— Harga batu bara dunia menunjukkan tren kenaikan tajam pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan di China, yang mendorong impor batu bara kokas (coking coal) negara tersebut melonjak signifikan. Data terbaru menunjukkan volume impor pada Juli 2026 mencapai level tertinggi kedua dalam sejarah, sementara produksi batu bara domestik China dilaporkan mengalami penurunan.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 tercatat menguat US$ 1 menjadi US$ 131,5 per ton. Kontrak September 2026 juga mengalami kenaikan sebesar US$ 2, mencapai level US$ 138,25 per ton. Sementara itu, kontrak Oktober 2026 terkerek naik US$ 1,45 menjadi US$ 139,75 per ton.

Pergerakan serupa juga terlihat pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 untuk komoditas ini naik US$ 0,8 menjadi US$ 124,55 per ton. Kontrak September 2026 melonjak US$ 1,55 menjadi US$ 127,2 per ton, dan kontrak Oktober 2026 melesat US$ 1,15 menjadi US$ 128,15 per ton.

Dikutip dari Mysteel, data yang dirilis oleh General Administration of Customs (GACC) China mengungkapkan bahwa impor batu bara kokas China pada Juli 2026 mencapai 13,62 juta ton. Angka ini mengalami kenaikan 11,8% dibandingkan bulan sebelumnya (Juni 2026) dan melonjak drastis 41,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Juli 2025).

Volume impor tersebut menempatkan Juli 2026 sebagai bulan dengan impor batu bara kokas terbesar kedua dalam sejarah China, hanya terpaut sedikit dari rekor tertinggi sebelumnya. Nilai impor batu bara kokas China pada Juli 2026 mencapai US$1,83 miliar, yang menunjukkan peningkatan 32,2% secara bulanan dan meroket 126,8% dibandingkan Juli 2025.

Peningkatan volume dan nilai impor ini secara jelas mengindikasikan adanya kebutuhan China yang semakin besar terhadap pasokan batu bara dari pasar internasional. Hal ini diperkuat oleh kekhawatiran pasar mengenai tingkat produksi batu bara di dalam negeri.

Produksi Batu Bara China Mengalami Penurunan

Dari sisi pasokan domestik, data menunjukkan bahwa produksi batu bara mentah dari 10 produsen terbesar di China mencapai sekitar 168 juta ton pada Juli 2026. Angka ini dilaporkan turun 4,6% dibandingkan produksi pada Juni 2026, berdasarkan perhitungan Mysteel Global yang merujuk pada data dari China National Coal Association (CNCA).

Meskipun demikian, penurunan produksi dari perusahaan tambang besar tersebut tercatat relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan tren penurunan produksi secara nasional. Data dari National Bureau of Statistics (NBS) China menunjukkan bahwa produksi batu bara mentah China pada Juli 2026 mencapai sekitar 343 juta ton, yang berarti terjadi penurunan sebesar 10,1% secara bulanan.

Penurunan produksi batu bara mentah ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan batu bara domestik China. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kebutuhan impor batu bara dari luar negeri.

CNCA juga mencatat adanya perubahan produksi di antara 10 produsen batu bara terbesar di China, di mana sejumlah perusahaan dilaporkan mengalami penurunan output pada bulan Juli. Lonjakan impor batu bara kokas China yang terjadi bersamaan dengan kontraksi produksi domestik ini menegaskan adanya ketergantungan pada pasokan internasional untuk memenuhi permintaan industri.