DailyFX.ID — JAKARTA – Pergeseran agenda keberlanjutan di Indonesia kini melampaui sekadar kepatuhan, beralih menjadi strategi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi, daya saing, dan penciptaan nilai. Transformasi ini membuka jalan bagi peluang pertumbuhan baru di lima sektor strategis yang diidentifikasi oleh Bank DBS Indonesia.
Temuan ini dipublikasikan dalam riset berjudul ‘The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks’, hasil kolaborasi Bank DBS Indonesia dengan Tenggara Strategics. Kelima sektor yang menjadi fokus kajian adalah energi, energi terbarukan dan infrastruktur; teknologi, media dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menyatakan bahwa perusahaan memerlukan pandangan yang lebih jelas untuk menentukan prioritas dan membuat keputusan jangka panjang. “Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor,” ujar Anthonius dalam keterangan pers, Sabtu (22/8/2026).
Sektor Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur
Kebutuhan listrik diperkirakan melonjak signifikan, didorong oleh elektrifikasi kendaraan, hilirisasi mineral, kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan elektrifikasi rumah tangga. Proyeksi menunjukkan peningkatan konsumsi dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Peluang investasi meliputi energi surya, penyimpanan energi berbasis baterai, modernisasi jaringan listrik, dan elektrifikasi industri.
Sektor Teknologi, Media, dan Telekomunikasi
Pertumbuhan ekonomi digital terus meningkatkan permintaan terhadap layanan cloud, keamanan siber, dan pusat data. Green data center dipandang sebagai salah satu peluang investasi yang menjanjikan di masa depan.
Sektor Pangan dan Agribisnis
Fokus sektor ini bergeser dari ekspansi produksi ke peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan. Peluang yang muncul mencakup replanting, agritech, cold chain, ketertelusuran produk, serta pengembangan pupuk organik.
Sektor Kesehatan dan Farmasi
Dengan sekitar 90% bahan baku farmasi aktif (API) Indonesia masih diimpor, terdapat peluang besar untuk lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur dalam negeri, dan diversifikasi rantai pasok.
Sektor Logam dan Pertambangan
Sektor ini menghadapi tuntutan untuk meningkatkan kinerja karbon dan ketertelusuran produk. Indonesia, sebagai pemain utama nikel dunia dengan penguasaan sekitar 60% produksi global, memiliki potensi besar dalam pengembangan hilirisasi. Ini termasuk produksi komponen baterai, battery energy storage system (BESS), daur ulang, serta produk logam rendah karbon.
Meskipun peluang keberlanjutan sangat besar, DBS menekankan bahwa kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, dan kompleksitas struktur pembiayaan tetap menjadi faktor penentu kelayakan sebuah proyek. Oleh karena itu, peran perbankan berevolusi dari sekadar penyedia modal menjadi mitra advisory.
Head of Research PT Bank DBS Indonesia, William Simadiputra, menambahkan bahwa strategi bisnis masa depan harus mampu mengintegrasikan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan. “Strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” tegas William.
Riset tersebut merumuskan lima prioritas bagi pelaku usaha: bergerak ke segmen rantai nilai yang lebih tinggi, berinvestasi pada infrastruktur pendukung pertumbuhan, mengintegrasikan keberlanjutan dalam keputusan komersial, memperluas resilience financing, serta membangun ekosistem yang terintegrasi lintas sektor.
Ikuti DailyFX.ID
