— Ruang kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) masih terbuka apabila risiko global kembali memburuk. Tekanan tersebut terutama dapat berasal dari kenaikan harga minyak, inflasi global, serta kebijakan suku bunga bank sentral global yang bertahan tinggi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa keputusan suku bunga acuan atau BI-Rate ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi global dan domestik.

“Risiko global masih tinggi. Ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah telah mendorong harga minyak global kembali di atas US$ 90 per barel,” ujar Josua dalam catatannya.

Menurut Josua, kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan potensi suku bunga global bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.

Meskipun data inflasi, pasar tenaga kerja, dan sektor riil Amerika Serikat terbaru menunjukkan tanda-tanda moderasi, Josua menilai perbaikan tersebut berpotensi bersifat sementara. Prospek kebijakan The Fed juga masih penuh ketidakpastian.

Sejumlah pernyataan pejabat The Fed menunjukkan bank sentral AS kemungkinan masih mempertahankan sikap hawkish, terutama karena inflasi masih berada di atas target jangka panjang 2%.

Di sisi domestik, kondisi ekonomi relatif lebih mendukung. Inflasi Indonesia telah kembali berada di bawah 3% secara tahunan, sementara membaiknya aliran modal masuk turut menopang rupiah.

Kinerja fiskal pemerintah pada semester I-2026 juga menunjukkan defisit fiskal masih terjaga. Namun, prospek fiskal tetap akan dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Di tengah kondisi tersebut, Josua mempertahankan proyeksi dasar bahwa BI akan menjaga BI-Rate di level 5,75% hingga akhir 2026.

“Namun, kami tidak menutup kemungkinan adanya pengetatan moneter tambahan apabila kondisi global atau domestik kembali memburuk,” katanya.

Dalam skenario downside, BI-Rate dapat kembali dinaikkan apabila kondisi global memburuk secara signifikan, melampaui tekanan yang terjadi pada semester I-2026.

Josua menilai, kenaikan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 telah mengantisipasi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada kuartal IV-2026.

Dengan demikian, BI dinilai telah berada di depan (ahead of the curve). Jika kenaikan suku bunga The Fed terjadi sesuai ekspektasi tanpa disertai memburuknya kondisi global, kemungkinan BI kembali menaikkan BI-Rate akan semakin kecil.

Sebelumnya, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya BI menjaga stabilitas rupiah, memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

BI juga memperluas skema insentif untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga kecukupan likuiditas. Insentif berupa pengurangan premi sebesar 12,5% untuk transaksi Swap Jual Lindung Nilai yang sebelumnya hanya berlaku bagi aliran dana portofolio diperluas mencakup pinjaman luar negeri oleh perbankan dan investasi langsung asing (FDI).