— JAKARTA – Defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat melebar signifikan pada triwulan II-2026, mencapai US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini melonjak dari defisit triwulan sebelumnya yang sebesar US$ 3,6 miliar atau 1% PDB. Pelebaran defisit tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan impor minyak seiring dengan lonjakan harga minyak dunia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diperkirakan bersifat sementara. Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan impor minyak yang mengikuti tren harga minyak global yang tinggi.

“Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).

Selain itu, surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh peningkatan impor nonmigas yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan kegiatan ekonomi domestik yang masih tinggi. Defisit transaksi berjalan juga diperparah oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Namun, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Meskipun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih tetap terjaga. Pada triwulan II-2026, NPI mencatat defisit sebesar US$ 900 juta, sebuah perbaikan signifikan dibandingkan defisit US$ 9,1 miliar pada triwulan I-2026.

Perbaikan NPI ini ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus sebesar US$ 12 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$ 4,8 miliar pada triwulan I-2026. Surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi seiring dengan terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Sementara itu, investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat, didorong oleh kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Adapun investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.

Di tengah tekanan pada transaksi berjalan, posisi cadangan devisa Indonesia dilaporkan tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 145,6 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan prospek NPI tetap baik dan akan mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Defisit transaksi berjalan diprakirakan akan lebih rendah, didukung oleh perbaikan prospek ekspor sejalan dengan kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas unggulan ekspor Indonesia. Dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) juga diperkirakan turut berkontribusi.

“BI juga terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” ungkap Ramdan.