— Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan “Saya adalah orang emas”, kini menunjukkan minat pada Bitcoin. Langkah ini menempatkan sang presiden sebagai katalis utama pergerakan harga Bitcoin pada tahun 2026.

Keputusan Trump untuk bertemu dengan para petinggi industri kripto seperti Coinbase, Payward, dan Blockchain.com di Gedung Putih menandai pergeseran strategi finansialnya. Bagi para pengamat, tidak ada kontradiksi antara kecintaan Trump pada emas dan dukungannya terhadap Bitcoin. Keduanya dianggap sebagai aset keras yang memiliki karakteristik serupa: kelangkaan, ketahanan terhadap inflasi, dan pasokan yang terbatas.

Emas telah lama menjadi benteng kekayaan karena jumlahnya yang terbatas, tahan lama, serta bebas dari cetak uang pemerintah. Bitcoin memiliki karakteristik serupa, dengan batas pasokan absolut yang tidak dapat ditandingi oleh tambang emas mana pun. Visi kebijakan Trump dinilai konsisten mengarah pada aset-aset yang tidak dapat terdevaluasi oleh kebijakan moneter.

Jika Amerika Serikat mengombinasikan cadangan emas resminya sebanyak 8.133 ton dengan program akumulasi Bitcoin strategis, negara tersebut akan menjadi pemegang cadangan dua aset langka terbesar di dunia. Strategi ini memosisikan AS di persimpangan antara sistem keuangan tradisional (old money) dan sistem keuangan digital (new money).

Dalam pertemuan dengan para pemimpin industri kripto pada 19 Agustus 2026, Trump mendesak Kongres AS untuk segera mengesahkan versi final dari Rancangan Undang-Undang CLARITY (CLARITY Act) sebelum batas waktu 15 September. Ketika ditanya mengenai rencana pembelian Bitcoin tambahan untuk cadangan strategis negara, Trump mengonfirmasi bahwa gagasan tersebut telah masuk dalam pembahasan internal. Ia juga mengungkapkan, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) sedang menyiapkan kerangka regulasi bagi bursa derivatif terdesentralisasi seperti Hyperliquid agar dapat beroperasi secara resmi di AS.

Pemerintah AS saat ini telah menguasai sekitar 328.000 BTC yang diperoleh dari hasil penyitaan penegakan hukum. Menyusul perintah eksekutif pada Maret 2025 yang membentuk Cadangan Strategis Bitcoin (Strategic Bitcoin Reserve) dan menghentikan lelang Bitcoin milik negara, opsi penambahan cadangan kini terbuka melalui pembelian aktif, bukan sekadar penyitaan.

Pengumuman dan sinyal kebijakan dari Gedung Putih merangsang lonjakan harga pada kedua instrumen investasi tersebut. Emas diperdagangkan di kisaran US$ 4.489 per ons, melonjak 66% dibandingkan posisi US$ 2.697 pada hari pelantikan Presiden Trump di Januari 2025. Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.589 per ons pada 28 Januari 2026 akibat ketegangan geopolitik dan pelemahan dolar AS.

Bitcoin melonjak ke level US$ 71.500, naik tajam dari posisi di bawah US$65,000 hanya dalam kurun waktu empat hari. Kenaikan ini didorong oleh aksi short squeeze terbesar sejak Oktober 2025 yang melikuidasi posisi bearish senilai US$ 1,74 miliar dalam 24 jam. Meski demikian, harga Bitcoin masih berada 43% di bawah rekor tertingginya di level US$ 126.000 pada Oktober 2025.

Kedua aset merepons dorongan fundamental yang sama, yaitu kepemimpinan politik yang berfokus pada hard assets, langkah Kementerian Keuangan AS yang menekan imbal hasil obligasi, serta kepastian regulasi aset digital yang kini menjadi prioritas nasional. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods pada 1971, mata uang dolar AS tidak lagi dijamin secara langsung oleh emas fisik. Namun, AS tetap mempertahankan cadangan emas terbesar di dunia sebagai instrumen kepercayaan dan stabilitas moneter jangka panjang.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi finansial dan adopsi aset digital global, muncul urgensi baru bagi negara-negara maju untuk mengamankan infrastruktur keuangan masa depan. Gagasan mengenai Cadangan Strategis Bitcoin (Strategic Bitcoin Reserve) menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan kas negara. Bitcoin, yang sering dijuluki sebagai emas digital, menawarkan sifat kelangkaan matematis (hard cap 21 juta koin) yang menjadikannya aset lindung nilai terhadap inflasi moneter. Integrasi aset kripto ke dalam neraca keuangan negara bersanding dengan cadangan emas konvensional menjadi strategi ganda AS untuk mempertahankan dominasi finansial global di tengah era digitalisasi aset.