— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan tren positif dengan diborong oleh investor asing dalam periode Juli hingga Agustus 2026. Total akumulasi pembelian bersih (net buy) investor asing mencapai Rp 2,14 triliun selama periode tersebut.

Perolehan ini merupakan pembalikan signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya di tahun ini, di mana saham BCA secara konsisten mencatat penjualan bersih (net sell) oleh investor asing. Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), saham BBCA menguat 0,78% ke level Rp 6.450. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 269,09 miliar pada hari itu, dengan total 100,68 juta saham diperdagangkan senilai Rp 648,87 miliar.

Di tengah minat investor asing yang meningkat, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga bersiap membagikan dividen interim kedua untuk tahun buku 2026. Total dividen yang akan dibagikan adalah Rp 3,07 triliun, atau setara dengan Rp 25 per saham. Keputusan ini telah disetujui oleh direksi dan dewan komisaris pada 19 Agustus 2026.

Cum date dividen interim di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 28 Agustus 2026. Daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen akan ditetapkan per 1 September 2026 pukul 16.00 WIB, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.

Beberapa pemegang saham utama yang akan menerima bagian dividen interim ini di antaranya adalah entitas yang terafiliasi dengan Grup Djarum, yaitu PT Dwimuria Investama Andalan, PT Caturguwiratna Sumapala, dan PT Tricipta Mandhala Gumilang. Dwimuria Investama Andalan, sebagai pemegang saham mayoritas dengan 54,94% saham, berpotensi menerima sekitar Rp 1,69 triliun. Sementara itu, Caturguwiratna dan Tricipta Mandhala masing-masing berpotensi meraup Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar.

Selain itu, konglomerat Anthoni Salim, yang memegang 1,15% saham BBCA, juga berpeluang mendapatkan jatah dividen sebesar Rp 35,4 miliar.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa pembagian dividen interim ini telah mempertimbangkan posisi permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, pengembangan bisnis perseroan, serta kualitas aset yang terjaga. Ia menambahkan bahwa nilai dividen yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya mencerminkan kinerja solid perseroan pada semester I-2026.

Seluruh dividen interim yang dibagikan pada tahun buku 2026 akan diperhitungkan dalam dividen final perseroan yang akan diajukan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2027.

Secara finansial, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba bersih (bank only) sebesar Rp 35,3 triliun selama Januari hingga Juli 2026. Angka ini masih sejalan dengan ekspektasi pasar. Laba bersih tersebut tumbuh 2% secara tahunan (year on year/yoy).

Pada Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 5,1 triliun, meningkat 5% yoy dan 12% month on month (mom). Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBCA juga meningkat 4% yoy menjadi Rp 7,1 triliun pada Juli 2026, meski secara kumulatif selama tujuh bulan pertama 2026, NII hanya tumbuh 0,3% yoy.

Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). NIM BBCA membaik menjadi 5,5% pada Juli 2026, namun secara kumulatif NIM masih turun 20 basis poin (bps) yoy menjadi 5,5%.

Meskipun demikian, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.700. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah perlambatan pertumbuhan kredit dan potensi memburuknya kondisi ekonomi makro.

Pada perdagangan Kamis (20/8/2026), saham BBCA ditutup menguat 1,59% ke level Rp 6.400, dengan penguatan 0,39% dalam sepekan terakhir.