— TEHERAN – Mantan penasihat Bank Sentral Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan ekonomi Iran berada di ambang kehancuran. Meskipun demikian, ia memberikan peringatan bahwa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghentikan hubungan perdagangan dapat memperdalam kontraksi ekonomi Iran hingga sekitar 5% pada tahun ini.

“Kita harus sedikit berhati-hati terhadap pandangan yang menyebut ekonomi Iran berada di ambang keruntuhan,” ujar Mehrdad Sepahvand, mantan penasihat ekonomi Bank Sentral Iran, seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Pernyataan Sepahvand muncul beberapa jam setelah Trump mengancam akan melancarkan perang ekonomi dan isolasi skala besar terhadap Iran. Trump menyatakan bahwa rezim Iran berada di ujung tanduk menyusul kegagalan pembicaraan gencatan senjata. Pengumuman Trump ini merupakan perluasan dari kampanye tekanan ekonomi yang telah dijalankan pemerintahannya sejak April 2026 di bawah Operation Economic Fury, yang bertujuan memutus pendanaan terorisme global dan sumber pendapatan rezim Iran.

Kondisi Riil Masyarakat dan Resiliensi Perbankan

Berdasarkan data Bank Dunia, produk domestik bruto (PDB) Iran diperkirakan berkontraksi sebesar 2,7% pada tahun yang berakhir Maret 2026. Kontraksi ini disebabkan oleh gangguan ekonomi dari gelombang protes tahun sebelumnya dan meningkatnya ketegangan militer di kawasan.

Inflasi di Iran melonjak hingga 62,2% pada Februari 2026, dengan inflasi harga pangan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar 99%. Selain itu, seorang pejabat Iran mengindikasikan bahwa konflik yang terjadi telah menyebabkan hilangnya sekitar satu juta lapangan kerja.

Kendati demikian, Sepahvand, yang kini menjabat sebagai Direktur di Daric Investment Group, menilai bahwa ekonomi Iran memang memburuk di bawah tekanan sanksi, namun kondisinya masih jauh dari kata hancur. “Toko-toko masih dipenuhi makanan dan kebutuhan pokok, dan tidak ada tanda-tanda panic buying,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Meskipun ada ketidakseimbangan serius dalam sistem perbankan dan bahkan serangan siber yang parah, kepercayaan publik terhadap perbankan tidak runtuh, dan kami tidak melihat adanya penarikan dana massal (bank run). Meski harapan jelas melemah, hal itu belum sepenuhnya hilang. Jadi situasi di lapangan tidak seburuk yang dibayangkan.”

Ancaman Putusnya Jalur Perdagangan UEA

Ujian yang lebih berat bagi Iran justru datang dari Uni Emirat Arab. UEA, yang merupakan sumber impor terbesar Iran sebelum perang, pada Rabu lalu mengumumkan penghentian seluruh hubungan perdagangan dan keuangan dengan Teheran. Keputusan ini diambil akibat dugaan tembakan dua rudal balistik Iran ke wilayah Teluk tersebut.

“UEA adalah salah satu pintu gerbang keuangan utama Iran. Perkiraan kami kontraksi ekonomi saat ini sekitar minus 5%, dan (sanksi UEA) dapat memperburuk situasi,” jelas Sepahvand. Pemutusan hubungan ini dinilai akan menekan nilai tukar mata uang, meningkatkan biaya perdagangan, serta memicu inflasi selama dua kuartal ke depan.

Sebelumnya, Trump kembali memperingatkan negara mana pun yang memberikan “tali penyelamat” ekonomi kepada Iran akan menghadapi konsekuensi finansial yang berat. Trump meminta jalur seperti penyelundupan minyak, pertukaran mata uang, transfer tunai, rumah penukaran uang, pendaftaran kapal, hingga perusahaan cangkang segera ditutup total.

Di sisi lain, Sepahvand menilai tekanan ekonomi dan politik dari AS justru memperkuat posisi kelompok garis keras (hardliners) yang ingin dilemahkan AS, sekaligus menutup peluang kesepakatan damai. Beban terberat dari krisis ini pada akhirnya ditanggung oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan generasi muda Iran yang menghadapi lonjakan harga serta hilangnya lapangan kerja.

Ekonomi Iran telah beroperasi di bawah berbagai skema sanksi internasional selama lebih dari empat dekade, terutama sejak Revolusi Islam 1979 dan penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir JCPOA pada 2018. Pengalaman panjang terisolasi dari sistem keuangan global (seperti SWIFT) membuat Iran mengembangkan skema ekonomi bertahan (resistance economy), termasuk pemanfaatan pasar gelap, perdagangan barter, dan jaringan keuangan informal di negara-negara tetangga.

Dalam jaringan ekonomi tersebut, Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, secara historis berperan sebagai pusat re-ekspor dan hub keuangan krusial bagi pebisnis Iran untuk mengakses barang impor serta memutar valuta asing. Keputusan UEA untuk membekukan total hubungan dagang menandai perubahan geopolitik signifikan di kawasan Teluk, yang berpotensi menyumbat urat nadi logistik utama Iran.

Meskipun retorika perang ekonomi AS bertujuan menekan rezim agar menyerah, struktur ekonomi Iran yang telah terbiasa menghadapi krisis membuat dampaknya lebih banyak dirasakan langsung oleh populasi sipil dalam bentuk hiperinflasi dan penurunan daya beli.