DailyFX.ID — JAKARTA – Perubahan kebijakan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk meningkatkan frekuensi pembagian dividen mulai tahun 2026 berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham BBCA. Kebijakan ini diperkirakan dapat mendorong harga saham BBCA menuju level tertingginya.
Mulai tahun 2026, emiten perbankan ini akan membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun, yaitu pada kuartal II, III, dan IV. Dividen final akan tetap dibagikan setelah penutupan tahun buku. Selain itu, rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) juga akan ditingkatkan menjadi sekitar 72% dari sebelumnya 68%.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai bahwa kebijakan ini dapat mempertahankan minat investor, terutama bagi mereka yang mengandalkan pendapatan tunai dari investasi saham. Pembayaran dividen yang lebih teratur akan membuat arus kas dari investasi menjadi lebih terprediksi.
Namun, Hendra mengingatkan bahwa frekuensi pembagian dividen bukanlah satu-satunya penentu keuntungan investor. Total dividen yang dibagikan dalam setahun, pertumbuhan laba perusahaan, kualitas fundamental, serta prospek bisnis BCA tetap menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan daya tarik saham BBCA.
Jika total dividen yang dibagikan relatif sama, pembayaran yang lebih sering utamanya memberikan manfaat dari sisi arus kas dan kenyamanan bagi investor. Kebijakan ini tidak secara otomatis meningkatkan nilai intrinsik perusahaan.
Hendra menambahkan, pembagian dividen yang lebih rutin dapat membantu meredam tekanan pada saham BBCA, namun efeknya dinilai tetap terbatas. “Bisa membantu, tapi tidak dapat menjadi benteng yang sepenuhnya menahan tekanan pasar,” ujarnya di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Harga saham pada dasarnya tetap dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran, sentimen pasar secara umum, kondisi sektor perbankan, suku bunga acuan, pertumbuhan laba, hingga pergerakan dana investor asing. Ketika tekanan jual meningkat, investor masih memiliki opsi untuk melepas saham meskipun prospek dividennya menarik.
“Dividen lebih tepat disebut sebagai shock absorber atau peredam guncangan,” tutur pendiri Republik Investor tersebut.
Tekanan harga yang sempat terjadi membuat valuasi BBCA menjadi lebih rendah. Pada harga Rp 6.450 per saham, rasio P/E (Price to Earnings) BBCA saat ini berdasarkan data trailing twelve months (TTM) adalah 13,7 kali. Sementara itu, rasio P/E forward mencapai 12,48 kali.
Rasio P/E forward yang lebih rendah dibandingkan P/E TTM mengindikasikan adanya ekspektasi pertumbuhan laba di masa mendatang. Kondisi ini membuat BBCA mulai menarik dari perspektif valuasi.
Menurut Hendra, jika fundamental perusahaan tetap kuat sementara valuasinya menurun, potensi risk-reward menjadi lebih menarik. Sebaliknya, valuasi yang lebih rendah belum tentu menandakan saham murah apabila penurunan tersebut disebabkan oleh perlambatan laba, peningkatan risiko kredit, atau memburuknya prospek industri perbankan.
Dari sisi analisis teknikal, pada harga BBCA sekitar Rp 6.450, strategi speculative buy dapat dipertimbangkan bagi investor dengan toleransi risiko yang melihat tanda-tanda stabilisasi setelah periode koreksi yang cukup panjang.
Target harga pertama ditetapkan di Rp 6.625, yang menawarkan potensi kenaikan sekitar 2,7% dari harga saat ini. Apabila momentum berlanjut dan level resistance berikutnya berhasil ditembus, target kedua dapat mencapai Rp 7.000, memberikan potensi kenaikan sekitar 8,5%.
Arus dana investor asing juga menunjukkan sinyal yang perlu dicermati. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net buy saham BBCA sebesar Rp 269 miliar pada perdagangan Jumat (21/8/2026).
“Jika akumulasi tersebut berlanjut, kondisi itu dapat menjadi sinyal positif karena menunjukkan mulai munculnya kembali minat investor asing terhadap BBCA setelah saham tersebut mengalami tekanan,” ujarnya.
Target Harga Rp 8.700
Sementara itu, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BCA (BBCA) dengan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp 8.700.
Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk proyeksi tahun 2027.
Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah jika pertumbuhan kredit melambat atau potensi memburuknya kondisi ekonomi makro secara keseluruhan.
Selama periode Januari hingga Juli 2026, BBCA berhasil membukukan laba bersih (bank only) sebesar Rp 35,3 triliun, yang masih sejalan dengan ekspektasi yang ditetapkan.
Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, mengungkapkan bahwa laba bersih BBCA hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 dan 59% dari target konsensus analis.
Selama tujuh bulan pertama tahun 2026 (7M26), laba bersih BBCA tercatat tumbuh 2% secara tahunan (*year-on-year*/yoy). Khusus pada bulan Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun, menunjukkan peningkatan 5% yoy atau 12% dibandingkan bulan sebelumnya (*month-on-month*/mom).
Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) atau pendapatan bunga bersih BBCA meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun pada Juli 2026. NII juga tumbuh 6% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara kumulatif selama 7M26, NII hanya mengalami pertumbuhan 0,3% yoy.
“Pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada net interest margin (NIM),” jelas Victoria dalam risetnya.
Ikuti DailyFX.ID
