— JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengumumkan langkah strategisnya untuk bertransformasi menjadi perusahaan yang fokus pada infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan menargetkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-batu bara dapat menyamai porsi bisnis batu bara pada tahun 2029.

Langkah ini menandai babak baru bagi emiten Grup Sinar Mas tersebut, yang selama ini identik dengan bisnis energi dan pertambangan batu bara. Manajemen menegaskan bahwa diversifikasi ini bukan berarti mengurangi porsi bisnis batu bara, melainkan mempercepat pertumbuhan di sektor digital, telekomunikasi, pusat data (data center), hingga energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Investasi dan Investor Relations DSSA, Daniel Cahya, menyatakan bahwa batu bara tetap menjadi fondasi utama perusahaan. Namun, investasi signifikan yang telah digelontorkan dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah komposisi bisnis perseroan.

“Target kami pada 2029 adalah pendapatan berasal 50% dari batu bara dan 50% dari bisnis non-coal. Bukan berarti pendapatan batu bara menurun, tetapi bisnis digital dan sektor lainnya yang tumbuh jauh lebih cepat,” ujar Daniel dalam sebuah podcast Samuel Sekuritas.

Saat ini, sekitar 90% EBITDA DSSA masih disumbangkan oleh bisnis batu bara melalui PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Namun, setelah berbagai aksi korporasi yang direncanakan pada 2025 dan 2026, kontribusi EBITDA dari bisnis non-batu bara diproyeksikan meningkat tajam.

“Tahun ini kami memperkirakan komposisi EBITDA sekitar 60% berasal dari batu bara dan 40% dari bisnis non-coal. Ke depan, targetnya bukan hanya EBITDA, tetapi revenue yang bisa menjadi 50:50,” tambahnya.

Transformasi ini didukung oleh investasi masif yang telah dilakukan perusahaan selama hampir satu dekade. Daniel mengungkapkan bahwa DSSA telah menginvestasikan sekitar US$ 2,8 miliar atau setara Rp 50 triliun untuk membangun ekosistem infrastruktur digital.

Investasi ini, menurut Daniel, bukan sekadar mengikuti tren AI yang sedang berkembang, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang telah dipersiapkan sejak lama. “Kami tidak tiba-tiba ikut tren AI. Investasi ini sudah kami lakukan hampir 10 tahun. Hari ini orang baru melihat seluruh ekosistemnya mulai tersambung,” jelasnya.

Bangun Ekosistem AI Terintegrasi

DSSA kini fokus membangun ekosistem AI yang terintegrasi, mencakup penyediaan energi, jaringan telekomunikasi, kabel bawah laut, satelit, fiber optic, hingga data center. Perseroan juga telah memiliki sejumlah aset digital strategis melalui MyRepublic, Moratelindo, SM+, PT ASIX Indonesia Cerdas (ASIX), Dana, Video, serta kepemilikan di XLSMART.

“Kami ingin menjadi perusahaan AI infrastructure yang paling lengkap di Indonesia. Jadi bukan membuat large language model seperti perusahaan teknologi global, tetapi menyediakan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan AI,” kata Daniel.

Salah satu proyek unggulan adalah pembangunan data center AI-ready di kawasan Kuningan, Jakarta, dengan kapasitas 40 megawatt yang seluruhnya sudah mendapatkan komitmen pelanggan (fully contracted). Kapasitas ini terdiri dari 10 MW edge data center, 10 MW Tier III data center, dan 20 MW Tier IV AI-ready data center, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

“Kami sangat senang karena data center kami sudah fully off-take sebelum beroperasi,” ungkapnya.

Belanja Modal Rp 13 Triliun untuk Ekspansi

Untuk mempercepat ekspansi, DSSA mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 13 triliun sepanjang 2026. Sebagian besar alokasi ini akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur digital.

Daniel menjelaskan bahwa sejak 2024, perseroan secara konsisten menginvestasikan dana sekitar US$ 500 juta hingga US$ 600 juta per tahun untuk memperkuat bisnis digital. “Kami terus membangun jaringan, data center, dan infrastruktur pendukung lainnya karena bisnis ini masih berada dalam fase pertumbuhan,” katanya.

Selain fokus pada sektor digital, DSSA juga memperluas portofolio energi bersih melalui pengembangan proyek panas bumi (geothermal) bekerja sama dengan First Gen. Perseroan telah memiliki tujuh wilayah kerja panas bumi yang sedang dalam tahap pengembangan, dengan target operasi komersial (commercial operation date/COD) pertama pada 2029.

Daniel menambahkan, pemilihan energi panas bumi didasarkan pada kemampuannya menghasilkan pasokan listrik baseload yang stabil selama 24 jam, berbeda dengan energi surya yang bergantung pada intensitas matahari. “Kami memang fokus pada bisnis yang menghasilkan baseload, baik batu bara maupun geothermal,” ujarnya.

Fundamental Keuangan Tetap Solid

Di tengah agresivitas investasi, DSSA memastikan kondisi keuangannya tetap terjaga. Daniel menyebutkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) perseroan masih berada di kisaran 0,6 kali, jauh di bawah batas konservatif industri. Perseroan juga telah mengantongi peringkat kredit Double A dari Pefindo.

“Kami masih memiliki ruang yang sangat besar untuk bertumbuh. Setiap investasi selalu melalui proses evaluasi yang ketat agar menghasilkan monetisasi yang optimal,” katanya. Daniel menegaskan bahwa transformasi DSSA bukan sekadar diversifikasi usaha, melainkan upaya membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital nasional.

“Kami membangun infrastruktur ini untuk Indonesia. Ketika adopsi AI semakin besar, kami berharap seluruh kebutuhan infrastrukturnya dapat didukung oleh DSSA,” tutupnya.