— Angkatan Bersenjata Iran pada Rabu (19/8/2026) mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan Teluk agar tidak memberikan bantuan kepada militer Amerika Serikat (AS). Peringatan ini disampaikan beberapa jam setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pemutusan hubungan ekonomi dengan Teheran, menyusul dugaan serangan terhadap jalur pelayaran.

Kawasan Teluk merupakan lokasi bagi sejumlah pangkalan militer AS, termasuk yang berada di UEA. Pemerintah UEA menuding Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah kapal-kapal di lepas pantainya pada Selasa. Meskipun ketegangan antara AS dan Iran sempat mereda, Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang pernah diblokade Teheran dan harus dilalui kapal-kapal dari pelabuhan UEA, tetap menjadi titik panas. Serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut dilaporkan terus berlanjut.

Kerangka kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur perdagangan penting itu telah runtuh. Meskipun kedua pihak sempat menyatakan adanya pertukaran pesan diplomasi, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8/2026) menegaskan negosiasi telah batal. Trump bahkan sempat memicu kontroversi di media sosial dengan mengunggah gambar Selat Hormuz dan mengklaimnya sebagai “Wilayah Baru AS”.

Iran Tuding Negara Teluk Fasilitasi Militer AS

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa segala bentuk bantuan kepada militer AS akan dianggap sebagai keterlibatan langsung dalam agresi. “Bantuan atau fasilitas apa pun yang diberikan kepada militer AS yang menjadi pemicu agresi sama saja dengan berpartisipasi dalam operasi militer AS,” ujar Abdollahi, dikutip dari kantor berita Mehr.

Konflik bersenjata antara Iran dan AS pecah sejak 28 Februari 2026, diawali oleh serangan bersama AS dan Israel ke wilayah Iran. Pihak Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai titik di kawasan Teluk. Sejak perang dimulai, banyak negara Timur Tengah menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah mereka dijadikan pijakan peluncuran serangan oleh AS. Namun, Abdollahi meragukan komitmen tersebut.

“Sangat tidak mungkin sejumlah besar pesawat militer, terutama pesawat pengisi bahan bakar (refueling), dapat hadir di pangkalan-pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah. Negara-negara tetangga Teluk Persia harus tahu bahwa kami memantau situasi ini secara penuh,” tegasnya.

Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain sempat menggempur beberapa target di Iran sebagai balasan atas serangan Iran. Meskipun demikian, negara-negara Teluk tersebut secara umum membantah kabar itu.

UEA Hentikan Seluruh Transaksi Perdagangan

Pada Selasa, UEA resmi menghentikan seluruh aktivitas ekonomi dengan Iran. Langkah ini diambil setelah tensi keamanan di kawasan semakin tidak menentu. “Mengingat eskalasi regional yang terjadi, seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran dihentikan sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ungkap Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA, Afra Al Hameli.

Keputusan ini menyusul tuduhan pemerintah UEA bahwa Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah wilayahnya. Dua rudal tersebut dilaporkan mengincar kapal pelayaran dan jatuh di laut, dengan salah satunya mendarat di perairan teritorial UEA. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membantah keras tuduhan tersebut dan menyatakan Iran tidak pernah meluncurkan rudal ke arah UEA.

Pemutusan hubungan ekonomi ini menjadi pukulan berat bagi ekonomi Iran yang sedang dijatuhi sanksi oleh AS. Selama ini, UEA merupakan salah satu mitra dagang utama Iran dan menjadi rumah bagi komunitas warga Iran dalam jumlah besar. Keputusan ini melengkapi langkah diplomasi UEA sebelumnya yang telah menarik duta besarnya serta menutup sekolah dan rumah sakit yang terhubung dengan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, kapal tanker milik perusahaan minyak negara UEA, ADNOC, juga berulang kali menjadi sasaran serangan.

Trump Tegaskan Tidak Ada Negosiasi

Di sisi diplomasi, proses damai masih menemui jalan buntu. Meskipun utusan khusus AS, Jared Kushner, sempat menyebut adanya diskusi yang aktif dan positif, Presiden Donald Trump membantah hal tersebut. “Tidak ada pembicaraan atau diskusi yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh,” tulis Trump di media sosial, merujuk pada pembalasan blokade pelabuhan Iran oleh AS.

Saat ini, operasi militer AS dilaporkan mulai melambat. Laporan media AS menyebutkan perang ini telah menguras stok amunisi penting militer AS, meskipun klaim tersebut dibantah oleh Trump dan Departemen Pertahanan (Pentagon). Untuk memperkuat posisinya, kapal induk USS George Washington dikirim ke Misi Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.

Selat Hormuz merupakan urat nadi utama perdagangan energi dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Diperkirakan sekitar seperempat dari total pasokan minyak mentah dunia serta komoditas gas alam cair (LNG) melewati selat sempit yang diapit oleh Iran dan Oman ini setiap harinya. Eskalasi militer yang berlanjut sejak awal 2026 telah mengganggu stabilitas rantai pasok energi global secara signifikan. Blokade laut dan serangan balasan terhadap kapal-kapal komersial tidak hanya melonjakkan harga minyak dunia dan biaya asuransi pelayaran, tetapi juga memaksa negara-negara tetangga Teluk berada di posisi dilematis, yakni menjaga hubungan keamanan strategis dengan AS atau menghindari konfrontasi langsung dengan Iran yang berisiko merusak infrastruktur vital mereka.