— RIYADH – Pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak atau drone milik kelompok Houthi yang hendak memasuki wilayah udara Kota Makkah. Insiden ini menandai pertama kalinya eskalasi pertempuran mendekati pusat keagamaan umat Islam tersebut sejak konflik regional memanas.

Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, Turki al-Malki, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan provokasi yang disengaja terhadap perasaan jutaan umat Islam di seluruh dunia. Ia menyatakan, keselamatan dan keamanan Kota Makkah adalah garis merah yang tidak dapat ditawar.

Pihak Houthi membantah tuduhan tersebut secara tegas. Juru bicara Houthi, Hazem al-Assad, menyatakan tuduhan mengenai serangan ke Makkah adalah kebohongan usang yang kerap diulang dan tidak lagi dapat dipercaya. Sementara itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengeluarkan pernyataan kecaman keras terhadap ancaman serangan tersebut dan menilai aksi Houthi semakin membahayakan stabilitas kawasan.

Buntut dari peristiwa ini, otoritas Arab Saudi menetapkan status siaga tinggi di Makkah. Peringatan keamanan ini merupakan yang pertama kali diterbitkan sejak percobaan serangan rudal balistik oleh Houthi pada tahun 2017.

Perkembangan ini juga menguji efektivitas pakta pertahanan baru antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang diwarnai ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi PBB pada April 2022 sempat menekan intensitas konflik, situasi kembali memburuk sejak kelompok Houthi memblokir jalur pelayaran Arab Saudi pada Juli 2026 serta menguasai posisi strategis di pesisir Bab al-Mandeb. Puncak eskalasi terjadi pada awal September melalui gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar berbagai wilayah Kerajaan.

Eskalasi militer ini berdampak langsung pada sektor energi. Serangan terhadap pipa minyak East-West Pipeline, yang dikaitkan dengan kelompok milisi di Irak, sempat melumpuhkan distribusi 4 juta barel minyak per hari. Gangguan pada jalur distribusi vital serta dinamika di Selat Hormuz menekan pasar global, dengan harga minyak mentah jenis Brent bertahan di kisaran US$ 107,8 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di level US$ 104,6 per barel.

Konflik di Yaman yang berlangsung sejak 2015 telah berkembang dari krisis domestik menjadi panggung persaingan geopolitik regional yang melibatkan banyak aktor internasional. Kegagalan mempertahankan gencatan senjata jangka panjang memicu kembali rentetan serangan yang menyasar infrastruktur strategis dan wilayah pemukiman di Arab Saudi.

Ancaman terhadap fasilitas vital seperti East-West Pipeline serta gangguan navigasi di Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz menempatkan rantai pasok energi dunia dalam risiko tinggi. Dengan volume lalu lintas kapal tangki minyak yang belum sepenuhnya pulih, eskalasi militer yang merembet hingga ke kawasan pusat keagamaan dan jalur logistik utama berpotensi memperpanjang krisis keamanan serta memicu ketidakpastian harga komoditas global.