DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana peluncuran operasi ekonomi paling keras yang pernah dilakukan terhadap suatu negara, yang ditujukan kepada Iran. Langkah ini disertai ancaman hukuman finansial berat bagi negara mana pun yang membantu Iran menghindari sanksi ekonomi.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan langkah ini akan menjadi bentuk perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengklaim angkatan laut, angkatan udara, dan fasilitas produksi militer Iran telah hancur, sementara mata uangnya menjadi tidak bernilai, dan rezim Iran saat ini berada di ujung tanduk.
Trump menegaskan lembaga keuangan, bisnis, bandara, maupun entitas pemerintah dari negara mana pun yang mencoba memberikan “tali penyelamat” bagi Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar. Trump menyoroti beberapa jalur yang diminta segera ditutup total, antara lain penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang (currency swap), transfer tunai, rumah penukaran uang (exchange houses), pendaftaran kapal, hingga perusahaan cangkang (front companies). Ia menekankan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.
Pengumuman ini memperluas kampanye tekanan ekonomi yang dilancarkan pemerintahan Trump sejak April 2026 di bawah sandi Operation Economic Fury. Operasi tersebut bertujuan memotong pendanaan teror global dan sumber pendapatan rezim Teheran.
Respons Iran: Tuding AS Lakukan ‘Terorisme Ekonomi’
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menolak keras ancaman yang ia sebut sebagai “Economic D-Day” tersebut. Araghchi menilai retorika Trump hanyalah pengalihan perhatian dari krisis internal AS yang tengah dihadapi, seperti pembengkakan utang dan kenaikan suku bunga.
“Meneruskan kebijakan yang gagal hanya akan membawa kekalahan yang lebih besar serta memicu permusuhan dari rakyat Iran,” tegas Araghchi melalui unggahannya di platform X. Araghchi juga menuduh AS melakukan “terorisme ekonomi” dan memperingatkan kampanye tersebut mengancam stabilitas ekonomi global serta kedaulatan negara-negara lain. Menurutnya, eskalasi sanksi yang terus diulangi AS setiap kali gagal mengubah posisi Iran justru menjadi penghalang utama bagi solusi damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama enam bulan ini.
UEA Hentikan Perdagangan, Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat
Eskalasi hubungan ini terjadi sehari setelah Uni Emirat Arab (UEA), salah satu mitra dagang terpenting Iran, memutuskan untuk menghentikan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran. Langkah ini diambil UEA setelah mengklaim adanya dua rudal balistik Iran yang ditembakkan ke wilayahnya. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai aksi false flag (operasi bendera palsu).
Sebelum konflik pecah, UEA merupakan sumber impor terbesar bagi Iran, dengan menyumbang lebih dari 30% dari total impor Iran pada 2024 berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kendati demikian, para pengamat menilai kunci tekanan terbesar AS sebenarnya berada di tangan China, yang memiliki hubungan finansial, logistik, dan perdagangan paling mendalam dengan Iran. Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mencatat pihak China sebelumnya telah menunjukkan kesiapan untuk melakukan aksi balasan terhadap tekanan AS.
Dampak terhadap Pasar Minyak dan Saham Global
Pasar minyak mentah diprakirakan relatif tenang menanggapi ancaman sanksi ini, kecuali jika para pemimpin garis keras Iran membalas dengan eskalasi militer. “Pasar minyak menjadi sedikit kurang optimistis terkait pembukaan kembali Selat Hormuz secara berkelanjutan dalam waktu dekat,” ujar McNally.
Berdasarkan data Lloyd’s List Intelligence, lalu lintas pelayaran kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada jauh di bawah level normal pra-perang. Hal ini disebabkan oleh aksi penyerangan kapal oleh Iran serta blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Data awal menunjukkan hanya ada 73 perlintasan kapal pada pekan yang berakhir 16 Agustus 2026, turun dari 91 perlintasan pada pekan sebelumnya.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah berjangka Brent naik 0,5% menjadi US$ 92,09 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,3% ke level US$ 86,07 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS (US stock futures) memangkas keuntungan awal setelah pengumuman Trump, dengan indeks S&P 500 bergerak relatif stagnan.
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran telah berada dalam eskalasi ketegangan selama bertahun-tahun, terutama sejak AS menarik diri secara sepihak dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018. Sejak saat itu, pihak AS menerapkan strategi tekanan maksimal (maximum pressure campaign) melalui sanksi ekonomi gelombang demi gelombang guna melumpuhkan pendapatan ekspor minyak utama Teheran dan menekan program pengayaan uraniumnya.
Konflik semakin meruncing dalam enam bulan terakhir setelah ketegangan militer di kawasan Timur Tengah meluas hingga melibatkan jalur pelayaran vital dunia, khususnya Selat Hormuz. Selat ini merupakan titik penyempitan strategis (chokepoint) paling krusial di dunia yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total konsumsi minyak mentah global setiap harinya. Aksi saling balas berupa serangan terhadap kapal tanker komersial, blokade laut oleh Angkatan Laut AS, serta keterlibatan negara-negara Teluk seperti UEA semakin memperrumit konstelasi geopolitik kawasan. Di sisi lain, keberadaan negara penyerap ekspor minyak Iran seperti China menjadi faktor penentu utama efektif atau tidaknya embargo ekonomi yang diterapkan oleh AS.
Perang ekonomi yang diumumkan ini menandai babak baru dalam upaya AS mengisolasi Iran secara penuh dari sistem keuangan internasional.
Ikuti DailyFX.ID
