut sebagai salah satu dari lima kenaikan open interest dua hari terbesar dalam lima tahun terakhir, menunjukkan investor ritel dan institusi di China kembali memborong logam mulia dengan kekuatan penuh.
Saat ini, harga emas dunia diperdagangkan di kisaran US$ 4.614 per ons, mencerminkan tingginya permintaan global yang kuat dan berkelanjutan. Kombinasi aksi borong bank sentral melalui OTC serta gairah tinggi di pasar berjangka menjadi sinyal kuat daya tarik emas di mata investor China masih kokoh.
Langkah China dalam mengumpulkan emas secara terelubung dan mengurangi porsi US Treasury tidak lepas dari dinamika geopolitik global serta strategi dedolarisasi. Sejak sanksi finansial Barat membekukan cadangan devisa Rusia pasca-konflik Ukraina, banyak negara berkembang, khususnya kelompok BRICS, mulai menyadari risiko ketergantungan yang terlalu tinggi pada dolar AS.
Emas dipandang sebagai aset netral tanpa counterparty risk yang tidak dapat dibekukan atau disanksi oleh negara mana pun. Selain untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari potensi konflik geopolitik, strategi pembelian emas secara tersembunyi (undisclosed buying) melalui pasar OTC lazim dilakukan oleh bank-bank sentral besar guna mencegah terjadinya lonjakan harga (price spike) yang terlalu drastis di pasar umum saat mereka sedang dalam proses pengumpulan aset.
Kombinasi ketidakpastian moneter global, risiko inflasi, dan keinginan menyeimbangkan dominasi mata uang tunggal menjadikan emas sebagai pilar utama pertahanan ekonomi China dalam jangka panjang.
Ikuti DailyFX.ID
